Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Tidak Sopan.


__ADS_3

              Lee menyalakan senter itu dan menaruhnya di atas nakas samping ranjang, Cahaya dari senter itu memecahkan kegelapan di dalam kamar bagi Emila asalkan tidak terlalu gelap rasa takut yang tadinya menyelimuti tubuhnya sedikit lebih hilang.


Lee menaruh guling sebagai pembatas seperti yang sebelumnya Emilia lakukan karena Lee berpikir jika wanita itu tidak akan pernah mau tidur dengan jarak yang sangat dekat dengannya. Tak di sangka Emilia langsung mengambil guling yang sebelumnya Lee taruh di tengah tempat tidur itu sebagai pembatas, malah di ambil oleh Emila kemudian menaruhnya ke sisi ranjang agar jika ada hantu nakal yang mau menyentuhnya tidak akan bisa karena terhalang oleh guling yang ada di depannya. Kira\-kira seperti itu yang ada di dalam pikiran Emilia saat ini.



Gadis ini sangat polos atau sedikit bodo\*\* atau hal itu dia percayai agar malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak.


      “Biarkan saja jangan taruh penghalang aku takut, bukankah kau tadi bilang jika dulu rumah ini adalah bekas pemakaman pasti banyak hantu yang bergentayangan dan aku sangat takut,” ucap Emilia sembari menoleh kesana kemari dengan mimik wajah kelihatan ketakutan. Membuat Lee sebisa mungkin menahan tawanya dalam hati karena Emil melihat sangat lucu jika sedang ketakutan seperti ini.


          “Aku tidak mau tidur dekat-dekat denganmu, Kau sangat kecil dan aku tidak tergoda” ucap Lee dengan mengigit bibirnya menahan tawa nakal yang sejak tadi ingin semakin keluar dari tengorokannya.


Emil langsung melotot saat wanita itu menatap Lee melihat gunung kembarnya sekilas, "Jangan penglihatan mu itu," tanda Emil dengan nada suara terdengar separuh tertahan di tenggorokannya.



Emilia tidur dengan tidak menaruh pembatas di antara mereka namun tidak lama setelah itu lampu senter justru padam karena kehabisan baterai dan selama dua jam lampu belum juga menyala, Emilia masih belum bisa tidur dan karena rasa takut jika nantik akan ada tangan dari bawah kolong tempat tidur


yang memegagi tubuhnya waniat itu mulai terbayang hal-hal mengerikan lainnya.


Padahal di depannya sudah di kasih guling namun di bawah kakinya tidak ada penghalang dan itu membuat hati Emilia merasa tidak tenang.


     Bayangan akan film horror yang pernah wanita itu tontan dengan para sahabatnya semakinnmembuat bulu kuduk Emilia merinding semua, Emil tidur dengan jarak yang sangat dekat dengan Lee, sedangkan Lee mengeryitkan keningnya heran dengan sikap wanita itu yang semakin tidak menjaga jarak sama sekali dengannya. Ternyata ini sikap Emila yang sedang ketakutan.


       Pagi hari Emilia masih memejamkan matanya, wanita itu merasakan jika di sebagian tubuhnya terasa berat Emilia mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, tangan wanita itu membuka selimut yang menutupi separuh tubuhnya dia melihat kaki pria itu sedang berada di atas kakinya. Lee pasti mengira jika Emil itu adalah guling dan tangan pria itu juga berada di gunung kembar Emilia. Tangan itu tidak bergerak pasti karena Lee tidak sadar dengan apa yang dia sentuh saat ini sebab pria itu tertidur dengan sangat nyenyak.

__ADS_1


      Emil langsung menegrutkan keningnya dan berteriak dengan sekencang-kencangnya, “Dasar tidak tau sopan, pergi jauh-jauh dariku.” Wanita itu bicara dengan menjauhkan tubuh Lee dengan kasar sampai pria yang sedang tertidur lelap tersebut melotot kaget


dengan mengeryip-ngeryipkan matanya.


       Lee beranjak duduk dari posisi tidurnya dan langsung melotot pada Emila yang juga sedang melotot marah padanya! Pertengkaran di pagi hari itu sudah tidak bisa terelakkan lagi. Ruangan kamar yang tadinya kelihatan romantis dan nuansa pengantin baru sangat nyata terlihat di dalam kamar tersebut. Namun semuanya hilang seketika saat pasangan pengantin baru itu bangun dari tidurnya.


        “Kau berani sekali menyentuhku! Ingin sekali rasanya aku potong tangan mu itu,” gerutu Emilia bicara dengan mata terbuka lebar-lebar sembari menaruh kedua tangannya di pinggang.


       “Aku mana mau menyentuh, kecil begitu!” sambung Lee dengan menatap ke arah gunung kembar Emil yang memang terlihat tidak terlalu besar namun masih tetap kelihatan berisi.


       “Apa yang kau lakukan, dengan apa yang aku rasakan itu berbeda, kau itu pria hidung belang sama seperti yang lainnya entah berapa wanita yang sudah kau tiduri selama ini,” gerutu Emilia asal bicara dengan beranjak berdiri dari tempat tidurnya.


      “Itu bukan urusan mu, Asal kau tau saja aku semalaman tidak bisa tidur karena kau itu terus menendangku dan juga tidak membiarkan aku tidur nyenyak, ingin rasanya aku mengikat kakimu itu agar tidak merepotkan menyakiti orang lain.” Lee bicara dengan mengeraskan rahangnya menatap ke arah Emilia.


      Emilia hanya bisa diam dengan menarik salah satu senyuman sinisnya, dia menyadari jika selama tidur wanita itu tidak bisa diam dia akan bergerak kesana kemari mencari


         Emila masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Lee senyum-senyum sendiri di atas tempat tidur dia membayangkan bayaimana bisa dia menyentuh gunung kembar waniat itu. Lee segera mengeleng-ngelengkan pelan kepalanya tanda jika dia tidak ingin membayangkan


lebih jauh lagi apa yang sedang dia pikirkan.


            Sarapan pagi.


       Emil sudah terbiasa dengan perkerjaan yang berat, dia bahkan tidak memerlukan pembantu di dalam rumahnya karena wanita itu sudah bisa mengurus semuanya sendiri, Lee hendak berangkat ke kantor namun Emilia segera menarik tangannya walaupu rasa marah sedang menguasai hati wanita itu namun jika teringat asal muasal rumah


tersebut Emilia jadi tidak berani di tinggal di dalam rumah sendirian. Emil meminta Lee agar di ajak ke kantor dan Lee pun mengiyakannya karena pria itu tau jika Emil tidak akan berani tinggal di rumah ini.

__ADS_1


     Grup Back.


          Lee masuk ke dalam kantor itu dan semua pegawai langsung membungkukan badanya, Emilia berjalan dengan menundukkan kepalanya dan tanpa sengaja Emilia menabrak seorang wanita yang e


sedang berjalan tanpa melihat arah, wanita cantik dan juga masih sangat mudah itu sedang membaca berkas yang ada di dalam tangannya.


      Semua pegawai menatap kearah Emila yang langsung mengambil berkas yang jatuh berserakan di lantai pualam lobby utama dengan gesit, sekejap saja berkas-berkas itu sudah berhasil Emilia kumpulkan sedangkan wanita yang tak sengaja menabrak Emilia


tadi malah menyilangkan kedua tangannya di perut dengan tatapan sinis melihat kearah Emilia.


       Lee masih tidak menyadari apa yang terjadi di belakangnya, Lee berjalan dengan sangat cepat sampai membuat Emil kesulitan menguikuti langkah kakinya itu.


       “Ini Nona berkas anda,” ucap Emilia sembari menyodorkan berkas yang ada di dalam tangannya.


       “Kalau jalan itu pakai mata,” maki wanita cantik itu dengan masih melotot dan juga sangat sombong.


     Wanita itu bernama Sena, dia adalah wanita paling cantik di dalam kantor itu dan juga sangat akrab dengan Lee, Sena tidak tau jika wanita yang sedang dia maki adalah


istri dari pemilik perusahaan itu. Di dalam kantor ini tidak ada yang berani


menentang ke inginan Sena sebab semua orang takut jika sampai Sena mengadu pada


presdir Lee maka semua urusan akan bertambah besar dan membuat mereka semua terkena dampak yang besar.


Lee menghentikan langkahnya dan pria itu langsung memicingkan matanya saat melihat Sena marah pada istrinya.

__ADS_1



APA YANG AKAN DI LAKUKAN OLEH LEE SELANJUTNYA. . .


__ADS_2