Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Keberadaan Helena


__ADS_3

Melihat ketulusan di setiap kata yang keluar dari bibir, Jhong itu membuat, Jim tidak tega untuk menolak permintaanya, Jim mendorong


kursi roda Jhong mendekati ranjang putrinya, sedangkan disisi lain Narra sedang memeluk Una dan Lee memeluk tubuh Park yang masih sesenggukan.


“Sayang, lihatlah ini, Papa Jhong sampai keluar dari ruangannya karena ia ingin melihat kamu membuka mata.” Pria itu menatap kearah jam dinding sekarang sudah 23 jam semenjak sang putri menutup mata.


Memegang tangan Emilia dengan lembut sembari berkata, “Bangunlah


sayang, jangan membuat kami semua takut. Jika saja, Tuhan mengijinkan aku untuk menggantikan posisi kamu, Papa akan rela dengan senang hati.” Una mendengar perkataan suaminya dengan menahan pilu sedangkan Lee hendak membuka mulutnya untuk berbicara namun Jim sudah mendahuluinya.


“Kamu jangan berkata seperti itu, kau juga sangat penting bagi kami semua." Jim memegang pundak Jhong dengan tatapan sendu.


“Aku sudah lama sakit dan merepotkan banyak orang, mungkin


ini sudah waktunya untuk aku pergi. Namun Emil masih sangat mudah dan ia memiliki masa depan yang cemer …,” ucapan Jhong langsung terhenti saat Narra berteriak histeris.


“Una, bangunlah,” teriak Narra dengan menepuk pelan pipi besannya.


Lee langsung membopong tubuh mamanya keluar ruangan untuk di


periksa oleh dokter, Park segera mendorong kursi roda Jhong untuk mengikuti kakaknya, sedangkan Narra dan juga Jim memilih untuk tetap tinggal di dalam ruangan sang putri, takut jika gadis kesayangan mereka membuka mata malah tidak menemukan siapapun di sana.


Selang beberapa waktu kemudian.


Una kembali ke dalam ruangan Emil bersama suami dan juga dua


anaknya. Una kehabisan cairan dan juga merasa tertekan dengan perkataan Jhong tadi. Tapi sekarang kondisinya sudah lebih baik setelah ia mendapatkan cairan infus.


“Pa, bagaimana ini, kurang beberapa menit lagi waktunya namun putri kita masih juga belum membuka mata,” ucap Narra dengan memegangi tangan putrinya.


“Lebih baik kita semua berdoa apapun yang sedang, Tuhan

__ADS_1


rencanakan semoga saja itu yang terbaik untuk Emilia,” ucap Jim. Hatinya sangat hancur tapi manusia tidak bisa membalikkan takdir jadi apa yang terjadi biarkan tuhan saja yang menentukan.


“Sayang, bangunlah aku mohon, aku hidup tapi mati tanpa adanya kamu di sisiku,” batin Lee dengan menatap sang istri.


Ruangan ini terlihat sepi hanya terdengar mesin detak jantung saja yang menandakan jika Emil masih hidup, semua orang bergantian


menatap kearah jarum jam yang berdetak semakin cepat menurut mereka namun Emil masih belum ada tanda-tanda membuka mata. Ruangan yang tadinya terlihat sunyi


dan juga sepi dengan sekejap di penuhi dengan isak tangis, karena Emil ternyata melewatkan waktunya. Beberapa dokter dan juga suster masuk kedalam ruangan tersebut untuk melihat kondisi Emilia dan seperti yang mereka bilang


sebelumnya. Jika Emil masih tidak membuka mata sampai 24 jam maka hanya tuhan saja yang tahu kapan gadis itu akan kembali melihat dunia. Secara tidak langsung mereka juga mengatakan jika kehidupan Emil hanya bergantung pada alat-alat yang menancap di tubuhnya.


“Dokter, jika kau mengatakan begitu sekali lagi. Aku akan membunuh kamu,” ucap Lee hendak menghampiri dokter tersebut namun Una langsung


memeluk tubuh putranya.


“Kalian semua bisa pergi.” Jim angkat bicara. Ia juga merasa sedih namun tidak bisa menyalakan para medis yang sudah membantu putrinya


dengan segenap hati mereka.


tangisnya.


“Temukan orang yang sudah berani membuat istri kamu seperti ini.” Narra berbicara dengan bibir yang gemetar. Ia menatap kearah Lee dengan


penuh perintah.


“Baik, Ma.” Lee mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan seperti iblis yang begitu menakutkan sekali.


Lee melangkah mendekati Istrinya, ia mengecup puncak kepala sang istri kemudian mengecup kedua matanya yang masih tertutup, Lee berbisik


lirih di telinga Emilia, “Aku akan menunggu kamu sampai bangun sehari, dua hari, seminggu atau bahkan bertahun lamanya. Tapi kau harus janji padaku, jika kamu akan bangun, Sayang.” Lee mengecup lembut pipi Emilia.

__ADS_1


Satu tetes cairan bening jatuh kembali ke pipi Emil, Lee mengusapnya sembari berkata, “Akan aku hancurkan dia yang berani menyakiti kamu sampai tidak ada lagi orang yang berani menyakiti kamu dan juga keluarga besar kita.” Kilatan keji dan juga sorot mata membunuh membuat siapa saja akan merinding melihatnya.


Helena benar-benar sudah gila dia berani membangunkan singa


jantan yang sudah tertidur lama. Helena kau akan mendapatkan hukuman yang pedih bahkan tidak pernah kamu bayangkan, dan lebih tragisnya lagi kedua orangtua


kamu dan semua orang yang dekat dengan kamu akan mendapatkan imbasnya termasuk kedua sahabat kamu yang pernah menyakiti Emilia secara tidak langsung.


_ _ _


Helena sedang minuman alkohol di club malam dengan begitu santainya, ia masih tidak sadar dengan apa yang terjadi. Ia bahkan terus mengumpati Emilia dan menyumpahi agar musuhnya itu mati saja, beberapa orang yang baru masuk kedalam club malam ini melihat Helena sembari mengamati ponsel mereka. Tentu saja mereka senang karena gadis yang sedang ada di berita pencarian orang tidak sengaja mereka temukan di club malam ini, mereka akan


menjadi jutawan mendadak hanya dengan memberitahukan keberadaan Helena di club ini.


Selang beberapa waktu, Lee, Park dan juga beberapa pengawal datang ke dalam club malam ini. Suara musik yang begitu kenyang langsung lenyap


ketika sorot mata Lee menatap sang DJ cantik yang langsung membeku di posisinya dan segera mematikan musik yang ia mainkan. Semua orang langsung keluar dari club malam dengan suka rela dan Asisten Luwis segera memberikan imbalan pada


orang yang memberitahukan keberadaan Helena.


“Park, lakukan.” Lee tidak bisa menyakiti wanita namun adiknya bisa melakukannya dengan suka rela.


“Baik.” Park yang biasanya terlihat manis dan juga anggun kita terlihat menakutkan sekali, kebencian terlihat jelas dari manik matanya yang seakan membakar tubuh Helena dengan percikan api yang terpancar dari kornea matanya.


“Biarkan dia,” perintah Lee. Semua pengawal yang hendak memegang Helena langsung menghentikan niat awalnya.


“Helena, kau masih mengingatku?” tanya Park sembari menarik satu kursi untuk ia duduki.


Mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat siapa yang berbicara, karena pengaruh alkohol yang terlalu banyak masuk kedalam tubuhnya pandangan Helen kurang jelas, “Park, kau Park, ya itu benar,” ucap Helen dengan wajah tidak berdosa nya yang semakin membuat Lee emosi.


“Kau melukai sahabatku,” ucap Park dengan mengusap cairan bening di pipinya.

__ADS_1


“Dia pantas mendapatkannya, dia lebih baik ma …,” ucapan Helena terhenti ketika Park menendang keras kursi Helen dari bawah meja sampai gadis itu terjatuh kebelakang bersama dengan kursi yang ia duduki.


Komentar yang banyak ya. Enaknya di kasih hukuman apa ini Helena? Author semakin semangat untuk menyelesaikan buku ini kalau kalian mau komentar tentang bagaimana kerjasama kalian setelah membaca episod ini


__ADS_2