
Jhong ikut mendudukkan tubuhnya di samping Una. Jhong tidak bicara dia melihat kehakaman rumah Una yang kosong melompong itu. Karna Jhong datang diantar oleh Asistennya, dan dengan sengaja Jhong meminta Asistennya itu untuk pulang lebih.
CLETAR CLETAR CLETAR!
Bunyi petir yang menyambar-nyambar di langit malam, angin berhembus semakin kencang dan pohon-pohon yang berada dihalaman rumah Una seakan sedang berjoget kesana kemari. Hawa semakin dingin diluar rumah sepertinya akan turun hujan, karna sang bulan dan bintang sudah mulai bersembunyi dibalik awan hitam yang menambah gelap langit malam. Ketika para penduduk bumi sudah banyak yang bermain di dunia mimpi kedua insan manja ini masih sibuk menjelaskan tentang hubungan mereka bahkan detak jam yang berjalan pun tidak dihiraukan keduanya atau paling tepatnya jika Una menghindari Jhong hari ini maka besok pria itu akan datang lagi untuk membicarakan hal yang sama.
"Kenapa aku begitu bodoh selama ini aku mengira Jhong telah hidup bahagia bersama Yera dan membangun sebuah istana indah yang disebut dengan keluarga! Aku mengira Jhong hidup bahagia di atas penderitaan ku tapi aku tak menyangka selama ini akulah yang sudah salah faham. Semenjak aku meninggalkan Seoul Jim selalu mencari cara untuk memberitahuku mengenai semua kebenaran ini tapi kenapa aku begitu egois dan tidak pernah mau mendengarkan apa yang coba Jimmi katakan padaku.
Selama ini aku terus membenci Jhong tanpa alasan tapi siapa sangka jika orang yang selama ini aku benci malah masih sangat mencintaiku bahkan dia sangat menantikan akan kehadiranku kembali kedalam sisinya. Aku sungguh malu dan membenci diriku sendiri karna aku sudah memisahkan Lee dari ayahnya selama tujuh tahun lamanya.
aku membiarkan Lee hidup tanpa kasih sayang dari Jhong selam bertahun-tahun padahal aku sangat tahu dengan jelas jika Lee ingin sekali bertemu dengan ayah kandungnya selama ini. Aku juga tau jika diam-diam Lee sering bertanya mengenai ayah kandungnya pada Jim di belakang ku, karna Lee tidak ingin melihatku semakin merasakan sedih karna mengingat tentang ayah kandungnya."
Una bergumam dalam hati sembari menundukkan pandangannya sedangkan Jhong masih tak bergeming menatapnya dari samping.
"Una, aku dengar dari Senjoo kau memiliki seorang putra. Apakah itu benar?"
__ADS_1
"Ya!"
"Apakah anak kecil yang tadi memelukmu itu dia?" Tanya Jhong sembari mengerutkan dahinya menatap kearah Una. Tanpa menjawab Una hanya bisa menganggukkan pelan kepalanya menandakan jika apa yang Jhong pikirkan itu benar adanya.
"Apa yang dilakukan Jim selama tujuh tahun lamanya? Kenapa dia sampai bisa membiarkanmu bersama pria lainnya?" Tanya Jhong yang masih merasa penasaran dengan apa saja yang dilakukan oleh Una tujuh tahun belakangan saat jauh darinya.
"Itu bukan urusanmu! Hubungan kita sudah lama usai Jhong." Ucap Una sembari beranjak berdiri dari posisi duduknya.
"Kau masih istriku yang sah secara hukum Una! Jangan coba mengelak," Ucap Jhong sembari ikut beranjak berdiri dari posisi duduknya.
"Aku memiliki seorang putra, dari laki-laki brensek yang menelantarkan ku beberapa tahun yang lalu saat aku hamil." Ucap Una sembari berdiri membelakangi Jhong back.
"Aku tidak perduli asalkan kamu adalah ibu dari anak itu. Aku akan menganggapnya sama seperti putra ku sendiri." Ucap Jhong dengan raut wajah terlihat bersungguh-sungguh.
Jhong berjalan mendekati Una dan dia memeluk tubuh Una dari arah belakang. Jhong belum tau jika pria brensek yang Una maksud adalah dirinya sendiri, entah apa yang akan Jhong lakukan jika mengetahui akan hal tersebut. Jhong memiliki banyak teman wanita tapi Jhong tak pernah menjalani hubungan dengan mereka dan Yera kini mungkin sudah hidup bahagia bersama pria lainya karna 4 tahun yang lalu Jhong mendapatkan kabar jika Yera telah menikah dengan pilihan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Bahkan Yera di larang masuk kedalam Seoul selama 20 tahun lamanya namun Una belum mengetahui akan hal tersebut.
Drezzzzz drezzzz drezzzzz!
Hujan yang sangat lebat jatuh membasahi bumi dan angin berhembus semakin kencang menerpa tubuh dua orang yang sedang melepaskan kerinduan yang selama ini semakin menjerat mereka kembali dalam belenggu cinta. Jhong masih memeluk istrinya dari belakang dan dengan perlahan Jhong mulai membalikkan tubuh Una hingga kini mereka saling berhadapan. Jhong memeluk tubuh wanita yang selama ini selalu menari-nari didalam khayalan dan pikirannya itu Jhong. hujan yang beberapa tahun yang lalu sempat memisahkan mereka itu kini hujan itu turun membasahi bumi bukan untuk memisahkan mereka tapi malah sebaliknya hujan itu turun untuk menyatuhkan dua hati yang sempat terpisah lama.
Bagaikan bunga yang hampir layu karena tidak pernah mendapatkan air yang cukup seperti itulah Una saat belum kembali ke Seoul. Kini bunga yang hampir layu dan mati itu mulai mekar kembali karna tersiram air hujan dan bunga itu mekar dengan sangat indah dan menebarkan aroma harum yang memanjakan setiap Indra penciuman orang yang berada di dekatnya.
"Jhong, kau tidak marah padaku?"
"Rasa cintaku lebih besar padamu dari pada rasa kecewa yang aku rasakan akhibat kau tidak percaya dengan ketulusan cintaku selama ini." Ucap Jhong sembari mencium kening istrinya itu.
"Seharusnya kau membenciku. Aku tidak pantas kau perlakukan lembut seperti ini Jhong," Ucap Una sembari mencoba melepaskan pelukan Jhong saat itu. Tapi Jhong semakin memperkuat pelukannya karna pria itu tak ingin lagi berada jauh dari istrinya.
Hawa dingin dan hujan yang semakin lama semakin lebat itu semakin menambah romantis malam hari didepan halaman rumah salah satu insan yang sedang dimabuk cinta. Rasa haus akan cinta kini dengan perlahan mulai terobati dan rasa rindu yang selama ini hanya bisa dikubur dalam hati itu mulai perlahan menampakkan wujudnya terlihat Una mulai memeluk tubuh kekar suaminya itu.
__ADS_1