Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Emilia Takut Lee Marah


__ADS_3

“Sayang, aku mohon lepaskan pelukan kamu ini, aku harus


membantu Mama dan juga Park membuat sarapan pagi,” ucap Emil dengan menjauhkan tangan suaminya yang kini sudah melingkar di pinggangnya.


“Mereka semua juga pasti akan tahu kalau sekarang kamu merasa lelah,” sahut Lee dengan mempererat pelukannya pada sang istri. Ia tidak


mau jauh dari istrinya malah ia ingin minta jatah lagi, tapi setelah melihat


wajah sang istri yang kelihatan lelah sekali iapun segera mengurungkan niat awalnya tersebut.


Karena merasa mengantuk akhirnya Emil kembali terlelap dalam tidurnya didalam pelukan suaminya. Setelah Emil tertidur akhirnya Lee bagun


dari atas ranjang kemudian keluar dari ruangan kamarnya ini perlahan menuju ke dapur. Ia melihat Park dan juga Una yang sedang sibuk membuat sarapan pagi, keduanya langsung mengalihkan pandangan mereka kearah pintu setelah menyadari ada orang yang masuk kedalamnya.


“Pagi, Kak Lee,” sapa Park dengan seulas senyuman manis. “Semalam


apakah sukses?” tanya Park dengan tatapan penasaran sekali.


“Anak kecil diam saja.” Sembur Lee yang malas sekali meladeni adiknya itu di pagi buta seperti ini.


“Emil suruh istirahat saja di dalam kamar nanti biar, Mama saja yang mengantarkan sarapan pagi kalau kamu berangkat kerja,” ucap Una.


“Aku akan libur kerja hari ini, Ma. Besok aku akan kembali beraktivitas seperti biasanya,” ucap Lee. Walaupun ia tidak datang ke kantor


namun tetap saja ia melakukan pekerjaanya di dalam rumah, jika ada pertemuan dengan klien maka Park yang akan mengantikan posisinya di dalam perusahaan.


“Tidak adil, kenapa harus aku terus yang sibuk di kantor padahal aku juga ingin liburan,” ucap Pak yang tentu saja bercanda.


“Mau dapat tambahan uang bulanan apa tidak?" tanya Lee. Ia tahu sekalian apa yang adiknya itu inginkan, bahkan Park akan dengan suka rela lembur kerja sampai malam asalkan ia mendapatkan tambahan gaji.


“Kak Lee, boleh kembali ke kantor kapanpun yang, Kakak mau


aku akan dengan senang hati mengantikan posisi CEO,” ucap Park dengan wajah terlihat sumringah sekali. Ia sudah membayangkan belanja di mall kemudian membeli semua barang yang sedang ia incar di bulan ini.


“Kamu ini cepat sekali merubah ekspresi wajah jika sudah melihat uang,” tegur Una.


“Ya, namanya juga wanita, Ma. Aku butuh beli make up dan juga barang-barang pengeluaran terbaru di bulan ini,” sambung Park dengan


cengengesan.


“Ma, Aku akan kembali ke kamar. Ngantuk sekali.” Usai bicara Lee langsung berbalik arah keluar dari dapur.


“Istirahat sebanyak yang kalian inginkan,” ucap Park dengan


melambaikan tangannya.


“Kamu suka sekali menggoda, kakak mu itu,” ucap Una sembari


menjewer kuping putrinya itu pelan.


“Aku selalu semangat jika sudah melihat, Kak Lee marah,” sahut Park. Semua orang akan ketakutan jika melihat lee marah tapi sangat

__ADS_1


berbeda sekali dengan Park. Dia malah senang sekali melihat kakaknya yang arogan itu marah.


Ketika Lee hendak menginjakkan kakinya ke anak tangga pertama rumah ini, Jim segera memanggilnya hingga membuat langkahnya itu


terhenti dengan segera.


“Lee, temani, Papa lari pagi di halaman rumah,” ajak Jhong pada putranya itu.


“Lee, lelah sekali, Pa. Semalam habis manjat gunung.” Setelah bicara Lee langsung melangkah menaiki anak tangga.


Jhong yang mendengarkan jawaban dari putranya itu langsung


menggaruk kepalanya dengan bingung sembari berkata, “Naik gunung? Apakah bocah itu bermimpi naik gunung sekarang?” tanya Jhong pada dirinya sendiri.


Lee benar-benar membuat orang senam otak di pagi hari memikirkan perkataanya itu, mungkin istilah tersebut hanya Lee dan juga Emil


saja yang tahu. Hahah Lihat itu Papa Jhong keluar rumah dengan masih memikirkan ucapan sang putra.


 _ _ _


Lee menaruh Kimchi Bokkeumbap-menu yang mirip nasi goreng ala Indonesia itu di atas nakas samping ranjang dalam jangkauan istrinya itu.


Emil yang masih terlelap dalam tidurnya langsung mengendus-endus bau makanan favoritnya itu. Hidung Emil tidak hentinya mengembang dan juga mengempis setelah mencium aroma yang begitu membuat lapar


perutnya ini. Tidak butuh waktu yang lama Emil langsung membuka mataya.


“Morning kiss,” ucap Lee. Ia tersenyum geli melihat istrinya


sangat tajam itu.


“Sayang, kamu sengaja membangunkan aku dengan cara konyol seperti ini,” gerutu Emilia yang sudah tahu apa alasan suaminya itu menaruh makanan di sampingnya.


“Ehehehe, kamu harus makan dulu, nanti lanjut tidur lagi nggak apa karena aku tidak ingin kamu sakit lagi,” jelas Lee sembari menatap


intens wajah bantal istrinya yang baru bangun tidur.


“Jangan lihat aku seperti itu,” ucap Emil sembari menangkup pipinya sendiri dengan kedua tangan.


Menjauhkan tangan istrinya dari wajah mungil itu, “Kamu tetap cantik walaupun baru bangun,” puji Lee yang tidak sedang membual. Emilia memang sangat cantik walaupun ia baru bangun tidur.


“Kalau sampai kamu bilang aku jelas, maka aku akan pastikan kamu puasa sampai satu bulan kedepan,” ucap Emil sembari berdiri dari posisi


duduknya kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lebih dahulu sebelum ia memakan sarapan paginya.


“Dia jadi tahu kelemahan aku sekarang,” gerutu Lee dengan


mengacak rambutnya frustasi.


Emil sedang makan dengan begitu khidmatnya di samping Lee,


sedangkan pria itu sendiri kini sedang sibuk memusatkan perhatiannya pada layar laptop di hadapannya itu. Setelah menghabiskan makanan dalam piringnya. Emil segera meneguk satu gelas air mineral yang tadi sudah disiapkan oleh suaminya

__ADS_1


tepat di atas meja. Setelah isian didalam piring dan juga gelas itu tandas, Emil segera berdiri dari posisi duduknya.


“Kamu mau kemana?” tanya Lee pada sang istri.


“Aku akan ke dapur,” sahut Emil.


“Bisakah kamu bawakan aku satu cangkir kopi?” pinta Lee. Ia sudah mulai mengantuk di jam-jam  seperti


ini.


“Baiklah,” sahut Emil dengan senyuman cerahnya.


“Terima kasih, Sayang.” Lee membalas senyuman manis istrinya


itu.


_ _ _


Seorang pelayan langsung mendekati Emil dam mengambil piring berserta gelas yang Nona mudanya itu bawa, sedangkan Una duduk di meja sembari menikmati camilan kesukaanya.


“Sayang, kemarilah,” pinta Una.


“Iya, Ma ada apa?” tanya Emil dengan menarik salah satu kursi untuk ia duduki.


“Bagaimana kondisi kamu? Apakah baik-baik saja?” tanya Una dengan penuh perhatian.


Aku sangat lelah sekali, bahkan kakiku terasa berat ketika melangkah, semua itu karena putra kamu yang tidak memberikan aku ampun semalaman penuh, “Tentu saja Emil baik-baik saja, Ma,” sahut Emil dengan tersenyum manis untuk mendukung aktingnya itu.


“Ya sudah kalau begitu,” sahut Una.


“Emil, mau membuatkan, Kak Lee kopi sepertinya dia mengantuk,”


ucap Emil.


“Biarkan, Mama saja yang buatkan. kamu tetaplah duduk di sini,”


pinta Una kemudian.


“Baik, ma,” sahut Emil.


Emil masuk kedalam kamar sembari membawa nampan berisi satu


cangkir kopi yang tadi di minta oleh suaminya itu. Emil hendak menaruh nampan tersebut di samping laptop suaminya namun yang tidak di duga ada serangga yang tiba-tiba


terbang hal itu membuat Emil takut hingga tanpa sadar menjatuhkan kopi itu tepat di atas laptop suaminya.


“Ak-aku tidak sengaja,” ucap Emil yang panik melihat akan hal itu. Bahkan Emil sampai tidak perduli dengan tangannya yang tadi sempat tersiram kopi panas.


“Apa yang kamu lakukan,” ucap Lee sembari berdiri dari posisi duduknya.


Komentar yang banyak ya dan jangan lupa mampir juga ke novel

__ADS_1


“Hallo Musuh.” Sudah update 1 episode loh.


__ADS_2