Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Natalie Merasa Malu


__ADS_3

Tubuh Park langsung membeku di posisinya berdiri saat ini, ia tidak pernah menyangka sebelumnya jika Alan ternyata mengenal Natalie. Park membuka sedikit pintu yang ada di hadapannya ini untuk melihat sendiri siapa orang yang sedang berbicara dengan kekasihnya itu. Ternyata bener tebakan Park kalau orang tersebut adalah Natalie.


"Tuan Alan, anda tidak bisa mengambil keputusan sebelah lihat seperti ini, jangan ikut campur dalam urusan pribadinya saya karena hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan kerja sama kita ini," sahut Natalie yang tidak terima.


"Tentu saja ada sangkut pautnya, karena keluarga tersebut adalah keluarga kekasihku, lebih lagi aku tidak mau teman baikku Emilia bersedia.


Berdecih sebelum berbicara, "Aku tidak yakin jika kamu benar-benar mencintai Park, sepertinya kamu hanya pura-pura saja jatuh cinta padanya agar bisa dekat dengan Emilia." tuduh Natalie dengan kejam. Ia melihat kehadiran Park di depan pintu dan dengan sengaja mengatakan semua ini untuk membuat keduanya salah paham satu sama lain.

__ADS_1


"Kau benar-benar ular berkepala dua. Kerja sama kita berakhir sampai di sini! Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya," ucap Alan dengan dada yang sudah naik turun emosi jika saja orang yang kini sedang ada dihadapannya adalah seorang pria maka sudah bisa di pastikan akan habisi sekarang.


"Dan satu lagi yang harus kamu ketahui, aku sangat mencintai Park-kekasihku karena aku bukan seperti kamu, licik dan selalu merasa iri dengan kebahagiaan orang lain. Satu saran yang aku berikan pada kamu, sebaiknya kamu segera pergi ke psikiater karena aku sangat yakin jika kau bisa gila kalau terus seperti ini." Imbuh Alan dengan nada menghina yang terlihat jelas dari sorot mata dan juga kata-katanya.


Natalie mengepalkan kedua tangannya merasa emosi dengan jawaban Alan, ia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau pria itu bisa membalikkan kata-katanya semuda ini niat awalnya untuk menanamkan pertengkaran diantara Alan dan juga Park sepertinya hanya ada di dalam benaknya sana.


Menatap kearah Alan dan juga Park secara bergantian sembari berkata, "Awas sana kalian berdua," ancam Natalie dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Sudah kalah masih berani mengancam." Sembur Park dengan menarik salah satu senyuman sinis nya menang.


Natalie keluar dari ruangan ini dengan kedua tangan terkepal kuat, ia tidak menyangka kalau menjatuhkan mereka semua ternyata sesulit ini. Semua orang memiliki kepercayaan tinggi satu tinggi satu sama lain hingga tidak mudah untuk bisa ia provokasi begitu saja.


Setelah Natalie keluar dari ruangan ini, kini hanya ada alan dan juga Park saja. Kan gugup sekali sebab ia takut kekasihnya itu salah paham terhadapnya. Alan me ceritanya semuanya dari awal dengan sesekali mengusap keringat di jidatnya. Sedangkan Park hanya melihatnya saja tanpa mau menjawab kata-katanya itu hak tersebut tentu saja membuat Alan semakin takut kekasihnya salah paham hingga Park memutuskan untuk membuka suaranya.


"Aku percaya pada kamu." Park berlari kearah Alan lalu memeluknya.

__ADS_1


"Terima kasih karena kamu mau percaya padaku, Sayang," ucap Alan dengan memeluk tubuh kekasihnya itu erat. Ia sangat beruntung sekali karena bisa memilih Park di dalam hidupnya.


__ADS_2