
Lee menahan tawanya sampai semua orang yang sedang duduk satu meja dengannya saling bertatapan satu sama lain jelas saja mereka semua merasa bingung, karena Lee terkenal dengan sikap kejamnya. Tapi kini pria itu malah tersenyum dihadapan banyak orang. Hal langka ini membuat semua orang bengong melihatnya, pria itu sangat tampan sekali jika sedang tersenyum seperti ini. Begitu kira-kira pemikir semua orang sekarang.
tiga menit kemudian.
Semua orang menatap kearah CEO Lee dengan tatapan penuh tanda tanya, sedangkan pria yang mereka tatap masih tidak menyadari akan hal
itu, semua orang yang sedang duduk satu meja dengannya saling mengangkat alisnya bingung melihat wajah datar CEO dari perusahaan mereka tersenyum manis, sebenarnya tidak ada yang salah dengan senyuman pria itu hanya saja ini membuat sebagian orang merinding karena shock, bagaimana mungkin mereka tidak shock bertahun-tahun lamanya mereka bekerja dengan CEO Lee namun tidak sekali pun
mereka melihat senyuman pria yang selalu di kenal dengan wajah datar dan juga tatapan mata tajam bagaikan elang yang siap mencabik-cabik mangsanya.
“Apa yang sedang, CEO Lee lihat?” tanya seorang pria yang
usianya lebih muda dari CEO Lee.
“Apakah mungkin ia melihat gadis cantik yang sedang duduk di
sana,” sahut pria lainnya. Semua orang yang sedang duduk di meja ini menatap kearah pandangan majikan mereka itu.
“Gadis, yang sangat cantik sekali.”
Lee mengalihkan tatapannya kearah semua orang yang sedang duduk dengannya, tatapan membunuh dengan wajah datar yang masih belum di sadari oleh semua orang yang kini sedang melihat kearah Emilia dengan tatapan memuja.
Lee mengertakkan giginya emosi berani sekali para pria itu menatap istrinya seperti itu.
“Apakah kalian semua sudah siap kehilangan pekerjaan.” Lee
mengancam telak sampai membuat semua orang yang tadinya sedang menatap istrinya dengan penuh pesona kini langsung tertunduk dengan keringat dingin yang sudah
mulai merayapi tubuh mereka.
Semua orang menundukkan kepala tanpa berani menjawab ucapan,
CEO Lee. Siapa yang berani melawan singa jantan yang sudah mulai menunjukkan taringnya.
“Maafkan kami,” ucap semua orang yang sedang duduk di meja
tanpa berani mengangkat kepalanya.
“Pergilah, nanti aku akan mengirimkan berkasnya pada kalian.”
__ADS_1
Setelah mendapatkan perintah mereka semua langsung berdiri dari posisi duduknya tanpa berani membantah. Ini untuk kali pertama pria itu meninggalkan pekerjaannya hanya demi seorang wanita.
Lee mengusap kasar wajahnya setelah semua orang pergi meninggalkannya sendirian di meja makan ini. Emil melangkah kearah suaminya sembari menyanyikan lagu romantis yang sangat ia sukai. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Lee yang masih memijat kepalanya karena merasa pusing
melihat setiap pria yang menatap istrinya dengan penuh damba dan juga menginginkan itu membuatnya sakit kepala.
“Sayang, ayo kita berbelanja,” ajak Emil dengan tersenyum manis.
“Baiklah, istri kecilku,” sahut Lee patuh. Gadis kecil ini sungguh membuatnya kelimpungan sekali, tapi Emil tidak boleh mengetahui akan
kecemburuannya ini nanti istrinya itu bisa besar kepala dan Lee tidak suka akan hal itu.
“Kamu mau membeli apa?” tanya Lee sembari mengandeng tangan
Emil.
“Aku ingin membeli apapun itu, apakah kamu keberatan?” tanya
Emil.
“Tentu saja tidak,” sahut Lee cepat dengan melirik istrinya.
masih juga belum memutuskan ia akan membeli apa ke mall ini. Lee hanya bisa menekankan kata sabar pada dirinya agar ia tidak sampai mengucapkan kata-kata kasar pada istrinya.
“Kak Lee, aku mau membeli sepatu saja,” ucap Emil dengan sembari
menenglengkan kepalanya melihat suaminya.
“Tentu saja aku mengijinkannya, jika perlu aku akan membeli
tokonya untuk kamu,” ucap Lee senang. Akhirnya istrinya ini menemukan juga apa
yang ingin ia beli, sebab Lee takut jika sampai ia harus mengelilingi mall ini
hanya karena menunggu istrinya selesai berpikir.
“Jangan berlebihan, aku bisa di marah Mama dan juga Papa kalau sampai meminta sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu,” gerutu Emilia dengan polosnya. Apakah mungkin gadis itu lupa jika suaminya ini adalah sultan
dan ia tidak membutuhkan pendapat orang lain untuk menuruti keinginan istrinya.
__ADS_1
“Kamu adalah tanggung jawabku, aku sangat yakin keputusan apapun yang akan aku ambil kedua orangtua kita pasti mengerti,” sahut Lee dengan bijak.
Mereka berdua masuk ke dalam toko yang menjual sepatu. Semua penjaga toko terlihat histeris saat mereka menatap CEO Lee di dalam toko ini
hampir semua orang mengenali siapa keluarga Back termasuk salah satu pria yang barusan masuk ke dalam toko mereka. Emil mulai terganggu dengan tatapan semua wanita yang sedang mengamati setiap inci tubuh suaminya. Emil mencoba meredam
kecemburuannya itu dengan masih mencoba sepatu yang ia inginkan.
"Silahkan di pilih, kami mempunyai model terbaru di bulan ini jika, Nona menginginkannya," ucap seorang pelayan dengan nada suara yang sengaja ia buat mendesah untuk memancing perhatian pria tampan yang kini sedang berdiri di hadapannya. Lee sama sekali tidak tertarik dengan wanita kecentilan seperti itu.
“Sayang, apakah sepatu ini cocok untukku?” tanya Emil pada
Lee. Ia hanya membalas kata-kata penjaga toko itu tadi dengan senyuman saja.
“Tentu saja kamu sangat pantas mengunakannya,” sahut Lee
jujur. Sepatu Converse hitam dengan desai simpel memang cocok untuk istrinya yang suka mengunakan riasan natural yang tidak berlebihan.
“Tapi aku menginginkan sepatu yang berwarna merah itu,” ucap Emil dengan melepas sepatu yang tadi sempat ia kenakan. Emil melangkah cepat dan langsung mencoba sepatu Converse dengan warna merah itu.
“Jika kau suka ambil saja,” ucap Lee yang melihat wajah istrinya sedang bingung ikut angkat bicara.
“Tempo hari aku dan juga, Mama sudah membeli tiga pasang
sepatu baru,” sahut Emil dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ambilkan semua sepatu model terbaru yang ukuran sama!”
perintah Lee pada pelayan wanita yang sejak dari tadi menatapnya tanpa bergeming.
“Tidak perlu berlebihan seperti itu,” ucap Emil dengan mengoyangkan lengan suaminya merasa keberatan sekali.
“Ayo kita duduk di sana, sembari menunggu mereka.” Tanpa mengubris apa yang di katakan oleh istrinya itu, Lee langsung mengandeng tangan Emil untuk duduk di sofa yang ada di tengah-tengah toko ini.
Seorang pelayan wanita melangkah kearah Lee dan juga Emil yang sedang berbincang-bincang berdua. Pelayan wanita itu sengaja menunjukkan bentuk dadanya dari kemeja kerja yang sedang ia kenakan bahkan rambutnya yang tadi terurai kini di kucir membentuk sanggul.
"Ini adalah tagihan yang harus, CEO Lee bayar," ucap wanita tersebut dengan mengerdipkan satu matanya.
Emil yang melihat akan hal itu langsung membulatkan matanya dengan begitu sempurna. Ia menutupi wajah suaminya dengan kedua tangan agar lelaki itu tidak menatap wanita kecentilan yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Hahaha ekspresi CEO Lee bagaimana ya.