Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Rencana Park Part 2


__ADS_3

Lee berdiri dari posisi duduknya, dia mengabaikan ucapan istrinya tadi, tapi percayalah didalam hati sebenarnya ia juga tidak tega melihat air muka Emil yang kelihatan cemas sekarang. Lee berjalan melewati Emilia tanpa menatapnya sedikit pun, kini tangannya sudah memegang tas milik rekan bisnisnya. Tapi saat Lee hendak melangkah Emil langsung menarik tas tersebut dengan kasar sembari berkata.


"Biar aku saja." ucap Emil dengan bibir yang cemberut. Lee begitu gemas sekali melihat wajah istrinya jika sedang merajuk seperti ini.


"Jangan melukainya," tutur Lee dengan wajah datarnya.


"Kau menyukai wanita itu? Kalau begitu kenapa kau mau menikah dengan, aku?" tanya Emil. Kedua bola matanya mulai memanas sekarang, bibirnya yang terkatup rapat terlihat gemetar.


"Biar aku saja yang memberikan tas ini padanya." Tanpa menunggu jawaban Park langsung mengambil tas tersebut dan Emilia membiarkannya.


"Jangan membahas masalah yang tidak perlu padaku." Sembur Lee dengan wajah datar. Ia sungguh tidak tega melihat cairan bening sudah menganak sungai di kedua pelupuk mata istrinya.


Lee mendudukkan tubuhnya di sofa dengan mengangkat satu kakinya bertumpuh pada lutut, pria itu menarap Emil yang kini sedang mengatupkan rapat bibirnya dengan sorot matanya yang terlihat tajam.


"Emil, kamu jangan marah seperti ini. Aku akan memastikan Kak Lee tidak akan pernah meninggalkan kamu, percayalah," bujuk Park sembari mengerdipkan satu matanya pada Lee.


Park sudah membujuk Emil untuk duduk dengannya di sofa, tapi ia enggan sekali duduk jika hatinya sedang gelisah seperti ini. Bayangan seorang wanita cantik dengan tubuh molek lengkap dengan asetnya yang terlihat menojol hal itu sunggguh membuat email mengila sekarang. Perasaan cemburunya semakin besar saja.


"Aku tidak marah, hanya kecewa." Emil menatap Park dengan wajah melasnya.


"Kamu jangan cemburu, Kak Lee pasti lebih memilih kamu," ucap park.


"Aku tidak cemburu, hanya kecewa," elak Emil dengan mengusap satu tetes air matanya yang lolos dari singahsana tanpa ia minta.


Cklek!


Semua orang menatap kearah pintu kamar mandi yang di buka oleh seorang wanita. Lee dan juga Park tersenyum tipis melihat ekspresi kaget di wajah Emilia. Emil menjatuhkan rahangnya ketika bayangan wanita paruh baya yang sudah berusia lanjut usia keluar dari sana. Rasa cemburu yang Emil rasakan langsung menguap begitu saja, kobaran api emosi yang sempat membakar tubuhnya lenyap begitu saja entah kemana.


"Ada apa ini?" tanya wanita paruh baya itu sembari memperhatikan wajah ketiga orang dihadapannya secara bergantian.


"Tidak ada masalah, Nyonya Margaret," sahut Lee sembari beridri dari posisi duduknya.

__ADS_1


"CEO Lee, maafkan saya karena terluka lama memakai kamar mandi, Anda," ucapnya sembari menunjukkan wajah tidak enak hati.


"Tidak perlu sungkan seperti itu," sahut Lee. "Tuan besar sudah menunggu anda di lobby perusahaan," imbuhnya lagi.


"Baiklah." Menatap kearah Emil dan juga Park secara bergantian. "Siapa mereka?" tanyanya pada Lee.


"Park, adik saya dan yang ini," melihat kearah Emilia. "Dia istri saya," ucapnya sembari menaruh satu tangannya di bahu istri kecilnya.


Mengelengkan kepalanya lalu memberikan isyarat tangan pada bagian perutnya sembari berkata, "Apakah dia sudah hamil duluan?" tanya Nyonya Margaret dengan tatapan menyelidik.


"Tidak, kami menikah karena perjodohan," jelasnya singat dan juga padat.


"Oh, dia masih terlihat polos dan juga cantik. Kau pasti sangat mencintainya?" tanya Nyonya Margaret penasaran.


Menatap Emil yang juga melihatnya, "Seperti yang, Anda lihat," sahutnya.


"Semoga kalian hidup berbahagia dan memiliki keturunan yang cantik dan juga tampan."


"Nyonya Margaret, biar saja antar, Anda turun kebawah." Park mengerdipkan satu matanya pada Emil yang kini sedang mengelengkan kepalanya.


"Dengan senang hati," sahut Nyonya Margaret. Mereka berdua keluar dari ruangan ini meninggalkan Lee dan juga Emil.


"Lepaskan," pinta Emil. Ia merasa tidak nyaman sekali melihat suaminya terus saja memeluknya bahkan pria itu tidak berhenti menatapnya sekarang.


"Kenapa harus aku lepaskan?" tanya Lee dengan mengarahkan Emil menatapnya. Kini jarak diantara keduanya semakin terkikis hingga hembusan hangat pria itu bisa Emil rasakan.


"Aku tidak nyaman," sahutnya. Ia hendak membalikkan tubuhnya tapi Lee menahan kedua pundaknya.


"Jujurlah padaku," memberikan jeda untuk kata-katanya. "Kau pasti merasa cemburu tadi."


Membuang pandangannya kearah lain, "Mana mungkin aku cemburu pada, Kak Lee," bohongnya.

__ADS_1


memegangi dagu Emil lalu mengarahkan wajah istrinya itu menatapnya. Kini kedua mata itu saling bertatapan satu sama lain bahkan hidung mereka juga saling bersentuhan sekarang, detak jam seakan berjalan melambat. Ruangan ini terlihat sunyi bahkan hembusan nafas keduanya terdengar sangat jelas di telinga masing--masing.


"Kau mencintaiku. Dan aku mengetahuinya." Lee tidak bertanya ataupun menebak. tapi ia mengatakan isi hati Emilia yang sebenarnya.


"Tidak," bohong Emil lagi.


"Jika kau tidak mencintai aku, apakah kau akan rela aku dekat dengan wanita lain?" tanya Lee dengan tidak mengubah posisi mereka yang kini masih berdekatan.


"Kau tidak boleh melakukan itu," jawab Emil cepat dengan kilatan mata terganggu.


"Jika kau mengatakan bahawa kau mencintaiku maka aku tidak akan melakukannya." Lee masih mencoba untuk membuat istrinya mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya.


Emil mulai kesulitan untuk bernafas sekarang, jarak mereka terlalu detak ini tidak akan baik untuk kondisi jantungnya yang semakin berdetak kencang, "Aku tidak mau kau melakukannya dan aku tidak mencintai kamu." Emil hendak menundukkan kepalanya tapi Lee menahan dagu wanita itu hingga membuat keduanya masih bertatapan satu sama lain.


"Jika aku katakan kalau aku mencintaimu, apa jawaban kamu?" tanya Lee. Ia sudah mengutarakan isi hatinya sekarang. Atmosfir didalam ruangan ini mulai berubah mencekam saat ini semua itu karena tatapan kaget yang Emilia berikan.


jantung pria itu berdetak dengan semakin kecang sekarang, ia takut jika sampai Emil menolaknya. Sungguh baru kali pertama ini ia merasakan takut yang berlebihan seperti ini, Emil masih mengartupkan rapat kedua mulutnya hal itu membuat Lee semakin frustasi saja tapi dia bisa dengan sangat baik menyembunyikan kekacauan dihatinya dengan wajah datarnya itu.


Dia mencintaiku, apakah ini benar? tanya Emil pada dirinya sendiri. Dari pada ia terus membatin dan juga berpikir, lebih baik mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya saja.


"Jika, Kak Lee mencintai aku. Maka aku juga mencintaimu," sahutnya mantap.


"Kamu bilang apa?" tanya Lee pura-pura tidak mendengar ucapan istrinya barusan.


"Aku mencintai, Kak Lee," ucap Emil polos dan juga jujur.


Melangkah mundur dua langkah kebelakang hingga membuat email kaget, pria itu terlihat angkuh jika sedang melipat kedua tangannya di dada seperti sekarang ini, "Karena kamu sudah mengutarakan isi hati kamu, aku tidak tega jika menolaknya." godanya pada Emil.


Dia benar-benar suami yang menyebalkan, aku bisa kena mental jika terus begini, "Terserah apa yang kau ucapkan. Aku mau pulang," gerutu Emil.


Jika ingin mengenal, Author kalian bisa japri Khairin Nisa di Wa 08993487562 / Follow IG Khairin_junior.

__ADS_1


Love you Nisty Lovers jangan lupa berikan komentar, like dan juga vote yang banyak ya ... agar Author semakin semangat untuk update rutin.


__ADS_2