Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Aku Ikut Mama.


__ADS_3

Emil masuk ke dalam dapur dengan bibir mengerucut, dia terlihat begitu malas berjalan memasuki dapur Narra hanya melirik saja apa yang anaknya itu lakukan saat berjalan mengambil toples dari kaca yang berisikan kopi hitam. Narra menahan tawanya karena melihat Emil dengan sengaja malah memasukkan garam ke dalam cangkir yang sudah di taruh kopi hitam tadi. Emil melihat ke arah Mamanya yang sedang tertawa tanpa menimbulkan suara.


 


"Ada apa sih Ma?" tanya Emil dengan bibir manyun. Emil belum menyadari jika Narra melihat apa yang dia lakukan tadi.


"Kau mau meracuni suamimu secepat ini sayang," goda Narra dengan berjalan mendekati Emil yang masih menatapnya dengan selidik.


Narra mengambil toples kaca yang sedang Putrinya itu pegang, dia menunjukkan tulisan garam yang ada di toples itu. Emil langsung terkekeh melihat kebodohan yang memang sengaja dia lakukan eh tidak tahunya malah ketahuan sama ibunya sendiri. Kau tidak terlalu pintar berbuat curang Emil.


Narra mengajak Emil duduk di meja makan yang ada di dalam dapur, dapur ini di beri warna putih karena Emil menyukainya. Emil mengikuti langkah Narra dan duduk di meja makan. Di meja makan itu sudah tersaji sarapan lagi ada roti yang sudah di bakar dengan di berikan isian sayur juga telur setengah matang di dalamnya. dan ada juga beberapa makanan pendamping lainnya di pagi hari ini.


"Ma, aku hanya kesal dengannya dia selalu saja membuatku merasa jengkel aku tidak mau tinggal satu rumah dengan pria sepertinya aku mau ikut Mama pulang saja besok," ucap Emil dengan memeluk tubuh Narra yang duduk di kursi samping duduknya.


Mengusap kepala anaknya, "Kau sudah menikah, kau tidak boleh bicara seperti itu tentang suamimu dia pria baik tidak mungkin akan melukaimu kau harus menuruti semua perintahnya," Narra bicara dengan nada suara pelan namun bisa di cerna dengan muda oleh putrinya.



Sebenarnya Emil tipe anak yang penurut dia akan mengikuti apa yang kedua orangtuanya katakan contohnya menikah dengan Lee adalah salah satunya. Tapi setelah menikah Emil justru merasa ragu dengan hal tersebut ada rasa menyesal kenapa dia mengambil keputusan sebesar itu dengan mudah tanpa memikirkan akibatnya.



"Ma, aku takut tinggal berdua dengannya," gerutu Emil dengan bergelayutan manja di lengan Narra.

__ADS_1



Mencubit hidung putrinya pelan, "Dia akan mengantikan Papa dan juga Mama untuk menjagamu," ujar Narra menimpali ucapan putrinya tadi.



Jim dan juga Lee yang sudah selesai berolahraga masuk ke dalam dapur. Emil berdiri dari posisi duduknya dan segera membuatku kopi untuk Lee sebab dia tidak mau membuat Narra marah karena tidak mendengarkan nasehat yang dia berikan tadi.


Di rumah itu tidak ada pelayan karena Narra menyuruh Emil untuk fokus mengurus keluarganya agar anak perempuannya tidak sering bermain di luar rumah sebab dia sudah menikah.


"Ini kopinya Tuan muda," ledek Emil dengan menjulurkan lidahnya pada Lee.


"Emilia! Jangan ulangi hal itu lagi," ucap Jim saat melihat sikap anaknya itu yang masih kekanak\-kanakan saat melayani suaminya.


Emil mendengus kasar saat menatap ke arah Lee. tapi pria itu justru mengerdipkan satu matanya pada Emil semakin menguat jengkel gadis kecil itu. Hahaha lihat itu sikap Lee semakin lama semakin menirukan gaya gadis kecil itu. Menggoda Emil sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi Lee saat ini.


Mereka makan bersama tanpa menimbulkan suara, Setelah sarapan Lee dan juga Jim kembali masuk ke kamar mereka karena harus bersiap berangkat ke kantor. Narra menyuruh Emil menyiapkan keperluan suaminya dengan berat hati wanita itu mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Narra dengan menggerutu kesal dalam hati.


Emil menaiki anak tangga dengan menghentakkan kakinya kasar tanda jika dia kesal dengan suaminya namun apa daya dia harus melakukannya dari pada di marahi lagi. Emil membukak pintu kamar itu tanpa mengetuknya dan beruntunglah karena Lee sudah mengenakan bajunya jika tidak Emil akan berteriak lagi dan membuat kegaduhan di pagi yang cerah itu.


"Kenapa kau datang lagi?" tanya Lee dengan mengambil dasinya yang ada di atas ranjang.


"Ini kamarku, setelah mama pergi besok jangan tidur lagi denganku." Wanita itu bicara dengan menaruh tangannya di pinggang.

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh?" tanya Lee dengan mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mau saja, itu perjanjian awal kita menikahkan jangan bilang kamu sudah lupa secepat itu," ucap Emil dengan melangkahkan kakinya mendekati Lee kemudian memasang dari yang Lee sedang pegang di tangannya.


"Aku bilang sama Papa saja, jika kau mau tidur terpisah denganku," goda Lee dengan pura\-pura mengadu pada Jim dan juga Narra.


*Dia selalu mengancam ku seperti itu, lihat saja aku akan kunci pintu kamar setelah Mama dan Papa pulang nantik. Dasar pembohong kau bilang tidak mau tidur denganku tapi setelah menikah kau malah pura\-pura lupa bikin aku jengkel saja*.


"Hei tidak usah mengadu aku akan tidur denganmu, kau puas sekarang sudahlah aku akan jadi pelayan di rumah ini. Kenapa hidup ku begitu menderita seperti ini Tuhan dosa apa yang aku lakukan di masa lalu sampai kau menghukum ku dengan kejam seperti ini." Wanita itu bicara dengan keras agar Lee mendengarnya.


Lee hanya diam melihat Emil terus mengoceh seperti itu, entah mengapa merasa dekat dengan Emil pria itu merasakan tenang dan juga hatinya mulai hidup kembali bahkan Lee tidak ingin jika istrinya menjaga jarak dengannya saat ini. Tuhan merencanakan hal yang indah ternyata selama ini Lee tidak bisa mencintai wanita lain mungkin karena wanita itu adalah jodoh yang di berikan tuhan padanya.


Di rumah sakit.


Park dan juga Una sedang menjaga Jhong di sana. Jhong kelihatan lebih baik kondisinya Park akan menginap di rumah sakit sampai liburan akhir tahunya selesai dan kembali masuk kuliah lagi masih kurang satu bulan. Pasti Park akan bosan berada di rumah sakit terus tanpa harus bisa kemana\-mana sebenarnya dia ingin sekali pergi jalan\-jalan bersama Park.



Tapi karena wanita itu baru menikah dengan kakaknya jadi Park hanya bisa memendam apa yang ada di dalam pikirannya dalam hati. bahkan Una tidak mengijinkan Park menganggu Emil sampai waktu masuk kampus nanti sebab Una berharap agar anaknya bisa mengenal Emil lebih dekat lagi.



Una Tidak menginginkan cucu karena dia tahu Emil masih sangat kecil untuk melakukan hal itu namun andaikan keinginannya di dengar dia dan juga Jhong ingin menimang seorang cucu dari putranya.

__ADS_1


 


__ADS_2