Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Menunggu Semuanya Pasti


__ADS_3

     “Kenapa menatapku seperti itu, aku tidak takut,” ucap Emil dengan menutup panggilan teleponnya sepihak.


    Sedangkan Alan yang tadi sempat


mendengarkan apa yang diucapkan oleh Emilia langsung merasa cemas sekaligus bingung, pria itu sedang berpikir tentang hal buruk yang terjadi pada gadis pujaan hatinya itu. Alan mencoba menghubungi Emilia namun telepon gadis itu tiba-tiba tidak bisa di hubungi lagi entah apa alasannya.


      “Berani sekali kamu mengatakan jika aku ini supir online,” sahut Lee geram sembari menepikan mobilnya mendadak sampai membuat kepala Emil membentur kaca jendela mobil dengan keras.


     “Auch sakit,” rintih Emil sembari


mengusap-usap kepalanya dengan tangan.


    Lee yang mengetahui hal itu langsung merasa bersalah ia sungguh tidak bermaksud demikian, “Maaf aku sungguh tidak bermaksud demikian,” ucap Lee dengan melepaskan safety beltnya kemudian mendekatkan


tubuhnya kearah Emil.


      Lee mengarahkan Emil untuk menatapnya dan Emil tidak melawan sebab ia tahu Lee tidak akan pernah sengaja menyukainya. Dengan gerakan lembut Lee menyibakkan anak rambut Emil kebelakang telinga dan dia meniup sudut jidat Emil yang memerah akhibat benturan tadi.


     “Apa ini yang sedang aku rasakan, kenapa aku merasa gugup dan jantungku juga berdetak dengan begitu kuat? Aku sering berdekatan dengan Alan bahkan kami juga bergandengan tangan, tapi aku tidak


pernah merasakan hal semacam ini.” Emil bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Diam-diam Emil melirik Lee yang sedang sibuk meniup luka di jidatnya dan pria itu mulai mengoleskan salep di luka tersebut dengan gerakan lembut dan juga memutar.


       “Apakah masih sakit?” tanya Lee sembari menagkup wajah Emil dengan kedua tangan.


     “Ti. . .tidak,” jawab Emil sembari

__ADS_1


memalingkan wajahnya kearah lain. Ia tidak ingin jika sampai semburat merah diwajahnya ini terlihat oleh pria dihadapannya itu.


     “Jangan ulangi lagi mengatakan aku supir online! Walaupun kita menikah karena perjodohan tapi pernikahan kita sah secara hukum


dan agama,” jelas Lee dengan mengecup pipi Emilia sekilas.


     Emil merasakan panas dingin entah mengapa ia membiarkan saja Lee menciumnya, Lee mulai mencium bibir ranum Emil sekilas. “Aku,”


ucapan Lee terhenti ketika ia hendak mengatakan jika ia mencintai Emilia. Lee takut saja jika tiba-tiba Emil menolak pernyataan cintanya dan itu akan melukai harga dirinya hingga ia harus memastikan dahulu perasaan Emil kepadanya barulah ia akan memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya ataukan tidak.


      “Apa?” tanya Emil.


     “Tidak jadi,” balas Lee sembari memasang kembali Safety beltnya dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


     Rumah sakit.


Kini mereka berdua sudah berada di depan ruangan Jhong berada. Lee mengetuk pintu itu dua kali lalu membuka pintu bercat putih tersebut tanpa menunggu sahutan dari dalam ruangan tersebut.


    “Masuklah lebih dulu,” pinta Lee dengan menatap Emil sendu.


    “Ya,” sahut Emil singkat.


     Emil melihat Jhong sedang duduk di atas ranjang pasien sedangkan Hyouna duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang tersebut. Jhong dan Hyouna tersenyum bahagia melihat kedatangan Lee dan juga Emil karena setelah menikah baru kali ini mereka datang kerumah sakit.


     “Sayang, kenapa datang kemari tidak memberikan kabar terlebih dahulu,” ucap Hyouna sembari berdiri dari posisi duduknya kemudian berjalan menghampiri Emil dan segera memeluknya tidak lupa ia

__ADS_1


juga mengecup sayang pipi anak menantunya itu secara bergantian.


     “Sejak ada dia, Mama melupakan aku,” ucap Lee sembari menghentikan langkahnya di belakang Emil.


     Melepaskan pelukannya perlahan, “Kamu sedang iri dengan gadis kecil ini?” ledek Hyouna dengan berjalan kearah Lee kemudian memeluknya. Lee membalas hangat pelukan Mamanya itu.


     Emil tersenyum tipis melihat Lee yang ternyata manja juga dengan Mamanya, ia berjalan menuju ranjang Jhong yang sedang menatapnya dengan seulas senyuman. Pria ini terlihat kurus dan juga wajahnya pucat namun ia masih kelihatan tampan diusianya sekarang.


     “Pa, apa kabar?” tanya Emil setelah


menaruh satu buket bunga mawar dan juga buah yang ia bawah di atas meja.


     “Kamu bisa melihat sendiri kondisi Papa, apakah Lee menyakiti kamu?” tanya Jhong dengan melirik kearah Lee dengan tatapan mengancam.


     “Tidak Pa, Kak Lee tidak pernah sengaja melukai aku tapi dia selalu berbicara jujur padaku,” ucap Emil dengan melihat Lee dan tidak lupa ia menarik salah satu senyuman di bibirnya.


     “Jujur masalah Apa?” tanya Hyouna yang kini juga ikut berdiri di samping ranjang suaminya dan begitu juga dengan Lee.


     “Kak Lee pernah mengatakan jika bau badanku itu gosong setelah aku memasak, dan ia juga tadi mengemudi dengan kencang


hingga membuat jidatku seperti ini.” Emil menunjuk luka kemerahan di jidatnya tadi.


   Hahaha kapan lagi aku bisa mengerjai kamu, suamiku. Kira-kira seperti itu arti dari tawa yang sengaja ditahan oleh Emilia saat ini.


     Suasana bahagia didalam ruangan ini seketika langsung berubah menjadi horor saat Jhong dan juga Hyouna menatap kearah Lee dengan pandangan membunuh. Lee yang di tatap seperti itu hanya bisa menggaruk punggung lehernya yang tidak gatal dengan tersenyum miris. Lee pasti tidak mengetahui jika istrinya itu pandai bersilat lidah seperti sekarang.

__ADS_1


MAAFKAN NISA KARENA NOVEL INI LAMA UPDATENYA, NISA SEDANG SAKIT DAN JIKA ADA WAKTU AKAN SAYA USAHAKAN UPDATE RUTIN TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN PARA READERS SEMUA YANG MASIH MENUNGGU UPDATE TERBARU NOVEL INI. LOVE YOU ALL KHAIRIN NISA


__ADS_2