
3 tahun setelah Emilia koma.
Semua sudah jauh berubah, Park dan juga Alan sudah lulus kuliah. Alan memutuskan untuk kembali ke begara B karena dia akan menjadi pewaris utama keluarganya tentu saja dia harus mengurus perusahaan yang di
dirikan oleh Papanya. Sedangkan Park sendiri membantu Lee di perusahaan Back. Kini Park dan juga Alan sudah menjadi sepasang kekasih walaupun mereka harus
melakukan hubungan jarak jauh karena, Alan sibuk di negara B namun pria itu selalu menemui Park setiap ada waktu sengang.
Lee masih tetap sama menunggu istrinya membuka mata. Ia masih merawat Emilia seperti sebelumnya bahkan perasaan cintanya kini semakin menggebu pada gadis cantik yang sekarang masih memejamkan matanya itu. Emil terlihat jauh lebih dewasa tidak seperti sebelumnya namun wajahnya masih terlihat imut dan juga menggemaskan menurut suaminya.
Kesehatan Jhong semakin membaik bahkan ia kini tidak perlu mengunakan selang oksigen lagi. Dokter mengatakan jika Jhong bisa sembuh total. Semua orang bahagia sekali hanya tinggal menunggu Emilia bangun kini semua kebahagian itu akan lengkap-sempurna.
Alam mimpi.
Emil sedang duduk di tepi danau, ia melihat sepasang angsa putih yang berenang berdampingan. Ia merasa baru beberapa hari di tempat ini
namun yang tidak Emil ketahui bahwa ia telah tertidur selama 3 tahun lamanya. Terdengar samar-samar suara seorang wanita yang memanggil namanya di kejauhan.
Emil mengedarkan pandangan kesekitar mencari siapa pemilik dari suara tersebut.
Emil menyipitkan matanya merasa asing dengan wanita yang memanggil namanya tadi, sesaat kemudian kedua bola matanya melebar dengan sempurna tatkala ia mengenal siapa wanita tersebut.
“Helena,” gumam Emil ketika ia melihat temannya yang dulu
telah menabraknya dengan sengaja. Tapi kenapa kondisinya begitu memprihatinkan sekali, pikir Emil.
Helena melangkah tertatih mendekati Emilia. Wajahnya yang dulu cantik kini tidak terlihat lagi, tubuhnya yang dulu seksi kini terlihat kurus dengan kondisi yang memperihatinkan sekali bahkan pakaian yang di gunakan
oleh Helena juga lebih mirip seperti gembel yang ada di jalanan, hampir saja Emil tidak mengenali temannya itu kalau ia tidak mengamatinya secara detail. Entah apa yang telah terjadi sampai Helena berubah menjadi seperti ini, semua keanggunan, kecantikan bahkan kesombongannya telah hilang berganti dengan nasib malang.
“Emil, maafkan aku,” ucap Helena sembari menjatuhkan lututnya
di rerumputan. Nafasnya mulai tersengal-sengal karena berjalan cukup jauh hingga ia sampai di tempat ini.
__ADS_1
Emil menadakan tangannya ke atas, dan muncullah satu botol air mineral yang terlihat begitu segar sekali. Pun ia langsung memberikannya pada Helena, Helena meneguk air itu dengan kasar karena merasakan tenggorokannya kering sekali setelah berhari-hari melangkah tanpa tujuan.
Menatap Helena, “Aku sudah memaafkan kamu, kenapa kau jadi
seperti ini? Apa yang terjadi?” tanya Emil. Begitu mudah Emil memaafkan wanita yang dulu menabraknya tanpa dendam sedikitpun, Emil bahkan tidak tega melihat kondisi Helena seperti sekarang.
“Apa yang terjadi padaku, memang sudah menjadi takdir itu semua karena kebodohanku di masa lalu,” ucap Helena dengan kepala tertunduk. Ia begitu malu sekali kenapa dahulu ia harus membencinya gadis di hadapannya ini, padahal Emil sangat baik dan juga rendah hati, ia bahkan tidak dendam pada Helena setelah semua yang ia lakukan.
“Bersihkan tubuh kamu di danau, dan pakai baju ini,” ucap Emil sembari memberikan gaun berwarna putih untuk Helena.
“Terima kasih, Emil kamu memang baik sekali, andai waktu bisa di putar aku begitu ingin menjadi sahabat kamu,” ucap Helena dengan hati di penuhi rasa bersalah yang mendalam.
“Kita tidak bisa memutar waktu, tapi masih bisa memperbaiki semuanya,” sahut Emil dengan membantu tubuh Helena berdiri.
“Mungkin di kehidupan yang mendatang jika, Tuhan mengijinkan
tapi alam kita sekarang berbeda.
kita bicara,” pinta Emil dengan tersenyum manis. Ia bahkan memeluk tubuh Helena sekilas tanpa rasa jijik sedikitpun.
Helena membawa baju ganti kemudian menceburkan tubuhnya ke
danau tersebut, selang beberapa waktu ia langsung terkejut ketika melihat tubuhnya yang kotor dan juga penuh dengan luka lebab langsung hilang, bahkan Helena sangat terkejut begitu ia melihat pantulan wajahnya di dalam air danau ini. Ia terlihat cantik sekali bahkan tubuhnya yang kurus juga berubah lebih berisi
tentu saja Helena senang sekali kecantikannya kembali lagi.
“Apa kau senang sekarang?” tanya Emil yang melihat Helena sudah mengunakan gaun yang sama dengannya.
“Aku sangat senang sekali, sudah waktunya kamu pergi. Aku akan mengantikan posisi kamu untuk menjaga tempat ini,” ucap Helena.
“Apa maksud kamu, aku baru saja di sini beberapa hari,” ucap Emil.
“Kembalilah, banyak orang yang sudah menunggu kamu.” Helen
__ADS_1
mendorong tubuh Emil dengan tersenyum bahagia.
Dunia nyata.
Lee sedang tidur, ia merasa lelah sekali hingga tanpa sadar tertidur dengan posisi duduk dengan tangan yang masih memegang novel yang tadi sempat ia bacakan untuk Emilia. Emil mulai mengerak-ngerakkan jari tangannya perlahan, pelupuk mata itu mulai terpecah. Emil masih tidak bisa mengerakkan kepalanya yang terasa kaku karena ia sudah tertidur selama tiga tahun. Sedangkan semua luka di tubuhnya sudah sembuh begitu juga dengan luka di kepalanya.
“Kak Lee, apakah kamu sudah … “ ucapan Park terhenti ketika ia melihat Emil membuka mata. Park menampar pipinya dengan keras karena ia
takut jika kejadian 3 tahun yang lalu terjadi lagi namun Emil masih menatapnya.
“Park,” ucap Emil dengan suara yang parau.
“Emilia akhirnya kamu bangun juga,” teriak Park heboh.
Una yang berada di luar ruangan itu langsung berlari masuk kedalam ruangan ini. Lee yang sedang tertidur langsung tersentak kaget mendengar teriakan adiknya itu yang langsung menariknya dalam alam mimpi. Lee
melihat kearah istrinya dan benar saja wanita itu kini sudah membuka mataya.
“Aku akan beri tahu, Papa kalian panggil dokter,” ucap Una.
Jhong yang sudah bisa melangkah walaupun perlahan, menuju ke
ruangan Emil dengan bantuan istrinya. Sedangakn para medis langsung masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat kondisi Emilia. Dokter mengatakan jika kini Emilia sudah melewati masa kritis dan akan di lakukan pengecekan ulang, dia
masih tidak boleh terlalu banyak bicara dan harus banyak beristirahat dulu. Setelah berkata semua dokter langsung keluar dari ruangan ini.
“Aku akan menghubungi, Narra dan juga Jim,” ucap Una dengan senyuman secerah sinar matahari.
“Park, biarkan, Kak Lee bersama dengan kakak ipar kamu,” pinta Jhong yang langsung di jawab anggukkan kepala oleh Park.
“Emil, aku keluar dulu ya,” ucap Park sembari mengusap pelan kaki kakak iparnya itu. Emil hanya mengganggukkan pelan kepalanya satu kali.
Jalan lupa berikan komentar kalian yang menceritakan perasaaan reader setelah membaca bab ini. yang panjang ia biar author semakin semangat untuk tambah update nya.
__ADS_1