
"Emil, aku kira kamu sudah datang dari tadi?" tanya Park sembari menatap Emil yang sudah berada di sampingnya.
"Jika aku datang dari tadi mana mungkin, aku masih berada di sini," sahutnya dengan gerakan tangan memamerkan segepok uang dihadapan Park. Beberapa wanita menatap kearah Emil dengan bergidik jijik sebagai lagi pasti sedang membayangkan jika uang itu adalah miliknya.
Membulatkan matanya, "Apakah, kakakku yang memberikan uang saku itu untuk kamu?" tanya Park sembari mengerutkan keningnya.
Menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, "Ayo, kita ke kantin, aku akan membelikan kamu makanan apapun yang kau mau." Emil melingkarkan tangannya di lengan Park kemudian mereka melangkah bersama. Moodnya sekarang sedang baik sekali.
"Apakah kau dan juga kakakku tadi malah sudah melakukan, hubungan suami istri? Sampai dia memberikan kamu uang di pagi hari?" tanya Park dengan memberikan tatapan penuh selidik.
Melepaskan tangannya yang melingkar di bahu Park, kemudian memukul bahu sahabatnya itu karena merasa kesal dengan ucapannya, "Emangnya kamu pikir aku ini wanita seperti apa," ucapnya dengan nada suara penuh penekanan.
"Hei, jangan salah sangka, mungkin saja karena, kakakku merasa bahagia sebab ia sudah bisa menjebol gawang musuh, mangkanya kamu di kasih banyak uang," jelas Park dengan cengegesan. Halus sekali bahasa kamu nak 'menjebol gawang musuh," sepertinya author mulai menyukai kata-kata kamu itu.
"Aku masuk kedalam sendirian saja," ucap Emil sembari mencebikkan bibirnya dan melangkah cepat meninggalkan Park yang masih berada dibelakangnya.
"Emil tunggu aku." Park berlari menghampiri kakak iparnya itu.
_ _ _
Rumah Sakit
Jhong dan juga Hyouna sedang berbincang-bincang bersama, mereka berdua membicarakan tentang perkembangan hubungan antara Emil dan juga Lee yang semakin hari semakin bertambah mesra dan juga romantis saja. Mereka menginginkan keduanya benar-benar jatuh cinta dan hidup bersama selamanya, menua bersama seperti Jhong dan juga Hyouna.
Ketukan pintu membuat mereka berdua menghentikan perbincangannya. Hyouna menyuruh seseorang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.
Cklek!
"Surprise," ucap Narra dengan merentangkan kedua tangannya, tas jinjing pengeluaran hermes di genggamnya anggun.
Jhong dan juga Hyouna masih terdiam, mereka kaget sekali melihat Jim dan juga Narra yang datang dengan tiba-tiba. Hal ini menunjukkan jika surprise yang kedua besannya itu lakukan berhasil, sukses membuat mereka jantungan.
"Narra," Hyouna berhamburan kedalam pelukan sahabatnya, mereka berdua kini saling berpelukan untuk melepaskan rindu.
Jim melangkah mendekati Jhong yang kini sedang duduk di atas ranjang pasien, "Hai, bagaimana kabar kamu?" tanya Jim sembari memeluk tubuh sahabatnya sekilas.
__ADS_1
"Kabarku baik," sahutnya.
"Lekas lah sembuh, agar kita bisa berlari pagi bersama seperti waktu yang sudah lama berlalu," ucap Jim dengan mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang.
"Aku juga ingin kembali dimasa itu, di saat aku masih bisa berlari," ucap Jhong dengan tersenyum tipis.
"Bagaimana kabar kamu, Narra?" tanya Jhong.
"Baik sekali," sahutnya dengan tangan yang masih menggenggam erat pergelangan tangan Hyouna.
"Apakah kau tidak sedang sibuk?" tanya Hyouna sembari menatap kearah Jim.
"Aku akan berlibur di sini sampai beberapa hari, entah mengapa setelah mendapatkan kabar tentang perkembangan hubungan antara Emil dan juga Lee membuat aku tidak tenang dan ingin melihatnya secara langsung," sahut Jim.
"Apakah Emil tahu kalau kalian datang ke negara ini?" tanya Una.
"Tentu saja tidak, kami sengaja merahasiakan kedatangan kami," jawab Narra.
_ _ _
"Emil, Park. Apakah kalian berdua akan langsung pulang?" tanya Alan pada kedua gadis yang berada dihadapannya.
"Kami akan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu," sahut Emil. "Park, apakah kau sudah memesan taksi online?" tanya Emil sembari menatap kearah sahabatnya itu.
Menepuk pelan jidatnya, "Ya, Tuhan aku lupa," sahutnya dengan tersenyum kuda.
"Tidak perlu menghubungi Tadi online, biar aku saja yang mengantarkan kalian berdua," sahutnya dengan tersenyum.
"Baiklah." Emil tidak tega menolah sahabatnya itu jika melihat ekspresi wajahnya yang memelas.
"Emil kau duduk di depan saja," pinta Park. Alan pasti akan sangat kecewa jika Park sendiri yang duduk di bangku depan, Park cukup tahu diri dan sadar siapa gadis yang sedang Alan cintai.
Mendekatkan bibirnya di samping Park sembari berkata, "Apakah, kak Lee akan datang juga ke rumah sakit?" tanya Emil.
"Iya, tadi dia yang menyuruh aku untuk menaiki taksi online saja, sebab Kak Lee tidak bisa menjemput kita," jelas Park.
__ADS_1
Menarik Park lalu mendudukkan tubuh sahabatnya di kursi yang seharusnya ia duduki sembari berkata, "Kau duduk di depan saja, aku merasa pusing kepala jadi aku mau mengistirahatkan badan dibelakang," bohongnya. Bisa kena sembur suaminya jika ia duduk di samping Alan. Begitu pikir Emil.
Semua orang sudah berada di dalam mobil. Mobil ini terlihat sunyi hanya terdengar suara mesin mobil saja, beberapa kali Alan melihat kearah belakang dari spion yang berada diatas kepalanya.
"Emil, perlukah aku belikan kamu obat pereda sakit kepala dahulu di apotik?" tanya, Alan ia merasa cemas melihat Emil yang sedang berbaring di kuris belakang.
Alan sangat mencinta Emilia, raut wajahnya terlihat cemas sekali, bahkan manik matanya masih juga tidak bergeming melihatnya. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hatinya? Semakin aku berusaha melepaskannya semakin dalam juga aku jatuh cinta padannya.
Mendudukkan tubuhnya dengan cepat sembari berkata, "Ti-tidak perlu ... aku sudah merasa lebih baikan." Emil merasa bersalah sekali karena sudah membohongi Pemuda sebaik Alan.
"Apakah kamu yakin?" tanya Alan memastikan.
"Aku sangat-sangat yakin," sahutnya mantap.
Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh, Alan sampai juga di rumah sakit. Alan turun dari mobil terlebih dahulu, dengan gerakan cepat ia mengitari mobilnya untuk membukakan pintu Emil.
"Pelan-pelan saja, apakah kau masih merasa pusing sekarang?" tanya Alan sembari memegangi bahu Emilia.
Menepis pelan tangan Alan yang sudah berada di bahunya, "Aku baik-baik saja, aku bisa berjalan sendiri," sahut Emil.
Park tersenyum getir ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu tidak usah merasa khawatir aku akan menjaga Emilia," sahut Park meyakinkan.
"Bagaimana jika aku mengantarkan kalian masuk ke dalam rumah sakit saja, aku takut Emil pingsan." Alan masih merasa tidak tenang jika melihat wajah Emil kini semakin pucat.
"Sejak kapan dia berada di sana? Apakah tadi dia melihat Alan memeluk aku?" tanya Emil pada dirinya sendiri.
"Phuff." Tak bisa menahan tawanya setelah ia mengetahui kebenaran dibalik pucatnya wajah Emilia. Jelas saja wajah Emil pucat seperti ini jika di tatap tajam oleh seorang pria yang berdiri tepat di belakang Alan.
Hayoo tebak siapa pria itu?
Jika mau pesan hody kalian bisa japri Khairin Nisa. di Wa 08993487562 / Follow IG Khairin_junior.
__ADS_1