Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Mulai Terganggu Part 2.


__ADS_3

 


Emilia yang sedang memilih bra dan tertawa dengan Park segera mengarahkan pandangannya ke tangan orang yang sedang mengengam tangannya saat ini, Emil langsung tersenyum saat melihat Alan yang merupakan sahabat baiknya ada di sampingnya. Sedangkan Park menatap ke arah Alan dengan wajah kagum karena Alan begitu tampan dan juga modis dengan dandanan mirip boyband



 


 


"Alan, kau datang ke sini,"sapa Emilia dengan refleks memeluk Alan dengan sangat erat karena Emil tak menyangka jika Alan bisa menemukan dirinya tanpa menghubungi terlebih dahulu.


Alan bisa menemukan Emil melalui JPS yang ada di dalam ponselnya jadi tak heran jika Alan dengan sangat mudah bisa menemukan sahabatnya itu. Park masih tak bergeming menatap ke arah Alan yang kini sudah melepaskan dirinya dari pelukan Emil.


"Aku akan menemukanmu di manapun kau berada," sahut Alan dengan menaruh tangannya di bahu sahabatnya.


Di kota itu berpelukan dengan lawan jenis dan adalah hal yang biasa bahkan di negara di mana Park di besarkan itu juga merupakan hal yang biasa di lakukan. Jika di lihat dari cara Park saat ini melihat ke arah Alan seperti wanita itu memiliki ketertarikan pada pria tersebut bahkan sorot mata Park kelihatan berbinar\-binar saat melihat Alan sedang berbicara dengan Emilia.


"Alan perkenalkan dia adalah sahabat baikku dari kota Seoul, dia baru datang hari ini." Emil memperkenalkan Park dengan Alan.


"Namaku Alan," ucap Alan dengan mengulurkan tangannya menjabat tangan Park yang kini sedang berdiri di depannya.


"Park." Ucap gadis itu dengan menjabat ukuran tangan Alan dengan wajah malu\-malu namun Emil tidak menyadari akan hal itu.


"Ayo pulang!"


 


Ucap Lee dengan menatap Emil tajam sampai wanita itu yang sedang berbicara dengan Alan lekas menepis tangan Alan untuk menjauhi tubuhnya, Alan yang belum mengerti siapa pria yang sekarang berdiri di samping *Park* segera berbisik pada Emil dengan menaruh kembali tangani di bahu wanita tersebut.


__ADS_1


"Emil, siapa pria ini?" tanya Alan dengan mengerdipkan sebelah matanya pada Emilia seakan dia sedang menggodanya.



"Alan jangan seperti ini," gadis itu menepis tangan Alan untuk yang kedua kalinya "perkenalkan dia adalah kakak Park," imbuh Emil dengan mengeser sedikit tubuhnya untuk menjauhi sahabatnya itu.



Alan sedikitpun tak pernah merasa curiga dengan perubahan sikap Emilia padanya, jika biasanya Alan dan juga Emil berteman dengan sangat dekat bahkan bisa di bilang ini pertama kalinya Emil terlihat canggung saat bersama dengan Alan.



Emil begitu takut melihat tatapan tajam calon suaminya itu sebab pria itu terus menatapnya tanpa bergeming sedikitpun apa lagi saat Emil memperkenalkan dirinya sebagai kakak dari sahabatnya.



*Gadis ini berani sekali bermesraan di hadapanku, dia bahkan tak menyebutkan aku sebagai calon suaminya apakah dia malu memiliki calon suami seperti aku. Dia bahkan berani sekali tersenyum pada pria lain saat berada di hadapanku awas saja kamu ya setelah menikah nanti aku tidak akan pernah melepaskan mu dalam genggaman tanganku*.




"Hai perkenalkan aku sahabat Emilia, dan aku juga teman baiknya." Pria itu berbicara dengan nada suara terdengar bangga sembari mengulurkan tangannya di hadapan Lee.



"Ayo kita pulang, dan bilang pada teman mu aku tidak terbiasa berjabatan tangan dengan orang asing!" ucap Lee dengan mendahului semua orang keluar dari toko. Pria itu bicara dengan tatapan dingin dan wajah kelihatan arogan seakan dirinya sedang menunjukkan jika sedang tidak menyukai pria tersebut.



Alan hanya bisa meringis saja mendengar apa yang pria tersebut ucapkan, sedangkan Emil mulai melihat jika Alan merasa malu karena uluran tangannya di tolak mentah di hadapan banyak orang. Di saat toko itu begitu ramai ada suami istri yang sedang bingung memilih bikini untuk di kenakan oleh pasangan mereka ada juga seorang anak yang bertanya pada Mamanya tentang braa mana yang cocok untuk dia kenakan namun tak banyak juga dari mereka yang menatap ke arah Alan dengan menarik salah satu alisnya entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini hanya mereka saja yang tau.

__ADS_1



"Alan, sini biar aku saja yang jabat tanganmu sebagai permintaan Maaf," Emilia menyambar tangan Alan dan untuk menghilangkan rasa malu di hati sahabatnya itu.



"Park, lain kali jangan sembarang memegang tangan pria kau atau aku akan memotong pergelangan tanganmu itu!" sindir Lee dengan melirik ke arah Emilia.



"eh, Alan aku harus pergi dulu ya ada keperluan lain." Wanita itu berbohong karena dia merasa takut dengan ancaman Lee barusan bahkan Lee menarik salah satu senyumannya dengan masih melangkah keluar dari toko yang menjual pakaian dalam wanita.



Alan meminta Emil untuk menemaninya makan bersama di restoran yang biasanya mereka kunjungi, restoran yang berada di lantai atas ada di tengah\-tengah food court. Restoran yang di desain elegan dengan ada lampu Tumbler yang berada di dinding restoran tersebut dan juga di bawah lantai restoran itu ada hiburan ikan hias kecil yang di taruh di lantai dengan sedikit air kira\-kira air itu sampai ke mata kaki orang dewasa.



Suasana restoran yang terlihat sangat tenang dan juga memanjakan mata membuat orang yang sedang berkunjung ke restoran tersebut merasa betah jika berlama\-lama di sana. Emil selalu berkunjung ke sana setiap datang ke mall namun untuk pertama kalinya Emil menolak untuk datang ke restoran itu karena dirinya sedang merasa tertekan dengan kehadiran Lee yang selalu membuat hatinya merasa was\-was akan setiap ancaman pahit yang keluar dari bibirnya.



Alan hanya bisa mengiyakan ucapan Emil karena gadis itu menggerutu ingin segera pulang, Alan hanya bisa diam dengan mengiyakan keinginan sahabatan dengan berat hati.



"Park hati\-hati di jalan," ucap Alan mencoba bersikap sok akrab pada gadis yang baru saja dia kenal, Park hanya menganggukkan pelan kepalannya dengan tersenyum manis pada pria yang baru dia kenal barusan.



Park dan juga Emil bergandengan tangan dan mereka mengekor di belakang Lee yang sedang berjalan menuju parkiran Mall tersebut. Emil tak hentinya menggerutu dalam hati dengan kesal saat mengingat setiap ancaman yang selalu menjadi andalan pira yang sedang berada di hadapan itu saat menaklukkan dirinya.

__ADS_1



Jangan menggerutu dalam hati!" Ucap Lee saat dirinya membuka kunci mobil dengan mata menatap Emil yang juga membuka pintu mobil dengan saling berhadapan. Emil menelan Saliva yang terasa getir dengan tersenyum datar menatap ke arah Lee.


__ADS_2