Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Berjumpa dengan Istrinya


__ADS_3

Lee melangkah keluar dari kabut berwarna putih pekat, ia mengedarkan pandangan ke sekitar nya. Tempat ini terlihat seperti hutan namun sangat indah sekali persis seperti dalam negeri dongeng, ada Pegasus berwarna putih bersih seperti yang ada di dalam mitos, Lee mengamati sekitarnya dengan bingung kenapa dia ada di sini?


Bukankah tadi ia sedang tidur di samping istrinya, tapi mana mungkin saat terbangun ia malah berada di tempat ini. Lee melangkah menelusuri hutan yang di penuhi dengan banyak bunga mawar, ia melihat danau berada lumayan jauh darinya, tidak sengaja melihat bayangan seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai bagaikan peri dalam dongeng. Wanita itu mengunakan gaun berwarna putih membentuk tubuhnya yang langsing, ada bandana berbentuk bunga di kepalanya yang semakin mempercantik parasnya.


Kedua bola mata pria itu langsung membulat dengan begitu sempurna saat wanita bergaun putih tersebut sedang tersenyum secerah sinar mentari pagi yang siap menghangat bumi. Ya, benar itu adalah Emilia istrinya, gadis kecil yang sangat ia rindukan senyum manisnya, sikapnya yang manja berhasil membuat Lee candu.



Emil belum menyadari kehadirannya, ia masih bermain dengan kelinci berwarna putih di dalam pangkuannya.


"Sayang," teriak Lee dengan lantang.


Gadis itu menoleh kearahnya kemudian melepaskan kelinci yang tadi sempat bermain di pangkuannya. Emil berdiri dari posisi duduknya dengan tersenyum kearah suaminya.


“Sayang,” balas Emil sembari merentangkan kedua tangannya


meminta untuk suaminya segera memberikan pelukan padanya.


“Sayang, tetaplah di sana,” ucap Lee. Ia berlari secepat yang ia bisa, jarak mereka cukup jauh namun pria itu tidak perduli dengan kakinya yang mulai lemas karena terus berlari hingga akhirnya ia terjatuh di


tanah karena lelah kemudian kehilangan kesadarannya.



Selang beberapa waktu, Lee membuka matanya, ia melihat wajah


Emil yang menatapnya dengan senyuman tipis, senyuman Lee mulai terbit dari bibirnya, Lee bangun dari pangkuan istrinya kemudian mendekap tubuh wanita itu dengan erat mencoba melepaskan segala kerinduan yang begitu menyiksa dadanya bahkan satu tetes air mata Lee tanpa sadar jatuh membasahi pipinya, namun dengan cepat ia mengusap cairan bening itu karena tidak ingin sang istri melihatnya.


“Sayang, aku sangat merindukan kamu,” ucap Lee setelah melepaskan pelukannya. Tidak hentinya ia mengecup seluruh wajah istrinya karena rasa rindu yang seakan meledak di hatinya.


Tersenyum manis, kemudian mengusap wajah tampan suaminya, “Sayang, kamu jangan mengkhawatirkan aku lagi, lihatlah tempat ini sangat indah sekali,”


ucap Emil sembari mengedarkan pandangannya sekitar.


“Kalau kamu ingin berada di tempat ini, maka aku akan tetap di sini


bersama dengan kamu,” pinta Lee dengan kembali memeluk tubuh istrinya dengan erat seakan ia tidak mau jika sampai gadis itu meninggalkannya lagi. Karena Lee


merasa hidup tapi jiwanya mati.


Melepaskan pelukan suaminya lembut dengan tersenyum manis,


Emil mengecup bibir suaminya sekilas, “Kamu tidak bisa ikut bersama denganku, tempat kamu bukan di sini,” ucap Emil dengan tersenyum manis.

__ADS_1


“Aku tetap akan tinggal di sini, Sayang,” ucap Lee. "aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri," imbuh Lee dengan keyakinan yang terpancar jelas dari manik matanya itu.


"Percayalah, suatu saat kita akan bersama namun aku tidak tahu kapan hari itu akan terjadi. Kau harus tetap menjaga hati kamu untukku, Sayang sampai aku kembali ke sisi kamu lagi," pinta Emil. Emil berdiri dari posisi duduknya, ia mengajak Lee melangkah mendekati kabut putih yang tadi membawanya kemari, Lee tidak mengerti akan maksud istrinya itu. Pun ia masih melangkah di samping istri kecilnya.


“Sayang waktu kamu sudah habis, sekarang pergilah dan katakan pada semua orang jika aku baik-baik di sini,” ucap Emil sembari mengecup wajah suaminya lalu mendorong tubuh Lee kedalam asap putih tersebut dengan melambaikan tangannya, senyuman manis tidak lupa terukir dari bibirnya.


_ _ _


“Sayang.” Lee langsung bangun dari posisi tidurnya, ia menatap kearah sang istri yang masih sama, dalam keadaan koma. Pria itu mengusap wajahnya yang di basahi oleh seluruh keringat dingin. “Sayang, seharusnya kamu membiarkan aku bersama denganmu,” ucap Lee sembari kembali membaringkan tubuhnya di samping sang istri kemudian memeluk tubuh itu posesif.


Lee baru saja selesai mandi, ia menatap sang istri yang sudah terlihat cantik dengan lipstik natural di bibirnya, Lee melihat apa yang


di lakukan oleh Mama Una kemarin dengan teliti, kini ia mempraktekkannya sendiri dengan memoles bibir sang istri. Setelah bangun tidur hal pertama yang


Lee lakukan adalah menyeka tubuh sang istri kemudian mengantikan bajunya.


“Sayang, hari ini aku tidak bisa menemani kamu lagi karena


ada pekerjaan penting yang tidak bisa aku tinggalkan, namun aku janji jika


pekerjaanku sudah selesai, aku akan langsung kemari untuk membacakan


kelanjutan novel yang kemarin.” Usai bicara Lee langsung mengecup puncak kepala istrinya kemudian keluar dari ruangan ini.


“Baiklah, Ma,” sahut Lee dengan wajah terlihat sumringah hal itu membuat semua orang mengerutkan keningnya heran sebab tidak biasanya mereka melihat wajah pria itu gembira seperti ini. Muncullah pertanyaan dalam benak ketiga orang tersebut.


“Ma, kenapa dengan, Kak Lee?” tanya Park dengan nada suara lirih di samping telinga mamanya.


“Coba kamu tanya, Mama juga merasa penasaran sekali.” Park


menjawab dengan anggukkan kepala setuju.


“Kak Lee, apakah kamu habis memenangkan tender besar? Kenapa


kelihatan bahagia sekali?” tanya Park sembari memasukkan roti dengan tambahan selai coklat kedalam mulutnya.


“Kebahagiaan yang sedang, Kak Lee rasakan malah lebih besar


dari pada memenangkan tender,” sahut Lee dengan mengoleskan selai kacang ke roti gandum nya.


“Bisakah kamu jelaskan pada kami, agar kami juga bisa merasakan kebahagian kamu itu,” imbuh Jhong dengan wajahnya yang terlihat antusias sekali.


Lee menceritakan tentang mimpinya semalam, ia juga menceritakan secara detai pertemuannya itu dengan sang istri bahkan Lee tidak

__ADS_1


lupa menyampaikan pesan Emil pada mereka semua. Wajah Jhong, Una dan juga Park yang tadi terlihat bahagia mulai berubah menjadi sedih mendengarkan perkataan Lee. Mereka melanjutkan sarapan pagi dengan menutup mulut mereka rapat.


ketiganya sibuk dengan pemikiran masing-masing sedangkan Lee sendiri masih tersenyum saat mengingat jika ia sudah bertemu dengan istrinya walaupun di dalam alam mimpi namun itu terlihat nyata baginya. Ketiga orang itu sesekali melihat kearah Lee.


Una menundukkan kepala ia menyeka cairan bening dari manik matanya. Ia begitu hancur melihat sang putra seperti ini.


“Ayo, kita berangkat sekarang,” Ajak Lee pada Park yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya.


“Iya,” sahut Park. “Ma, Pa. Park dan juga, Kak Lee akan berangkat dulu,” pamit Park pada kedua orangtuanya dengan mengecup kedua pipi mereka secara bergantian.


“Hati-hati di jalan jika, Kak Lee membawa mobil dengan kecepatan penuh sebaiknya kau marahi dia,” ucap Una yang tentu saja bercanda


dengan apa yang barusan ia bicarakan itu.


“Tenang saja, Ma, Pa. Lee akan menjaga adik kesayanganku ini


dengan baik.” Usai bicara Lee dan juga Park langsung melangkah keluar dari ruangan ini.


Kampus.


“Kak Lee, nanti tidak usah menjemput aku, aku akan pergi jalan-jalan bersama dengan, Alan,” ucap Park.


Deg.


Lee terdiam sesaat, ia baru ingat dengan apa yang di katakan oleh Emil kalau istrinya itu ingin menyatuhkan Alan dan juga Park. Lee langsung


mengganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan adiknya itu. Park menutup pintu mobilnya kemudian melangkah masuk ke kampusnya, Alan yang sedang duduk di taman


depan kampus segera menghampiri adiknya itu. Keduanya terlihat sangat serasi sekali begitu pikir Lee.


“Sayang, aku akan mewujudkan keinginan kamu,” gumam Lee


lirih.


Tempo hari ia menyuruh asisten Luwis untuk menyelidiki latar belakang, Alan dan benar apa yang di katakan oleh istrinya tempo gari bahwa Alan adalah pemuda


yang baik dan tidak terlalu suka bergaul di club malam seperti kebanyakan pemuda seusianya.


author dan juga reader itu ibaratkan simbiosis mutualisme, kita sama-sama menguntungkan. Author update teratur dan reader bantu author untuk memperbaiki mood dengan memberikan vote, like dan juga komentar positif mengenai perasa kalian setelah membaca bab ini.


ikuti akun mangatoon Khairin Nisa dan follow Ig Khairin_junior


             

__ADS_1


__ADS_2