Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Merasa Bersalah


__ADS_3

Emil langsung mengambil tissue yang ada di atas meja untuk mengelap laptop yang sudah basah itu, Lee memegangi tangannya dengan


mengerutkan kening seperti orang yang sedang marah.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Lee dengan rahang yang sudah mulai berkedut.


“Kamu boleh marah padaku, Sayang karena memang aku yang salah.” Emil menarik tangannya dari genggaman sang suami kemudian kembali


mengelap laptop itu lagi walaupun ia sudah tahu dengan sangat jelas jika laptop ini mungkin sudah mulai eror setelah tersiram kopi hangat tadi.


“Aku tidak perduli dengan benda ini,” ucap Lee sembari keluar dari ruangan kamarnya.


“Sayang, jangan marah,” ucap Emil dengan nada suara yang sudah


mulai terdengar gemetar.


Perasaan bersalah semakin menyiksanya ia menitihkan air mata


sedih karena telah mengacaukan pekerjaan suaminya padahal pria itu selalu saja menjaganya saat masih berada di rumah sakit, tapi hanya karena seekor serangga ia malah


lepas kendali seperti ini. Cairan bening sudah membasahi kedua pipi Emil. Ia menoleh kesana kemari takut jika serangga penggangu itu balik lagi, ia begitu geli sekali dengan serangga tersebut.


Lee yang sudah berada didalam ruangan kamar ini entah kapan pria itu masuk kedalam lagi Emil tidak menyadarinya karena ia terlalu fokus dengan rasa bersalahnya itu.


“Sayang, maafkan aku,” ucap Emil lagi dengan sesenggukan.


Lee menyuruh Emil untuk duduk di sudut ranjang kemudian ia ikut mendudukkan tubuhnya di ruang kosong samping istrinya itu.


“Kenapa kamu menangis?” tanya Lee sembari mengusap cairan bening yang sudah membasahi wajah istrinya itu.


“Kamu marah padaku, pasti karena aku merusak, Laptop dan


juga pekerjaan kamu itu,” sahut Emil di sela-sela tangis sesenggukan.


“Aku bisa membeli ribuan barang seperti itu dan masalah pekerjaan, Aku bisa mengulanginya lagi dari awal, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti ini hanya karena hal sempele seperti itu," jelas Lee dengan masih menatap istrinya itu.


“Maafkan aku, aku selalu merepotkan kamu, Sayang. Aku benar-benar wanita yang tidak berguna,” ucap Emil sembari menatap suaminya dengan pandangan nanar karena tertutup oleh cairan bening.

__ADS_1


“Tadi aku marah bukan karena semua itu, tapi karena kamu tidak menjaga diri kamu.” Ucap Lee memberikan penjelasan karena tidka ingin istri kesayangannya itu sampai salah paham padanya. “Dan jangan sekalipun kamu mengatakan jika, kamu istri tidak berguna. Asalkan kamu tahu, kamu lebih berharga dari harta yang aku miliki, karena di dalam senyuman kamu juga terdapat kebahagiaanku, jika kamu menangis maka aku adalah orang yang paling bersedih.”


Emil semakin menitihkan air matanya ia tidak mengira dengan penjelasan yang telah suaminya itu katakan barusan. Sebesar ini lelaki itu mencintainya dan ia sangat beruntung sekali. Begitu pikir Emil.


“Kemari kan tangan kamu, biar aku berikan salep untuk mereda rasa nyerinya,” ucap Lee.


Emil memberikan tangannya pada suaminya untuk di obati. Sebelum mengoleskan salep itu di tangan sang istri Le lebih dulu meniupnya


kemudian mengoleskan salep tersebut perlahan dan meniupnya lagi. Gerakan tangannya lembut sekali sehingga membuat Emil tidak merasakan sakit sedikitpun.


Setelah selesai mengolesi salep tersebut, ponsel Emilia berdering, ia hendak berdiri untuk mengambil ponsel tersebut namun Lee segera menghentikannya karena dia akan membawakan ponsel itu pada sang istri.


Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan tersebut, seorang pelayan masuk kedalam ruangan kamar ini setelah Lee menyuruhnya. Tadi Lee


meminta pelayan untuk membersihkan ruangan kamarnya dari tumpahan kopi hangat. Lee bahkan sangat menyesal sekali telah meminta istrinya itu untuk membuatkan kopi untuknya andaikan saja tadi ia tidak meminta sang istri untuk melakukan hal itu pasti hal seperti ini tidak akan terjadi.


“Mama, yang menghubungi kamu,” ucap Lee sembari memberikan


ponsel itu pada sang istri.


layar ponselnya dan tidak butuh waktu lama panggilan video itu langsung tersambung.


“Mama, Emil sangat merindukan, Mama dan juga Papa,” rengek Emilia setelah ia melihat wajah Mama dan juga Papanya di layar ponselnya.


“Kami juga sangat merindukan kamu,” mengarahkan kamera ponselnya ke sekitar rumahnya yang terlihat sepi sekali. “Lihatlah rumah ini terlihat sunyi tanpa kehadiran kamu,” ucap Narra.


“Emil akan berkunjung ke sana,” ucap Emil dengan melihat kearah Lee yang kini sudah berdiri disampingnya.


“Tentu saja kamu harus ke sini untuk melakukan fitting baju pengantin,” ucap Narra dengan tersenyum lebar.


Saat Emil masih di rumah sakit Narra dan juga Una merencanakan untuk mengadakan resepsi pernikahan pada Emil dan juga Lee. Keduanya dulu menikah hanya disaksikan oleh keluarga mereka saja. Walaupun


semua orang kini sudah tahu jika Emil dan juga Lee sudah resmi menjadi pasangan suami istri, tapi tetap saja mereka harus mengadakan resepsi pernikahan. Dan Una sendiri yang secara langsung me desain baju pengantin untuk anak menantunya itu.


“Apa maksud dari ucapan, Mama barusan?” tanya Emil pada mamanya yang masih tersambung di vidia call.


“Lee tolong jelaskan pada istri kamu. Mama dan juga Papa ada urusan mendadak dan harus keluar rumah, jaga Emil baik-baik ya,” ucap Narra.

__ADS_1


“Lee, akan menjaga putri Mama dan juga Papa yang sangat cantik ini,” ucap Lee dengan iseng mengecup pipi Emil sekilas.


Narra dan juga Jim langsung membulatkan matanya dengan


mengelengkan kepala melihat sikap Lee yang sudah bisa bercanda seperti ini. Awal menikah dengan Emil Lee sangat kaku dan juga tidak suka bercanda, tapi lambat-laun


semua itu mulai berubah ia suka bercanda mirip seperti Emil yang selalu ceria setiap saat.


“Ya sudah, Mama tutup sambungan teleponnya dulu ya,” pamit Una yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Lee dan juga Emil.


Setelah panggilan telepon itu mati Emil langsung memukul lengan suaminya sembari berkata, “Sayang, apa yang kamu lakukan?” tanya Emil


kesal.


“Apa yang aku lakukan?” tanya Lee pura-pura bodoh padahal ia tahu dengan sangat jelas apa yang baru saja di katakan oleh istrinya itu.


“Kamu mencium aku di depan, Mama.” Emil memberikan tatapan


intimidasi pada suaminya.


“Oh, itu.” Lee hanya menjawab dengan santai.


_ _ _


Semua orang sedang berada di meja makan untuk melakukan malam malam.


“Park, bagaimana dengan pekerjaan kamu?” tanya Lee pada Park sembari mengunyah makanan di mulutnya.


Menatap kearah kakak iparnya itu sembari berkata, “Semua beres, Kak siapa dulu yang mengerjakannya.” Park berbicara dengan air muka


terlihat bangga sekali.


“Bagus,” puji Lee secara terang-terangan ia sudah tahu jika


adiknya itu selalu bisa ia andalkan.


Jangan lupa mampir juga ke novel Hallo musuh ya.

__ADS_1


__ADS_2