
“Ma, Pa, Emil dan juga Lee pulang lebih dulu.” Setelah berpamitan Lee langsung mengandeng tangan istrinya posesif keluar dari ruangan
ini.
Kediaman Lee.
Lee masih sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya, sebenarnya tadi Lee masih belum menyelesaikan perkerjaanya namun ia tidak tega
jika harus meninggalkan istrinya sendiri di rumah sebesar ini. Akhirnya Lee memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah saja sembari menemani sang
istri kecil yang sudah membuatnya candu.
Emil masuk kedalam ruangan ini dengan membawa nampan di
tangannya, sepertinya gadis kecil ini benar-benar berniat untuk merayu suaminya agar pria itu tidak melihat lomba menyanyi besok. Emil meletakkan nampan dan juga cemilan itu di samping suaminya, kemudian ia berdiri di belakang suaminya yang masih fokus ke layar laptop.
“Sayang, kamu sibuk sekali ya?” tanya Emil dengan kedua tangan memijat pundak suaminya.
Mengalihkan perhatiannya dari laptop untuk melihat istri kecilnya, “Aku memang sangat sibuk, tapi kamu adalah prioritas utama, jadi aku
akan mendahulukan kepentingan kami terlebih dahulu,” ucap Lee. Dan dengan gerakan cepat pria itu langsung menagkap pingang istrinya kemudian mendudukkannya di
pangkuannya.
“Sayang, kamu membuat aku kaget saja,” gerutu Emil.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Lee dengan menatap wajah cantik istrinya.
Gawat ini jika sampai dia memutuskan untuk datang, “Aku tahu
kamu sangat sibuk, acara ini tidak penting jadi besok kamu tidak usah datang ke kampus untuk melihatku lomba menyanyi.”
Lee hendak membuka mulutnya untuk menjawab namun Emil langsung menyatuhkan bibir mereka berdua untuk membungkam mulut suaminya. Lee tersenyum tipis melihat sikap istrinya ini. Lee
mengendong tubuh Emil tanpa melepaskan pangutan mereka. Lee menjatuhkan pelan tubuh istrinya di atas ranjang dengan tangan lincah menelusuri tubuh istrinya setiap inci. Adegan selanjutnya bisa kalian bayangkan sendiri ya.
__ADS_1
_ _ _
Panggung yang begitu besar dengan sorot lampu beraneka warna sudah menyorot tepat ke panggung, semua penonton telah bersora-sorak mendukung teman mereka masing-masing. Kini yang masih belum tampil hanya Helena, Emil dan
juga Park saja.
Park tidak hentinya menatap kearah panggung, jantungnya berdetak dengan begitu kencang ia sudah tidak sabar melihat pertunjukan Emil dan
juga Alan. Ia ingin melihat hasil dari latihan kedua sahabatnya itu setiap
hari.
“Helena, Helena, Helena. Ayo semangat kamu pasti menang,”
ucap Lotie dan juga Banu dengan meloncat-loncat heboh sendiri.
Park langsung menatap ke atas panggung, kini ia melihat Helena sedang melangkah dengan anggun lengkap dengan mengunakan gaun mahal yang terlihat begitu berlebihan sekali dengan banyaknya mutiara yang memutari gaun tersebut. Helena memang ingin terlihat cantik ia suka sekali mengenakan baju lebih mewah dari yang lain, namun wanita itu tidak sadar jika apa yang ia kenakan tidak jarang membuat orang memandang sebelah mata karena aksi pamernya
itu.
“Alan, aku sangat gugup sekali, kau lihatlah itu penampilan Helena sangat bagus sekali dan suaranya juga begitu merdu,” puji Emil dengan
wajah panik bukan main.
Menggengam kedua tangan Emil untuk memberikan kekuatan moral
untuknya, “Percayalah padaku, kamu jauh lebih cantik dan suara kamu juga jauh lebih bagus darinya, kau memiliki ciri khas tersendiri jadi jangan pernah
merendah demi gadis seperti itu.” Memberikan jeda untuk kalimatnya. “Apakah kamu ingin dia mengalahkan kita? Kau ingin di permalukan dan di rendahkan oleh orang sepertinya selama melanjutkan kuliah di kampus ini?” imbuh Alan. Ia mencoba untuk memprovokasi semangat sahabatnya itu.
“Tidak, aku tidak akan kalah darinya. Alan, ayo kita berjuang, kita berdua pasti menang aku percaya itu.” Emilia mengucapkan kata tersebut dengan mantap. Ia menutup kembali tirai panggung dan selang beberapa
waktu pembawa acara memanggil nama mereka berdua. Setelah mereka tampil semua para juri akan memilih salah satu pemenang di antara sekian banyaknya orang yang ikut lomba.
“Emil, Alan. Ayo tunjukkan kemampuan kalian,” teriak Park
__ADS_1
memberikan semangat kedua sahabatnya itu. Park mengedarkan pandangannya guna untuk mencari keberadaan kakak kandungnya, hembusan nafas lega terdengar lolos
dari bibirnya ketika ia tidak melihat pria yang sedang ia cari di barisan paling depan.
Emil dan juga Alan keluar dari belakang panggung dengan senyuman mengembag di kedua bibir mereka bahkan tangan mereka juga saling bergandengan untuk mendukung duet romantis keduanya. Semua orang bersorak heboh
melihat wajah cantik dan juga tampan kedua pasangan duwet yang sangat serasi sekali itu. Pantas saja keduanya di juluki pasangat duwet paling romantis di kampus mereka yang lama.
Park terdiam sesaat, ia merasa cemburu melihat Alan menggengam erat tangan Emilia seakan tidak ingin melepaskannya namun sesaat
kemudian ia mulai menepis pikiran itu jauh dari hatinya, mana mungkin ia merasa cemburu dengan kakak iparnya sendiri lebih lagi Emilia begitu baik dengannya, hanya karena satu pria tidak mungkin Park merelakan hubungan yang sudah ada ternodai hanya karena cinta sebelah tangan yang kini ia rasakan.
Park dan juga Emil menyanyi dengan wajah penuh penghayatan bahkan sesekali mereka berdekatan menyesuaikan dengan irama lagunya. Emil hanya menatap Alan dan begitu juga sebaliknya, hingga ia tidak sadar jika ada sepasang mata yang kini sedang mengamatinya dengan tajam siapa lagi pria itu jika bukan Lee orangnya. Lee ternyata duduk tepat di belakang Park namun adiknya itu masih tidak menyadari akan hal tersebut karena ia tadi hanya melihat beberapa orang yang duduk di barisan terdepan, mereka adalah orang-orang penting jadi mana mungkin kakaknya duduk di barisan belakang, begitu pikir Park.
“Alan, aku merasakan ada yang aneh dengan sepatu heels yang sedang aku kenakan,” ucap Emil pada Alan lirih agar tidak terdengar oleh semua orang.
“Pasti ini semua rencana, Helena untuk mempermalukan kamu,”
balas Alan. Ia melihat sepatu heels yang sedang Emil kenakan hampir lepas. Sedangkan lagunya masih kurang beberapa lirik lagi, Alan langsung mengendong Emilia untuk mencegah teman duwetnya tersebut agar tidak jatuh. Semua orang langsung bersorak heboh melihatnya.
“Kalian sangat cocok sekali, jadilah sepasang kekasih,” Semua orang bersorak dengan memotret mereka berdua.
Duk! Park merasakan kursinya di tendang oleh seseorang,
dengan wajah merah padam ia memutar kepalanya sembari berkata.
“Apakah kau tidak bisa duduk dengan ben …,” ucapan Park langsung terhenti ketika ia melihat Lee yang duduk di belakangnya.
Emil melihat wajah Lee yang sudah mirip kepiting rebus, pria itu tetap diam sembari melihat lurus kearah panggung, sorot matanya seakan membakar tubuh Alan yang kini sedang menatap wajah cantik istrinya dengan jarak yang sangat dekat. Darahnya terasa mendidih sekali melihat Emil ikut menatap akan dengan melantunkan lagu ya.
Lee kau harus sabar itu hanyalah akting saja.
__ADS_1