Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Suami Istri Par 1.


__ADS_3

Emilia langsung membuka semua matanya lebar\-lebar saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Narra barusan. Dia tak menyangka sebelumnya jika acara pernikahan yang tidak ingin dia lakukan malah di percepat. Mata Emil terlihat berkaca\-kaca karena dia tidak menyangka jika hari yang akan membuat masa mudanya berubah menjadi pernikahan yang tidak pernah dia inginkan akan datang secepat ini bahkan di dalam mimpi saja Emil tidak ingin melihat hal ini terjadi.


 


      Pernikahan adalah suatu hal yang paling di damba-dambakan oleh seorang wanita, bukan hanya dengan pria kaya raya dan juga


memiliki masa depan cermerlang namun juga dengan pria yang dia cintai. Kebanyakan


wanita akan bahagia di hari pernikahannya dengan sang calon suami namun hal itu justru tidak terjadi pada Emilia, di hari pernikahannya Emil justu merasa bersedih dan juga merasa sangat tertekan hingga tanpa sadar air matanya mulai jatuh


membasahi pipinya wajah cantiknya setelah selesai di rias tidak wanita itu


perdulikan lagi.


       Emil tak pernah menyangka jika dia akan menikah dengan pria yang selalu bebicara kasar padanya lebih lagi pria itu selalu saja mengancam dirinya lalu bagaimana dengan


kehidupanya setelah ini, walaupun Emil dan Lee sudah mempunyai perjanjian sebelum


menikah namun tetap saja semua itu tidak bisa membuat hati emil merasa lebih


tenang.


      Menyeka air mata yang membasahi pipinya, “Ma, haruskah aku melakukan semua ini? Emil tidak menginginkannya.” Gadis itu bicara dengan mencoba menarik nafasnya perlahan agar hatinya terlihat sedikit lebih tenang namun itu masih tidak mengubah


perasaan kalut dalam hatinya.


        “Sayang, Mama mohon penuhilah permintaan dari sahabat Papa dan juga Mama, hanya dengan membuat putranya menikah denganmu itu mungkin akan memperlambat kematiannya atau mungkin akan ada keajaiban yang akan datang hingga membuat penyakit yang telah lama di derita oleh sahabat baik kami itu bisa mengihilang.”


      Narra mencoba menyakinkan putrinya jika dia harus menikah saat ini juga karena Narra dan juga Jim akan sangat menyesal jika sampai keinginan terakhir sahabatnya itu tidak bisa di kabulkan lebih lagi Narra dan juga Jim percaya tidak ada pria yang


lebih baik dari Lee untuk menikah dengan putrinya. Narra sempat ragu dengan


pernikahan mereka namun dia percaya jika waktu yang akan berjalan bisa membuat


rasa benci di hati putrinya berubah menjadi cinta pada anak dari sahabatnya.


      Di luar ruangan.


     Lee yang sudah mulai curiga dengan baju tuxedo yang sedang ia kenakan. Lee mulai menyapu semua orang yang ada di dalam ruangan itu dia melihat Park yang juga sudah

__ADS_1


berganti baju mewah dengan belahan dada menutupi bagian tubuhnya, adik yang


sangat dia sayangi kini sudah menjadi gadis remaja dia terlihat cantik dengan


mengenakan dress berwarna navy seperti sekang. Una mengunakan baju layaknya


seorang ibu yang akan menyaksikan pernikahan anaknya.


      Lee bertanya pada Una, dan wanita itu menjawab apa adanya jika mereka akan menikah saat ini juga pada awalnya Lee sangat ragu dan juga rasa cemas saat ini sedang menyelimuti tubuhnya karena dia takut dengan apa yang emil lakukan jika


mengetahui pernikahan mereka apa di percepat beberapa hari lebih awal.


        Una menyakinkan putranya jika Emil sudah menyetujui hal ini, belum selesai Una


menjelaskan terlihat Emil dan juga Narra mulai keluar dari balik pintu kamar


yang ada di dalam ruangan itu. Semua orang melihat ke arah emil yang kini sudah


berganti baju mengenakan gaun pengantinya yang terlihat simple namun juga


terlihat sangat serasi membalut tubuh rampingnya.


lekas berjalan mendekati calon kakak iparnya itu dengan senyuman terbit di bibirnya.


        “Emil kau sangat cantik seperti bidadari, aku sangat bahagia kau sebentar lagi akan


menjadi kakak iparku,” ucap Park dengan mengandeng lengan kanan Emil.


      “Kau berusaha merayuku, aku tidak akan termakan oleh rayuan gombal mu itu Park,” balas Emil dengan memaksakan senyuman di bibirnya.


      Kristal bening di mata gadis itu sedang mengenang di pelupuk matanya, seolah ada rasa sakit yang tidak bisa dia utarakan dan hanya bisa dia simpan saja dalam hati. Emil


tidak ingin mnegecewakan ke dua orang tuanya lebih lagi jika dia mengingat


akan penyakit yang kini sedang mengerogoti sahabat Papa nya itu. Jhong sedang


menyandarkan punggungnya di ranjang pasien wajah pria paruh baya itu terlihat


pucat pasih dengan tangan masih tertancap infus.

__ADS_1


      Kondisinya masih sangat lemah mungkin karena marasa bahagia akan melihat putranya akhirnya menikah walaupun Una masih merasa khawatir jika wanita yang membuat Lee terluka beberapa tahun lamanya akan kembali masuk ke dalam kehidupan putranya namun jika hal itu sampai terjadi Una berdoa pada tuhan agar rasa cinta di antara


kedua pengantin yang sekarang sedang mengucapkan janji pernikahan itu sudah


tumbuh di antar keduanya.


       Pendeta yang menikahkan Emil dan juga Lee sudah keluar dari ruangan itu, kini Emil dan juga Lee sudah menjadi pasangat suami-istri namun mereka masih saja menjaga jaak seperti sebelumya.


      Park berjalan mendekati Emil dengan membawa bungkusan kado berwarna Pink di tangannya entah apa isi dari kado tersebut. Park segera memberikan selamat pada seorang gadis yang beberapa menit yang lalu masih menjadi sahabatnya namun sekarang sudah berubah menjadi kakak iparnya.


      Emil terus memaksakan senyum di wajah cantiknya dan Lee juga sangat menyadari hal itu namun dia hanya bisa diam selagi Emil tidak membuat kesalahan. Narra dan juga Jim


memeluk putri mereka, putri yang selama ini selalu saja mereka manja dan juga jaga kini harus mereka relakan di jaga oleh pria lain. Narra menangis dengan memeluk tubuh putrinya itu karena dia sudah membayangkan jika hari-hari mereka akan berubah menjadi sunyi dan hampa tanpa tawa renyah yang biasa keluar dari bibir putrinya itu dengan suara canda tawa yang selalu mampu memecahka kesunyian di dalam rumahnya.


        “Ma, jangan menangis kau bisa tinggal bersama ku.” Emil bicara dengan wajah kelihatan serius.


       “Untuk beberapa hari ini kami akan tinggal di rumahmu Nak,” sahut Narra dengan menyeka air mata yang jatuh di kedua pipinya.


        “Apa maksudnya Ma? Bukankah aku akan tinggal bersama dengan Emil dan juga BI, eh maksudku Mama Una,”


Emil belum terbiasa Menganti panggilan Bi Una menjadi Mama Una, itu masih membutuhkan waktu karena status barunya sekarang menjadi menantu keluarga Jhong yang di kenal sangat kaya dan juga paling di segani di kota itu.


       Emil masih kesulita mencerna apa yang di ucapkan oleh Mamanya barusan. Sebab Emil mengira jika dia akan tinggal satu rumah dengan Park dan juga Una namun kenyataanya Jim dan juga Narra malah sudah membelikan rumah yang jaraknya tiak jauh dari rumah Park berada. Awalnya Lee menolak hal tersebut namun karena Narra dan juga Jim terus memaksa jadi pria itu hanya bisa mengiyakan keinginan mertuanya tersebut. Lee sudah menduga jika Emil pasti akan menolak apa yang di ucapkan oleh Narra namun wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu mencoba membujuk anaknya dan Emil mengiyakan hal yang di inginkan oleh Narra dengan\=gan berat hati.


           “Sayang, pulanglah lebih dulu dan lihat rumah barumu,” ucap Narra dengan mengecup kedua pipi anaknya itu.


       “Ma, aku mau pulang bersama denganmu,” renggek emil dengan bergelayutan manja di lengan Mamanya itu.


          Lee melirik geli ke arah wanita yang baru dia nikahi itu karena dia tidak menyangka jika sudah menikah dengan anak kuliah yang masih merenggek terus pada Mamanya namun apa yang bisa Lee lakukan karena hanya hal ini yang bisa membuat kedua orang tuanya merasa bahagia.


        “Kau sudah menikah sayang mana boleh kamu masih manja seperti ini,” sahut Narra dengan melepaskan tangan anaknya yang sejak tadi bergelayutan di lengan kananya, “ini


baru benar kamu harus gandeng tangan suamimu sekarang.”


     Narra degan sengaja menarik tanggan Lee dan menyatuhkannya dengan tangan putrinya, wajah cantik Emil langsung kelihatan memberengut dan hendak menarik balik tangannya namun Lee segera mengenggam tangan itu erat-erat sampai emil menyerah dan membiarkan pria itu mengandeng tangannya.


      Semua orang yang ada di ruangan itu bernafas lega melihat kedua pengantin tersenyum dengan bergandengan tangan.


*Bagaimana ini aku akan satu rumah dengan pria ini, bisa habis aku Mama Papa tolong selamatkan aku dari pria mesum ini*.

__ADS_1


__ADS_2