Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Ketakutan.


__ADS_3

Ketika Alan dan juga Emilia sedang tertawa terkekeh tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Emil bergetar dari


atas meja makan itu. Emil melihat nomor yang tertera di layar ponselnya itu, matanya langsung membulat seketika setelah melihat nama Kak Lee tertera di layar ponselnya.


Melihat nama suaminya saja detak jantungnya sudah berdetak dengan tidak normal. Bahkan tubuhnya berubah menjadi gemetar dia pasti berpikir kenapa tiba-tiba Suaminya itu menghubunginya di saat yang tepat seperti ini.



Alan mulai mengerutkan keningnya setelah melihat wajah Emilia yang kelihatan pias sembari menatap ke layar ponselnya yang sudah berdering sejak tadi.



"Emil, kenapa tidak di angkat?" tanya Alan dengan melihat ke layar ponsel teman wanitanya itu penasaran. Emil masih tak bergeming menatap layar ponselnya seakan wanita itu tidak mendengarkan apa yang di ucapkan olehnya tadi sehingga membuat Akan mengulangi kata-kata yang sama.



Sontak Emilia langsung tersentak kaget dan mulai menggoyangkan kepalanya pelan seakan dia sedang mencoba mengusir apa yang sedang ada di dalam lamunannya tadi, "Eh, iya aku akan dulu ya," jawab Emil dengan gugup.



Emil segera mengambil layar


ponselnya yang berada ada di sampingnya, dia memencet tombol warna hijau pada


layar ponselnya itu dengan tangan gemetaran.


\[hallo, ada apa Kak Lee,\] jawab Emil


di dalam telepon dengan mencoba tidak menunjukkan dari nada suaranya jika saat


ini dia sedang gugup.


\[Kau di mana?\] tanya Lee sembari


masih menatap istri kecilnya itu dari kejauhan sana.


\[A. . aku di rumah, kenapa?\] tanya


Emilia balik sembari menelan saliva ya yang terasa getir.


Ya tuhan tidak bertatap wajah dengannya saja aku sudah merasa ketakutan seperti ini. Gerutu Emilia dalam hati.



\[Awas! Jika aku tau kau berbohong,


kau harus membayarnya mahal dengan kewajiban mu sebagai seorang istri,] Setelah


selesai bicara pria itu langsung mengakhiri panggilan teleponnya sebelum Emilia


menjawab ucapannya itu.


Bagaimana ini kalau sampai dia tau jika aku bersama dengan Alan, bukankah terakhir kali bertemu dengan Alan Kak Lee sangat membencinya! Lebih baik aku segera pulang ke rumah sebelum dia menyadari jika aku sedang tidak berada di dalam rumah saat ini.  Gerutu Emilia dalam hati sembari menatap kearah Alan dengan

__ADS_1


seulas senyuman.


Apa sebenarnya yang sedang terjadi padanya, kenapa dia kelihatan tidak tenang seperti ini setelah menerima telepon tadi. Gumam Alan dalam hati sembari masih melihat ke wajah cantik sahabatnya itu.



“Emil, kenapa kau berubah seperti


sedang ketakutan seperti itu?” tanya Alan dengan masih mengeryitkan keningnya heran


melihat perubahan wajah pada teman wanitanya ini.


“Eh, aku harus pulang karena Kakak


dari saudara jauhku ternyata datang ke rumah,” ucap Emilia berbohong.


“Baiklah akan aku antar kalau begitu,” ucap Alan sembari menarik tubuhnya dari kursi. Dengan penuh harap jika wanita itu mau di antar pulang olehnya sebab Alan masih merindukannya.



“Eh, jangan. Aku pulang naik taxi


online saja, aku buru-buru kau hati-hati di jalan ya sampai ketemu lagi,” setelah bicara wanita itu langsung melangkah pergi meninggalkan tempat makan tersebut.


Alan hanya bisa memandangi tubuh wanita yang dia cintai semakin menjauh darinya, Alan sudah bahagia setidaknya dia bisa melihat wajah cantik wanita yang tadi sempat makan bersamanya itu. Alan besok akan kembali ke negaranya mengingat akan hal itu tiba-tiba dia


merasa bersedih sebab dia akan jauh dari Emilia.



Emil sudah menceritakan pada Alan


jika dia akan kuliah di kota ini, mendengar ucapan Emilia tadi hati Alan terasa


sakit sebab dia akan terpisah jauh dari wanita yang sudah beberapa tahun terakhir menghuni relung hatinya itu.


Selang beberapa waktu.


Taxi online yang di tumpangi oleh


Emilia mulai berhenti di depan gerbang utama rumahnya, setelah membayar taxi


online itu Emil langsung turun dari mobil tersebut dan berdiri di depan gerbang utama yang berwarna hitam itu.


Sekarang masih pukul 14,00


siang. Hawa panas kota itu seakan menusuk di kulit tipis Emilia, Emil mengenakan baju dress yang pendek tapi itu sangatlah wajar sebab di sana memakai baju mini sudah biasa terjadi. Bahkan bukan hanya orang muda saja tapi juga orang tua juga memakai baju yang sama seperti Emilia kenakan saat ini.


Emil mulai membuka gerbang utama


rumahnya itu, dan dia masuk ke halaman rumah setengah berlari sembari membawa


barang yang tadi sudah dia beli dari mall, Emilia berlari sembari menutupi kepalanya dengan Tas jinjingnya. Agar  sengatan matahari tidak langsung mengenai wajahnya yang cantik jelita itu.

__ADS_1


Hembusan angin bercampur dengan debu-debu kecil menerpa tubuh kurus Emilia yang masih berlari menuju teras rumahnya.



Emil membuka pintu rumahnya, dan alangkah terkejutnya wanita itu saat melihat Lee sedang duduk sembari


menghisapp rokok di mulutnya, pria itu menyandarkan punggungnya di sofa dengan


melipat satu kakinya bertumpuh di lutut. Mata Emil langsung melotot dengan.begitu sempurna, detak jantungnya semakin cepat seakan hendak loncat dari tubuhnya.


Wanita itu masih berdiri mematung di posisinya saat ini, dia tak berani masuk ke dalam rumah saat Lee mulai


mematikan rokonya kemudian membuang rokok itu begitu saja di lantai, Lee


menatap kearah Emil dengan alis hampir menyatuh kamudian dia berdiri dari


posisi duduknya dan sepatunya dengan sengaja menginjak rokok yang sudah


tergeletak di lantai marmer itu.


Emil menelan salivah nya saat dia


melihat hal itu, dia semakin bergidik ngeri saat Lee mulai berjalan mendekatinya bahkan tubuhnya mulai mengucur keringat dingin, Emil pasti tidak menyangak jika Lee sudah pulang di jam kerja seperti.


Dia tak mengetahui jika suaminya sejak tadi memperhatikan dirinya yang sedang bersenda gurau dengan teman lelakinya.



Emil pasti tidak mengerti jika perusahaan besar yang berada di samping restoran tersebut ialah milik Lee. Dan memang setiap harinya Lee selalu berkeliling di beberapa besar perusahaan miliknya.



“Dari mana kau?” tanya Lee dengan


wajah datar.


“A. . aku tadi keluar dengan


sahabatku sebentar Kak,” jawab Emilia dengan nada suara terdengar gelagapan.


“Jangan bohong!” nada suara Lee


kelihatan pelan tapi penuh dengan penekanan.


“Sungguh aku bertemu dengan temanku, aku sengaja tidak bercerita pada Kak Lee karena takut jika Kakak akan marah,”


jawab Emilia dengan menundukkan kepalanya takut.


“Inikah yang kau sebut dengan teman.” Pria itu bicara sembari menundukkan sebuah foto dari layar ponselnya di hadapan


Emilia dengan mengertakkan rahangnya dengan begitu kuat seakan dia menunjukkan


wajahnya yang sedang kelihatan begitu buas setelah melihat foto tersebut.

__ADS_1


__ADS_2