Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Kediaman Jhong.


__ADS_3

Didalam perjalanan pulang dari rumah Una, tiba-tiba Jhong menelpon Senjoo dan minta agar dia datang kerumahnya.


Senjoo pun mengetahui apa yang akan sahabat baiknya itu tanyakan padanya. Jhong memiliki para pengawal dimana-mana mungkin saja sahabatnya itu tau akan pertemuannya barusan dengan Una di mall siang tadi


Kediaman Jhong back.


Seperti biasa rumah itu terlihat sepi dan sunyi walaupun rumah mewah tersebut banyak di jaga oleh para pengawal dan banyak para pelayan yang berkerja di sana. Tapi tetap saja wajah kesepian masih terlihat dari raut muka sang pemilik rumah yaitu Jhong back.


Senjoo dan Jhong sedang duduk di ruangan tengah rumah Jhong back. dan terlihat ada dua cangkir kopi yang ada di atas meja, Jhong masih diam sembari menatap kearah Senjoo dengan mengerutkan dahinya.


"Apa yang mau kau tanyakan? Apakah mengenai pertemuanku dengan Istrimu?" Tanya Senjoo dengan nada suara terdengar sangat santai namun sangat jelas terlihat wajah ingin tau itu tersirat dari raut wajah gantengnya.


Ya Senjoo sangat tau apa yang ingin di ketahui oleh sahabatnya itu adalah mengenai Hyouna sahabat baiknya dan sekaligus Istri temannya beberapa tahun yang lalu. Tanpa perlu Jhong mengutarakan niatnya Senjoo sudah lebih dulu menebak isi hati sahabatnya itu. Jhong masih diam sembari menatap kearah Senjoo dengan wajah dingin namun tatapannya terlihat redup penuh dengan tanya jika terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Apa kau mau tau Una selama ini salah faham akan hubunganmu dengan Yera," Jelas Senjoo dengan apa adanya.


"Apa maksud dari ucapamu barusan?" Jhong langsung menarik tubuhnya dengan kasar dari punggung sofa. Wajah. panik bercampur rasa ingin tau yang begitu besar terpancar dari sorot mata Jhong, Hati yang telah mati itu mulai terlihat hidup kembali sorot mata yang terlihat dingin itu perlahan mulai terlihat redup.

__ADS_1


"Una mengira kau hanya mempermainkannya saja. Dia mengira kau terpaksa menerima perjodohan ini karna merasa bersalah akhibat meninggalnya mendiang ayah Una belasan tahun yang lalu." Senjoo menceritakan akan ke salah pahaman yang terjadi 7 tahun yang lalu.


Senjoo memang memiliki perasaan terhadap Una namun dia tak ingin bersikap licik dengan memisahkan Jhong dan Una.


"Ini semua kesalahanku yang tidak mencari tahu kabar tentangnya setelah dia meninggalkan Seoul dengan Jimmi waktu itu. Dia pasti telah bahagia bersama Jimmi saat ini." Ucap Jhong dengan mata terlihat berkaca-kaca. Lidahnya terasa kaku sangat mengatakan wanita yang dia cintai telah hidup bahagia bersama pria lain. Hati Jhong seakan tak bisa menerimanya tapi apalah daya semua telah terjadi.


Penyesalan sangat jelas terlihat di wajah Jhong kala itu. Andai saja waktu bisa di putar Jhong tidak akan melukai hati wanita yang sangat dia cintai sampai sedalam ini namun semua sudah terlambat wanita yang dia cintai kini telah hidup bahagia bersama pria lain yang jauh lebih baik darinya. Begitu kira-kira arti dari penyesalan yang sedang Jhong alami. Tapi semua itu bukan salah Jhong sepenuhnya karna Una juga bersalah tanpa bertanya wanita yang telah di selimut rasa cemburu dan emosi itu langsung memutuskan untuk pergi meninggalkan Seoul tanpa mencoba mencari tau kejadian yang sebenarnya.


"Una masih sangat mencintaimu!"


Ucapan Senjoo barusan membuat Jhong tersentak kaget. Bagaikan menemukan oase yang ada di dalam luasnya gurun pasir. Hati yang dulu membeku itu mulai mencair bagaikan terkenal tetesan cinta yang terpancar dari nama Una. Hanya dengan mendengar namanya disebut saja hal itu sudah membuat Jhong bahagia. Bahkan hati yang dulu sempat mati bertahun-tahun lamanya itu kini mulai hidup kembali. Hati yang selalu sepi itu kini mulai menemukan pemiliknya. Api cinta yang dulu sempat menghilang dari hidupnya mulai berkobar lagi.


Jim masih berada di kota tempat tinggalnya karna banyak urusan bisnis yang harus dia kerjakan disana dan lebih lagi Jim seperti ingin membuat Una mengerti akan kebenaran yang memang sengaja Una hindari tentang Jhong. Itu bukan berarti Jim tidak mencintai Una dan Lee lagi namun karna Jim tak ingin jika Una bersamaan hanya karna keterpaksaan ataupun karena hak semacamnya.


Disisi lain.


Malam hari terlihat Una sedang berbaring di ranjangnya padahal sudah tengah malam namun Una masih tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya sedang merasa kacau karna ucapan Senjoo siang hari tadi. Kebencian yang dulu sempat menghuni relung hatinya itu dengan perlahan mulai mulai hilang dan sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan. Una beranjak bangun dari ranjang dia berjalan keluar kamarnya, Una masuk kedalam kamar putranya dan disana mata Una tertuju pada ranjang Lee yang sedang tertidur lelap itu.

__ADS_1


.Una menyalakan sakral lampu kamar putranya itu, Una segera mendekati ranjang Lee setelah Lampu itu menyala. Una mendudukkan tubuhnya disamping putranya yang sedang tertidur lelap itu.


"Sayang, Mami sudah bersalah karna memisahkan mu dengan Deddy mu. maafkan mami sayang." Ucap Una lirih sembari membelai pekan rambut Lee.


Air mata Una meleleh seketika saat melihat wajah putranya yang begitu mirip dengan ayahnya. Una menyeka air mata yang telah membasahi kedua pipinya. Una mencium pipi anaknya itu. Setelah selesai melihat Lee hati Una terlihat lebih tenang.


Wanita itu beranjak dari duduknya dan dia berjalan kembali mematikan lampu kamar putranya itu. Setelah lampu itu padam Una segera menutup kembali pintu kamar Lee. Una berjalan menuruni anak tangga rumahnya dia hendak berjalan melangkahkan kakinya memasuki dapur namun niatnya terhenti saat mendengar bel pintu rumahnya berbunyi beberapa kali.


Una sedikit merasa ketakutan karna beberapa waktu yang lalu Una menyuruh para pengawal Jim tidak berjaga dihadapan rumahnya karna hal tersebut pasti membuat tidak nyaman penduduk komplek rumah tersebut. Dengan berat hati Jim akhirnya menuruti keinginan Una. Una masih berdiam ditengah ruangan tersebut dia sangat bingung apa yang mau dia lakukan karna bel rumahnya terus saja berbunyi.


Siapa yang tidak memiliki sopan santun malam begini kenapa datang bertamu ke rumah orang. Dan dimana scurity rumah ini kenapa mereka membiarkan orang malam-malam begini datang berkunjung! Jika aku tidak membuka pintu maka Lee akan terganggu dan bangun.


Setelah lama berpikir akhirnya Una berjalan pelan mendekati pintu. Dengan rasa takut masih menyelimuti seluruh tubuhnya Una perlahan mulai mengarahkan tangannya menuju gagang pintu.


Ceklek!


Dengan perlahan Una mulai membuka pintu rumahnya, pintu itu sudah separuh terbuka dan Una melihat pria yang tak asing di dalam ingatannya itu kini telah berdiri dihadapannya.

__ADS_1


Pria yang selalu ia rindukan selama ini kini ada didepan pintu rumahnya Una masih diam mematung dengan mulut merasa gagap seakan dia ingin bicara namun suara itu seakan tertahan didalam tenggorokannya.


__ADS_2