
Malam hari.
Emil duduk di depan sofa dengan menikmati makanan yang dia ambil di dalam kulkas tadi. Wanita itu makan satu helai roti tawar yang rasa coklat dan meneguk air mineral langsung dari botolnya dan segera mengusap sisah air yang ada di samping bibirnya dengan punggung tangannya. Waniat itu menghabiskan banyak roti dan juga camilan yang ada di hadapannya tanpa takut jika nantik tubuhnya berusaha menjadi gemuk.
Karena sejak dulu memang Emil banyak makan namun tubuhnya masih saja tetap kurus, jika wanita lain pasti tidak akan mau banyak makan karena mereka lebih memilih kelaparan dari pada harus kelihatan gendut saat makan di pagi hari.
Saat dia menikmati roti yang masih ada di dalam tangannya namun terdengar suara petir yang menyambar-nyambar dari luar kamarnya Emil langsung melempar roti yang sedang ada di tangannya ke sembarang arah, dengan perasaan kaget yang menyelimuti
tubuhnya. Detak jantung waniat itu berdetak semakin kencang sembari dia beranjak berdiri dari posisi duduknya saat ini.
Sejak kecil Emil selalu takut dengan suara petir yang sangat keras sebenarnya dia tidak
takut dengan suara petir itu namun setelah terdengar petir biasanya hujan akan
turun dan salju akan membasahi kota itu kemudian lampu akan padam hal itu yang
paling di takuti oleh Emilia. Dia bahkan tidak pernah mau melihat film horor karena setelah dia melihat film itu maka bayangan hantu di dalam film tersebut seakan terbayang-bayang di ingatannya.
*Akibatnya* hal itu Emil bisa ketakutan sepanjang waktu sampai beberapa Minggu, namun saat di dalam rumahnya Emil malah bisa menakuti Lee dengan berdandan seperti hantu.
“Bagaimana ini jika lampunya padam, aku harus segera berlari menuju kamar Kak Lee, aku tidak mau jika sampai aku terjebak di dalam kamar ini dalam keadaan gelap gulita
tanpa penerangan sedikitpun,” gumam Emil dalam hati dengan berjalan menuju
pintu kamarnya.
Tapi ketika wanita itu baru saja mengarakan tangannya ke handle pintu namun lampu kamar itu tiba-tiba padam, Emil ketakutan dia terus berteriak memanggil-manggil nama Lee
dengan begitu keras bahkan mata wanita itu mulai berkaca-kaca menandakan jika
__ADS_1
dia begitu takut melihat kegelapan apa lagi ponselnya tertinggal di atas meja
karena dia terlalu gugup sampai tidak kepikiran membawa ponselnya.
“Kak, Lee kau di mana aku sangat takut, kak Lee kau di mana? Aku bilang sama mama nih kalau kau tidak juga datang,” ucap Emil dengan menatap ke luar kamarnya yang tidak ada penerangan sedikitpun di sana.
Suara petir kembali mengelegar dan kilat cahayanya hampir persis seperti lampu kamera yang menyala dalam gelap. Ruang tamu yang jaraknya begitu dekat dengan kamar Emil dengan sejenak terlihat terang dan itu semakin membuat Emil ketakutan dan memejamkan matanya rapat\-rapat.
Lee turun dari anak tangga rumah dengan membawa senter di tangannya, pria itu berjalan menghampiri Emil yang masih berdiri di depan kamarnya dengan wajah kelihatan
pucat pias, Emil langsung memeluk tubuh kekar suaminya itu dengan erat dia merasa
lebih lega setelah melihat pria itu berada di sampingnya. Lee mengeryitkan dahinya heran saat dia melihat perubahan wanita yang ada di sampingnya.
Tadi Emil menjauh darinya namun sekarang wanita itu tiba\-tiba saja memeluknya dengan sangat erat sampai Lee harus melonggarkan sedikit pelukan istrinya karena dia mulai kesulitan bernafas.
“Kau kenapa? Kau tidak kerasukan hantu rumah ini kan?” tanya Lee dengan iseng sembari senyuman evil terlihat lagi dari bibirnya.
Karena rumah itu gelap gulita hanya ada senter Lee saja yang memecahkan kegelapan di lantai bawah rumah itu.
Hahaha gadis ingusan ini ternyata lucu juga jika seperti ini, aku goda saja biar dia ketakutan entah mengapa dekat
dengannya seperti ini membuatku merasa nyaman dan juga tidtka mau jauh darinya,
dia tidak memiliki kelebihan apapun tapi kenapa hatiku mulai bergetar jika dia
berada di sampingku. Gumam Lee dalam
hati dengan meliirk kearah Emil yang masih meluknya dengan ketakutan.
__ADS_1
“Rumah ini belum di pasang janset jadi kita akan menunggu sampai lampu ini menyala sendiri entah berapa lama, kau bawa saja senter ini dan masuk ke dalam kamarmu aku mau naik ke atas, aku sangat lelah mau tidur dulu,” ucap Lee dengan berharap jika
wanita itu menolak ucapannya karena sebenarnya Lee hanya gengsi jika dia harus
meminta Emil untuk tidur di kamar yang sama dengannya.
Setelah bicara Lee langsung pergi hendak meninggalkan Emilia yang langsung menarik tangannya karena takut jika di tinggal sendirian, “Aku mau tidur denganmu bagaimana jika ada yang mendekati aku waktu tidur di dalam kamar sendirian," pikiran Emilia mulai berterbangan kemana-mana membayangkan banyak hal yang menakutkan seperti hantu di bawah kolong tempat tidur dan semacamnya.
“Jelas itu akan terjadi asalkan kau tau jika rumah ini dulunya adalah pemakaman yang sangat angker dan juga sudah lama tidak ada yang urus. Terus Papa dan juga Mama membangun rumah ini diaats makan yang sudah tua," Lee bicara dengan melirik kearah Emil puas saat melihat gadis itu begitu saja percaya dengan apa yang Lee katakana barusan.
“Aku tidur dengan Kak Lee saja, aku tidak mau tidur sendirian,” gerutu Emil dengan
mengikuti langkah kaki pria itu dari samping. Tangannya bahkan memegangi lengan Lee dengan begitu erat dan dari jarak yang dekat.
“Kau harus janji satu hal,” Lee memanfaatkan hal itu untuk meminta satu hal pada istrinya.
“Ya, apapun itu aku akan menurutinya asal jangan suruh aku untuk tinggal di kamar sendirian,” sahut Emil dengan segerah karena takut jika pria itu akan berubah pikiran.
“Kau harus tidur satu kamar denganku dan tidak boleh menjaga jarak lagi.” Pria itu bicara dengan masuk ke dalam kamar yang kemarin sempat di hias dengan begitu indah dan juga romantis.
Namun hiasan itu kini sudah tidak terlihat lagi karena tari pagi Emil sudah membersihkan ya dan membuang semua bunga yang sempat di tata dengan sangat Inda yang mengelilingi ruangan kamar itu.
Emil mengiyakan apa yang di ucapkan oleh suaminya itu, dari pada dia harus tinggal
sendirian.
KIRA\-KIRA APA YANG AKAN TERJADI SETELAH INI. BACA KELANJUTANNYA BESOK.
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR JUGA KE CERITA KHAIRIN NISA YANG LAIN YA