Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Melepaskan Kerinduan


__ADS_3

Kini di dalam ruangan ini hanya ada Emil dan juga Lee saja. Lee menitihkan air mata. Perasaan bahagia yang begitu sulit sekali untuk ia jelaskan dengan kata-kata, tapi tetesan cairan bening itu sudah menunjukkan segalanya. Emil tersenyum tipis, ia mengusap cairan bening yang membasahi pipi


suaminya dengan tatapan sendu. Emil merasa senang sekali karena saat ia membuka mata orang yang pertama kali ia lihat adalah suaminya tercinta, pria yang selalu ada di dalam mimpi panjangnya.


“Sayang, kenapa kamu menangis?” tanya Emil.


Kenapa semua berubah? memangnya aku sudah tertidur selama berapa lama? Kenapa wajah Park terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Emil membatin dalam hati sembari mengusap cairan bening yang tadi sempat jatuh dari pelupuk mata pria itu.


"Aku menangis karena bahagia," sahut Lee dengan mendekap tubuh istrinya sekilas.


“Memangnya aku tertidur berapa lama sampai kalian semua


menatapku sebahagia ini?” tanya Emil dengan nada suara terdengar khas orang bangun tidur.


“Kamu tertidur selama tiga tahun, Sayang.” Lee berbicara


jujur. “Sekarang kamu beristirahat saja, nanti kita berbicara lagi.” Lee tidak ingin membuat istrinya merasa lelah memikirkan akan semua itu lebih lagi dokter tadi bilang jika Emil harus beristirahat untuk memulihkan kondisinya kembali.


Emil mengganggukkan kepalanya menuruti permintaan suaminya


walaupun ia merasa ragu akan kebenaran ucapan yang di katakan oleh suaminya itu barusan. Tapi setelah mengingat perubahan wajah Park yang jauh lebih dewasa, itu


membuat Emil mau tidak mau percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya jika ia sudah tertidur selama tiga tahun lamanya.


Sedangkan di luar ruangan itu, Jhong, Una dan juga Park tidak hentinya mengucap syukur pada tuhan karena telah mengabulkan doa mereka


semua. Akhirnya Emil bisa membuka mata juga pada akhirnya setelah sekian lama. Una menangis sesenggukan di pelukan suaminya sedangkan Park masih berdiri


melihat mereka berdua dengan kerasa cemburu tentunya.


“Papa, tidak adil sekali kenapa hanya Mama saja yang di peluk,” gerutu Park yang merasa iri. Sebab ia juga bahagia sampai menitihkan air mata namun papanya seakan tidak perduli dengannya. Walaupun hal itu jelas hanya pemikiran Park saja.


“Biar aku saja yang memeluk kamu,” ucap seorang pria yang suaranya selalu Park rindukan setiap malam. Bahkan parfum pria itu membuat Park


langsung tersenyum secerah sinar matahari sembari mengusap cairan bening di kedua pipinya dengan kasar.


“Sayang,” teriak Park girang sembari memeluk tubuh Alan dengan erat seakan ia takut di tinggal lagi.


Alan dengan senang hati langsung memeluk tubuh kekasihnya itu


sembari mengusap rambut panjangnya yang di biarkan tergerai begitu saja.


“Om, Tante. Apa kabar?” tanya Alan yang hendak melepaskan

__ADS_1


pelukan sang kekasih namun Park malah tidak mau melepaskannya. Park tidak perduli jika ada kedua orangtuanya yang sekarang sedang melihat sikapnya ini.


“Sudah biarkan saja, dia pasti sangat merindukan kamu.” Una mulai berdiri dari posisi duduknya dengan tangan mengambil tissue yang ada di


atas nakas dalam jangkauannya untuk mengusap air matanya itu.


Hubungan antara Alan dan juga kedua orangtua Kekasihnya itu sangat dekat. Bahkan Alan dan juga Lee kini sudah bertemu baik tidak seperti sebelum yang tiap kali bertemu pasti bertengkar atau saling sindir kata hanya karena ingin mendapatkan Emilia.


“Apakah ada yang terjadi? Kenapa kalian semua menangis?” tanya Alan. Ia berdoa dalam hati semoga saja Emil baik-baik saja. Alan sudah


tidak mencintai Emilia lagi karena kini hatinya hanya di penuhi oleh sosok Park saja. Tapi jika mengingat kalau Emil juga sahabatnya, pun ia tidak mau terjadi hal buruk pada temannya itu.


“Emil sudah bangun,” jawab Park sembari mendongakkan kepalanya sesaat menatap kearah Alan yang langsung membulatkan kedua matanya seakan kaget dengan apa yang di katakan olehnya barusan.


Alan kebetulan ada waktu senggang dan seperti biasanya jika ia memiliki waktu luang maka ia akan menemui sang kekasih dan secara kebetulan


sekali Emil bangun dari koma. Alan ingin menemui Emilia namun Park langsung melarangnya, karena ia tidak ingin Lee terganggu sebab ia tahu jika kakak kandungnya itu


begitu menantikan hari ini, jadi mereka semua sengaja memberikan ruang untuk Lee dan juga Emilia berdua saja.


"Park, biarkan Alan duduk. Dia pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh tadi." Jhong angkat bicara sebab putrinya itu masih belum menyuruh kekasihnya untuk duduk di sofa.


"Aku sampai lupa menyuruh kamu duduk," ucap Park dengan tersenyum malu.


Di dalam ruangan Emilia.


bergeming melihatnya.


“Sayang, jika kamu melihat aku terus, kapan aku bisa beristirahat,” ucap Emil dengan nada suara yang masih terdengar lemas.


Mengecup gemas pipi sang istri, “Aku sangat merindukan kamu,


Sayang,” jawab Lee dengan memeluk pinggang istrinya.


“Auch, sakit,” bohong Emil, entah mengapa ia ingin mengetes


langsung seberapa khawatirnya sang suami kepadanya.


“Apa yang sakit, akan aku panggilkan dokter,” ucap Lee panik. Ia hendak memencet tombol dekat ranjang namun segera di hentikan oleh Emil.


“Jangan, aku bercanda,” ucapnya dengan wajah merasa bersalah


sekali. Emil tidak tahu jika lelaki itu benar-benar mengkhawatirkan kondisinya sampai sepanik ini.

__ADS_1


Padahal Lee sangat tampan sekali, ia bisa mencari wanita lain jika mau, namun Emil begitu beruntung karena ia di jodohkan dengan pria baik seperti lee yang begitu menyayanginya seperti seorang kakak, menjaganya seperti seorang papa dan juga mencintainya layaknya suami. Emil sampai menitihkan air matanya karena bahagia.


“Kenapa kamu menangis? Jika sakit bilang saja akan aku panggilan dokter?” tanya Lee lagi untuk memastikan jika istimewa hanya bercanda atau malah sebaliknya.


“Aku tidak menyangka jika kamu, mau menunggu aku selama itu, Sayang,” ucap Emil dengan melirik kearah Lee. Lehernya masih terasa kaku sekali


untuk di gerakkan.


“Sudah, jangan banyak berpikir. Andaikan kamu tidak bangun


sekarang, aku akan menunggu kamu selamanya sampai hembusan nafas terakhirku.” Lee mengutarakan isi hatinya selama ini.


Setiap detik, setiap menit, setiap jam yang ia habiskan selama tiga tahun ini terbayar sudah setelah melihat sang istri membuka matanya.


Lee menyuruh Emil untuk beristirahat. Emil mengiyakannya karena ia merasa pusing kepala. Lee memijat perlahan kepala sang istri dengan


gerakan lembut seakan takut jika menyakiti wanita yang sangat ia cintai itu. Tidak butuh waktu lama wanita itu sudah terlelap dalam tidurnya, Lee menyelimuti tubuh istrinya sampai ke dada kemudian ia beranjak turun dari atas ranjang perlahan agar tidak membangunkan istri kesayangannya itu.


Di luar ruangan tersebut.


“Lee, apakah Emil sudah tidur?” tanya Una dari posisinya berdiri.


“Sudah, Ma,” sahut Lee sembari menatap kearah Alan. “Alan,


kapan kamu datang?” tanya Lee sembari menyalami calon adik iparnya itu.


"Barusan saja, Kak Lee," sahut Alan. "Bagaiman kondisi Emilia?" tanya Alan balik.


"Dia sedang beristirahat sekarang, nanti kalau dia sudah bangun kamu bisa berbicara dengannya," sahut Lee ia sangat tahu jika Alan juga sangat mengkhawatirkan kondisinya istrinya itu karena mereka dahulu adalah teman dekat.


Plap.


Emil membuka matanya, ia melihat semua orang kini sedang menatapnya. Senyuman di bibirnya Emil langsung terbit ketika ia melihat Alan ada di sana.


"Emil, kau masih mengingat aku?" tanya Alan sembari memasang wajah narsisnya yang membuat Emil tersenyum.


"Alan, mau masih di sini setelah tiga tahun?" tanya Emil.


"Tentu saja aku kembali ke negara B setalah menyelesaikan kuliahnya, aku kemari untuk melihat kekasihku," ucap Alan sembari menaruh tangannya di bahu Park.


"Kau pasti bercanda," sahut Emil dengan tatapan menyelidik.


Mengecup sekilas pipi kekasihnya untuk membuktikannya apa yang ia katakan barusan adalah benar, "Lihatlah ini, apakah aku terlihat bercanda."

__ADS_1


"Sayang, apa yang kamu lakukan." Park merasa malu sekali dengan sikap kekasihnya yang bar-bar ini.


Una dan juga Jhong hanya bisa terkekeh melihat keduanya. Sedangkan Lee sendiri menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Alan barusan.


__ADS_2