Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Kejahilan Park


__ADS_3

Emil dan juga Lee menoleh keasal suara tersebut dengan waktu yang hampir bersamaan. Emil mendorong tubuh Lee kebelakang lalu bangkit dari posisi tidurnya.


"Park. Untung saja kamu datang, lihatlah itu Kakak kamu mesum sekali," gerutu Emilia dengan melirik sinis kearah Lee saat dia sudah berada di samping sahabatnya itu.


"Hahaha! Kak Lee sudah menjadi suami kamu, jadi wajarlah," balas Park dengan santainya.


Membulatkan matanya dengan begitu sempurna, "Hei sejak kapan kamu mulai mendukung apa yang di katakan oleh Kakak kamu ini?" tanya Emil dengan menaruh kedua tangannya di pinggang.


"Jika kalian berdua berisik jangan disini, keluar sana!" perintah Lee dengan nada suara lantang.


Emil dan juga Park langsung diam dengan saling bergandengan tangan, mereka berdua pasti takut setelah mendengarkan teriakkan Lee barusan.


"Bicaralah masak kamu nggak berani? Manusia datar itukan Kakak kamu," bisik Emil dengan menyenggol bahu Park yang berdiri di sampingnya.


"Aku takut jika melihatnya sudah seperti ini, sebaiknya kamu saja yang rayu dia agar kita boleh tetap berada di sini," ucap Park balik sembari mendorong Emilia kearah Lee yang menatap keduanya dengan tajam.


"Huaaa, apa yang kamu lakukan Park," teriak Emil yang tidak siap dengan perlakuan bar-bar sahabatnya tersebut.


Lee langsung menangkap tubuh kurus istri kecilnya itu saat melihat Emil hendak terjatuh. Emil tidak sengaja mencium dada bidang suaminya yang terhalang oleh kemeja pria tersebut. Lee menatap kearah Emil dengan tatapan yang sulit untuk bisa di baca.


"Aku tidak sengaja, kamu jangan berpikir macam-macam," ucap Emil sembari menarik tubuhnya kembali dari dekapan sang suami.


"Terserah." Lee tidak menanggapi ucapan Emilia barusan.

__ADS_1


"Kak Lee aku sungguh tidak bermaksud demikian," ucap Park dengan wajah memelas.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Lee datar.


"Aku bosan berada di rumah sakit, jadi aku sengaja main kesini," ucap Park dengan wajah melas.


"Ini kantor bukan tempat bermain," hardik Lee sembari mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Emil saja boleh bermain kemari! Aku tadi sudah mencari Emil di rumah namun tidak ada, jadi aku langsung datang ke kantor," jelas Park.


Park memang merasa bosan di rumah sakit, dan Hyouna menyuruhnya untuk menemani Emilia saja karena di jam seperti ini Lee sedang bekerja, tapi siapa sangka jika Emil malah ikut Lee ke kantor.


Lee tidak mau berdebat terlalu lama akhirnya mengijinkan Emil dan juga Park berada di kantornya tapi dengan satu syarat, kedua gadis itu tidak boleh sampai berisik atau mengganggu pekerjaannya. Emil dan juga Park setuju dengan syarat yang Lee berikan.


Lee bekerja dengan tenang karena Emil dan juga Park berbicara dengan nada suara lirih. Emil dan juga Park sibuk berbicara mengenai kampusnya dan bla. . .bla. . .bla.


"Masuk!" ucap Lee dari dalam kantornya.


Seorang wanita cantik masuk dengan membawa berkas di tangannya, ya wanita itu adalah Rossa yang merupakan sekertaris Lee di kantor. Rossa tersebut kearah Park dan juga Emilia sebelum akhirnya ia berjalan kearah Lee.


"Oh ternyata gadis tadi itu adalah temannya Nona Park, pantas saja aku merasa ragu jika CEO menyukai gadis ingusan yang sikapnya masih bar-bar sepertinya," batin Rossa dalam hati.


"CEO ini ada beberapa berkas yang harus anda tandatangani," ucap Rosa dengan gerakan tubuh menggoda bahkan nada suara wanita itu sengaja dibuat manja sekali.

__ADS_1


Rossa mengunakan baju minim dengan bentuk gunung kembar yang besar dan bulat menggoda. Tapi tidak sedikitpun Lee tertarik kepadanya.


"Apakah jadwalku setelah ini?" tanya Lee sembari mengambil berkas yang di berikan oleh Rossa. Dan tidak tunggu waktu lama Lee sudah selesai menandatangani apa yang di tunjuk oleh asistennya tersebut.


"Tidak ada jadwal setelah ini," balas Rossa sembari membawa kembali berkas yang dia sodorkan pada Lee tadi.


"Pergilah!" perintah Lee tanpa menoleh sedikitpun pada Rossa dan hal itu jelas membuat wanita tersebut merasa kecewa.


"Hei lihatlah itu, Kak Lee bahkan tidak tertarik pada wanita secantik dan semolek itu," ucap Emil dengan mengelengkan kepalanya.


"Aku harap kamu orang yang bisa merubah sikapnya tersebut," balas Park penuh makna.


Hati Lee sudah lama mati semenjak di tinggal oleh mantan kekasihnya dahulu. Lee yang biasanya suka tersenyum kini mulai berubah menjadi datar. Tapi kehadiran Emilia cukup ampun merubah sikapnya sedikit demi sedikit.


Malam hari.


Park sudah kembali ke rumah sakit, dan Emilia baru saja selesai makan malam bersama dengan Lee. Gadis itu masih mencuci piring di wastafel sedangkan Lee masih duduk di meja makan sembari memainkan ponselnya.


Selesai mencuci piring Emil langsung berjalan keluar dari dapur tanpa menoleh kearah Lee sedikitpun. Lee menatap datar kemudian ikut keluar dari dapur mengekor di belakang Emilia.


"Kenap dia mengikuti aku? Terserahlah apa maunya," ucap Emil pada dirinya sendiri dalam hati.


Emilia sudah tiba di depan kamarnya, dan dia langsung membuka pintu tersebut kemudian masuk kedalam kamar. Tanpa melihat kearah belakang Emil menutup pintu tersebut dengan keras.

__ADS_1


"Auch," rintih Lee ketika kepalanya terkena pintu. Dia sibuk dengan ponselnya hingga tidak menyadari kalau Emil sedang menutup pintu tersebut.


"Matilah aku," batin Emil dengan membuka pintu tersebut lagi. Dia melihat wajah Lee yang sudah merah padam ketika melihatnya.


__ADS_2