
Park dan juga Alan masuk ke dalam studio berdua saja sedangkan Emilia berpamitan pulang lebih awal karena ada keperluan mendadak. Awalnya hendak ikut pulang saja tapi Emilia memintanya tetap masuk ke dalam studio bersama dengan Park berdua. Alan mengiyakannya karena sudah terlanjut bayar juga begitu pikirnya.
Emil sudah turun dari taxi online setelah membayarnya terlebih dahulu, ia langsung masuk saja tanpa menuju ke meja resepsionis sama seperti yang Park lakukan kemarin ketika datang ke kantor ini. Tapi seorang pria dengan tubuh kekar menghentikan langkahnya sembari berkata.
"Nona, anda mau kemana?" tanya pengawal tersebut.
"Saya mau ke kantor CEO Lee," sahut Emil.
"Sebaiknya, Anda ke resepsionis terlebih dahulu karena di dalam perusahaan ini ada peraturannya, bagi siapa saya yang menemui CEO Lee, harus melalui resepsionis terlebih dahulu," ucap pengawal tersebut dengan sopan.
Jangan kurang ajar begitu kalau berbicara! Aku adalah istrinya. Andai saja Emiil bisa mengatakan kenyataan ini pada pria bertubuh kekar yang berada di hadapannya.
"Baiklah," sahut Emil sembari memberikan senyuman termanis yang bisa ia lakukan sekarang.
Dengan mengerutu kesal, Emil melangkah menuju meja resepsionis. Bertemu dengan suaminya sendiri saja sesusah ini, jika tahu seperti ini tadi lebih baik dia ikut latihan saja bersama dengan Alan dan juga Park. Begitu pikirnya.
"Selamat siang nama saya, Keli apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Keli dengan terseyum tipis.
"Nama saya, Emilia, saya ingin bertemu dengan, CEO Lee apa bisa?" tanya Emil dengan tersenyum tipis.
"Apakah, Nona Emilia sudah melakukan janji terlebih dahulu dengan CEO Lee?" tanya Keli ramah pada Emilia.
"Barusan saya sudah menghubunginya, beliau mengatakan jika saya di suruh langsung datang saja," jelas Emilia dengan jujur tapi resepsionis di hadapannya malah menarik salah satu alisnya seperti sedang meragukan apa yang barusan di katakan oleh Emilia.
__ADS_1
"Benarkah apa yang barusan, Nona Emilia katakan?" tanyanya menyelidik. "Sebab sudah banyak sekali gadis seumuran dengan, Anda yang mengatakan hal demikian," jelas Keli dengan memberikan tatapan merendahkan.
"Apa maksud dari ucapan, Nona Keli barusan?" tanya Emil dengan tatapan menyelidik.
"CEO Lee, adalah idaman para kaum hawa, tidak sedikit wanita seumuran dengan, Nona Emilia mengatakan hal yang sama." Memberikan jeda untuk kalimatnya. "Kami sudah membuat janji dengan CEO Lee, dan dia menyuruh saya untuk menemuinya. Apakah anda melihat tumpukan bunga yang ada di belakang saya?" tanya Keli lagi.
Emil melirik ke arah belakang meja resepsionis, di sana banyak sekali bunga yang tergeletak dengan bertuliskan "I love you CEO Lee" Jantung Emil langsung berdetak kencang seketika itu juga ia takut sekali jika suaminya akan terpikat dengan gadis lainnya. Tidak pernah Emil sangka jika suaminya begitu di gilai banyak gadis seusianya.
"Tapi saya sungguh sudah melakukan janji dengan, CEO Lee," ucap Emilia menjelaskan.
"Sebaiknya, Nona segera pergi, atau saya akan menyuruh pengawal menyeret anda keluar dari ruangan ini. Keli bisa di pecat dari perusahaan kalau sampai membiarkan gadis yang menggilai pemilik perusahaan tempatnya bekerja bisa menerobos masuk ke dalam kantor CEO Lee.
"Lihat saja kamu nanti," ancam Emil dengan tatapan nyalang.
"Aku mau pulang saja, lain kali jangan suruh aku datang ke sini lagi kalau akhirnya aku akan di usir." Setelah panggilan telepon itu tersambung, Emilia langsung mengeluarkan unek-uneknya dan belum sempat Lee menjawab, gadis itu langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Gadis kecil, jangan memiliki mimpi ketinggian, mana mungikin CEO Lee menyukai gadis kecil yang pandai sekali berbohong seperti kamu ini," ucap Keli dengan mencebikkan bibirnya.
"Kamu kira kami semua akan percaya, jika tadi kamu benar-benar sedang menghubungi, CEO Lee," sahut wanita lainnya. Mereka tidak mengetahui jika Emil pernah datang bersama dengan Park dan bagaimana cara CEO mereka memperlakukan wanita yang sedang mereka hina-dina ini. Jika mereka mengetahuinya maka, bisa aku pastikan semua orang akan bungkam seribu bahasa.
"Aku tidak berbohong,"ucap Emil. Semua orang menatap ke arah Lift khusus, CEO Lee tapi tidak ada tanda-tanda jika pria itu akan keluar dari sana, tatapan semua orang semakin menyudutkan Emilia sekarang.
"Masih kecil sudah pintar berbohong!" ucap Keli dengan wajahnya yang terlihat begitu menyebalkan sekali bagi Emil.
__ADS_1
"Cepat keluar dari perusahaan ini," seorang wanita lain yang sedang mengerumuni Emil langsung mendorongnya dengan kasar. Emil yang tidak siap dengan tindakan spontan itu mundur beberapa langkah ke belakang, tidak ada orang yang perduli padanya, ataupun sekedar berniat ingin membantunya.
"Aku tidak pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya," batinnya dengan memejamkan mata. Emil meneteskan cairan bening, ia semakin memejamkan erat matanya karna sebentar lagi tubuhnya akan jatuh membentur lantai marmer kantor ini.
Bukk!
Seseorang menangkapnya dan langsung memegang tubuh Emil dengan erat, ia mencium aroma parfum mint yang selalu ia sukai, Emil segera membuka mata. Tatapan mata tajam dengan rahang yang berkedut langsung memenuhi pandangannya, itu adalah Lee, suaminya. Pria itu terlihat sedang marah sekarang. Lee mengusap lembut satu tetes kristal bening yang sudah membasahi pipi istrinya tercinta.
"Apa kamu tidak papa?" Tanya Lee dengan membelai pipi putih istrinya.
Semua orang langsung menjatuhkan rahangnya, ucapan lembut dan penuh kasih sayang yang keluar dari bibir Lee membuat mereka semua pucat pasih, siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa CEO Lee memperlakukannya dengan sangat baik. Jika mereka semua mengetahui semua ini sejak awal, mana mungkin mereka berani memperlakukan gadis itu seperti ini.
"Kak Lee, aku takut sekali pada mereka, mereka mengira aku pembohong. Mereka menghinaku sebaiknya aku tidak datang kemari," ucap Emil dengan wajah memelas, air matanya sudah menganak sungai membuat hati Lee semakin bergemuruh bagaikan ada badai di dalam sana. Berani sekali para pegawainya melakukan ini semua pada istrinya. Begitu pikir Lee.
Emil memeluk tubuh Lee seakan minta perlindungan, namun dia menjulurkan lidahnya pada semua wanita yang tadi sempat menghinanya. Semua wanita itu kaget melihat sikap Emil yang seperti ini, mereka semua sudah salah mengira Emil polos tapi siapa sangka dari keluguannya, gadis ini juga pandai membalas sikap orang yang pernah kejam padanya.
"Jangan bersedih, aku janji hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi." Lee berbicara dengan memeluk istrinya, dia bahkan membelai lembut kepala istrinya yang kini tengah bersandar di dadanya.
Lee menatap tajam ke arah para pegawainya, kilatan matanya terlihat keji dan tidak ada ampun bagi siapa saja yang sudah berani mempermalukan istrinya.
Gimana ya, ekspresi semua pegawai tersebut?
komentar yang banyak yuks biar author semakin semangat. Nisa sedih banget ya, kenapa Nisty Lovers nggak mau komentar bahkan ada yang nggak mau kasih jempolnya. padahal itu semua yang membuat Nisa rajin update loh. Kita ini simbiosis mutualisme biar sama-sama menguntungkan. kalian bisa baca karya Nisa, dan Nisa minta dukungan komentar, like dan juga Vote yang banyak ya.
__ADS_1