
"Jangan bersedih, aku janji hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi." Lee berbicara dengan memeluk istrinya, dia bahkan membelai lembut kepala istrinya yang kini tengah bersandar di dadanya.
Lee menatap tajam ke arah para pegawainya, kilatan matanya terlihat keji dan tidak ada ampun bagi siapa saja yang sudah berani mempermalukan istrinya di dalam perusahaannya sendiri.
"Maafkan, kami CEO Lee," ucap Keli dengan menundukkan kepalanya sembari menggenggam erat kedua tangannya takut. Ia tahu, jika permintaan maaf yang ia ucapkan percuma saja, sebab sang pemilik perusahaan ini terkenal kejam dan tidak memiliki hati.
"Maaf." Semburnya, suara itu melengking nyaring hingga membuat semua orang tersentak kaget. Semua wajah para pegawai langsung pucat pasih seakan seluruh darah di dalam tubuhnya lenyap begitu saja bersama teriakan CEO Lee.
"Seharusnya kalian dengarkan apa yang gadis ini katakan, kalian malah memperlakukannya seperti ini." Menatap satu persatu pegawai yang sedang berada di hadapannya dengan tatapan menghunus tajam bagaikan elang yang melihat buruannya dari kejauhan.
Semua orang langsung menjatuhkan lututnya di lantai dengan kepala yang masih tertunduk, semuanya mengutuk tindakan mereka tadi, andaikan saja mereka semua mendengarkan ucapan gadis kecil itu pasti nasib mereka tidak sial seperti ini. Mereka semua berdoa dalam hati agar apa yang mereka takutkan tidak akan terjadi yaitu di pecat dari kantor ini.
"Kami janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap semua orang dengan waktu yang hampir bersamaan.
"Periksa cctv yang ada di lobby ini," melirik kearah pria disampingnya. "singkirkan semua orang yang telah membuat masalah." Usai bicara Lee langsung membawa Emil menjauh dari semua orang.
"CEO Lee, kami mohon, berikan kami semua kesempatan," ucap semua orang dengan tubuh yang gemetar.
Tapi pria itu seakan menulikan telinganya sekarang, ia tidak mau mengubah keputusannya. Emil hanya diam melangkah disamping suaminya. Mungkin jika tadi ada orang yang membantunya, Emilia akan menyelamatkan orang tersebut . Tapi mereka semua terlalu angkuh dan sombong tidak pernah mau mendengarkan ucapan orang lain, inilah hukuman bagi orang yang sudah berani merendahkan orang lain.
_ _ _
Studio.
"Park, ayo kita keluar saja, aku bosan jika tidak ada Emil di sini," ucapnya jujur Akan itu. Membuat, Park sedih sekali tapi sebisa mungkin ia tetap tersenyum manis dan langsung menyambar tas jinjingnya yang ada di atas meja.
"Apakah kamu mau makan di rumah kamu saja?" tanya Park sembari melangkah gontai disamping Alan.
__ADS_1
"Apa kamu lupa jika aku tinggal di negara ini sendirian," ucapnya degan menenglengkan kepalanya kearah Park. Park langsung menatap lurus kedepan dengan jantung yang sudah berdetak hebat. Alan kelihatan tampan sekali begitu pikirnya.
Menepuk pelan jidatnya, "Maaf, aku sungguh lupa," sahutnya cepat dengan perasaan bersalah yang sudah mengelayuti hatinya.
Mengacak-acak rambutnya gemas, "Sudah jangan tunjukkan ekspresi seperti itu, membuat aku gemas saja," imbuhnya lagi.
"Bagaimana jika aku merekomendasikan kamu makanan yang enak sekali," ucap Park sembari berdiri di samping mobil Alan.
Berpikir sejenak sembari menatap ke atas, "Baiklah, aku tidak keberatan," ucapnya kemudian.
Mobil yang Alan kemudikan melesat menerobos jalanan.
Kantor Lee.
Emil duduk di sofa dengan bibir yang mengerucut, bahkan sejak masuk kedalam ruangan kantor ini ia belum juga membuka mulutnya untuk berbicara. Emil bahkan masih membelakangi suaminya sejak dari tadi.
"Kau sudah menghukum mereka, dan aku sudah tidak marah lagi mengenai masalah itu." Emil berbicara dengan posisi masih membelakangi suaminya.
"Kalau begitu masalah apa?" tanya Lee dengan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Ia menghirup aroma manis parfum istrinya, ia begitu menyukai bau wangi ini dan itu membuatnya selalu rindu.
"Apakah sering ada gadis seusia aku yang datang untuk mengirimkan bunda untuk, Kak Lee?" tanya Emil sembari melirik suaminya.
Ternyata dia sedang merasa cemburu sekarang, "Bahkan setiap hari ada 15 karangan bunda beserta surat cinta mereka, tapi aku tidak pernah perduli," ucap Lee sembari membalikkan posisi istrinya hingga kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
Setiap hari sebayak itu gadis gila yang mencoba mengejar suaminya, "Jika, Kak Lee tidak perduli lalu kenapa bunga-bunga itu di kumpulkan di belakang meja resepsionis? Pasti karena, Kak Lee penasaran dengan surat cinta mereka atau bahkan para wanita gila itu menempelkan foto mereka juga," cecar Emilia dengan perasaan cemburu yang sulit sekali untuk ia bendung sendiri. Membayangkan semua ini sungguh menguras emosinya.
"Aku menyuruh mereka mengumpulkannya di sana, karena para wanita menyukai bunga jadi aku menyuruh staf wanita membawanya pulang," jelas Lee.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Emil.
Mencolek hidung istri kecilnya, "Tentu saja, kalau kamu masih tidak percaya besok aku akan menyuruh mereka tidak menerima bunga tersebut," ucap Lee.
"Ya, lebih bagus jika seperti itu," sahut Emil dengan tersenyum tipis. Ia merasa puas sekali setelah mendengarkan jawaban dari suaminya.
"Kau manis sekali jika sedang cemburu," ucap Lee dengan mencubit gemas kedua pipi istrinya.
menjauhkan tangan Lee yang mencubit pipinya, Emil mengusap pelan bekas cubitan itu dengan wajah memberengut, "Aku tidak cemburu, aku hanya merasa terganggu saja," elaknya. "Kak Lee, memanggilku ke sini ada masalah apa?" tanya Emilia ketika ia ingat apa penyebab dia datang ke kantor ini.
Aku tidak mungkin bilang padanya jika, aku sedang merasa cemburu pada Alan, "Aku merasa bosan di kantor, jika ada kamu pasti hari-hariku akan sangat menyenangkan sekali," bohongnya. Lee benar-benar gengsian sekali, tapi sebenarnya sikap kedua orang itu sama-sama cemburu, tapi tidak mau mengaku.
_ _ _
Malam hari.
Emil sedang mencuci piring di dapur, ia baru saja selesai makan malam sedangkan Lee masih duduk di meja makan sembari memainkan ponselnya.
"Auch," teriak Emil sembari memegang jarinya yang berdarah, tidak sengaja jarinya terkena pisau yang ia taruh di dalam wastafel, wastafel tersebut tergenang oleh air mangkanya Emil tidak melihat pisaunya.
"Ada apa?" tanya Lee dengan melangkah cepat menghampiri Emilia yang masih membasuh darah di tangannya dengan kucuran air dari kran.
"Tidak papa, aku hanya kaget saja," ucapnya dengan melanjutkan mencuci piring. Luka di tangannya memang kecil tapi kalau terkena air sabun dan juga bekas piring yang terkena bekas cabe pastilah terasa nyeri.
"Hentikan, ayo biar aku bantu kamu saja untuk mengobati luka ini."
Emil duduk di meja makan sedangkan Lee mengambil kotak p3k yang berada di sudut dapur. Ia kembali ke meja makan lalu mengobati luka istrinya, Lee menghisap cairan berwarna kemerahan itu dengan bibirnya kemudian membalut plester di jari istrinya yang terluka.
__ADS_1
"Kamu duduk saja di sini, biar aku yang mencuci piringnya." pinta Lee dengan nada memerintahkan dan Emilia hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.