Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Tidak Seperti yang Di Harapkan


__ADS_3

Park tidak sengaja melihat tangan Emilia yang bergerak, ia langsung berteriak heboh memberitahukan semua orang. Lee segera memencet tombol di samping ranjang dan tidak butuh waktu lama beberapa dokter dan juga suster langsung melihat keadaan pasien. Dokter mengatakan jika gerakan itu di lakukan dalam alam bawa sadar pasien, dokter juga menjelaskan jika hal seperti ini sering kali terjadi pada pasien yang sedang koma.


Wajah semua orang yang tadinya terlihat bahagia kini langsung bersedih setelah mengetahui akan hal ini, Narra menangis tersedu-sedu


di pelukan suaminya karena kecewa dengan kenyataan yang ada bahwa putri mereka masih belum bisa membuka matanya. Jim mencoba memberikan pengertian pada istrinya, sedangkan Lee sendiri hanya bisa menahan kerinduan akan senyuman


manis yang selalu membuatnya candu, ia begitu merindukan gadis kecil itu, tapi dia lebih memilih terus bermimpi entah sampai kapan.


Setelah semua dokter dan juga suster keluar dari ruangan ini, Narra dan juga Jim memutuskan untuk tetap kembali ke negara B.


“Pa, Ma. Bagaimana jika kita menyatuhkan ruangan sebelah


dengan ruangan ini agar lebih besar untuk kita semua, aku ingin istriku tetap merasa nyaman seperti berada di rumah sendiri agar ia tahu jika aku terus menunggunya bangun,” ucap Lee. Ia berbicara dengan nada suara gemetar membuat Jhong, Una dan juga Park sedih mendengarnya namun mereka tidak ingin menunjukkan kesedihan itu di hadapan Lee.


“Tentu saja,” sahut Jhong dan juga Una yang langsung mengiyakan permintaan putranya tanpa berpikir panjang.


Mereka tahu akan berat sekali menjadi Lee, ia bisa melihat raga istrinya namun jika gadis itu tertidur seperti putri yang sering di ceritakan dalam dongeng. Semua luka-luka di tubuh Emilia mulai mengering, dan


Lee sendiri yang merawat istrinya mulai dari memberikan salep sampai menyeka tubuh istrinya agar wanita itu tetap bersih walaupun ia tidak bisa bangun dari ranjang pasien tersebut.


1 Minggu kemudian.


Ruangan di dalam rumah sakit ini terlihat mirip seperti rumah, uang memang bisa merubah segalanya tanpa ada hambatan sedikitpun. Emil


kini tidak tidur di atas ranjang pasien namun ia tidur di atas ranjang yang


begitu nyaman, bahkan ruangan ini berubah menjadi warna pink-warna yang di sukai oleh Emilia. Lee ingin membuat istrinya merasa tetap berada di rumah, ruangan Emil dan juga Jhong masih sama hanya ada pembatas seperti kamar diantara


mereka.

__ADS_1


“Sayang, bangunlah dan lihatlah ruangan ini mirip seperti kamar kita, aku bahkan memasang foto kamu yang sedang tersenyum manis di dinding ruangan ini. Apakah kamu tahu, hari ini aku memenangkan tender untuk kesekian kali, kau pasti tahu jika suami kamu ini sangat handal di berbagai bidang. Tadi ada


seorang wanita, ia mencoba menggodaku tapi seperti yang kamu tahu aku hanya mencintai kamu saja, jadi aku menyuruh Asisten Luwis untuk memecatnya dari perusahaan Back.” Lee menghentikan ucapanya dengan mengigit bibir bagian bawahnya dengan sangat keras agar Emil tidak bisa mendengarkan nada suaranya yang mulai gemetar. Lee bahkan meneteskan air matanya ia tidak kuasa menahan kesedihannya.


Pria itu meminta ruangan sendiri agar keluarganya tidak bisa melihat kesedihan ini, namun yang tidak Lee tahu ternyata Park dan juga Una


mendengarkan ucapannya dari depan ruangan ini dengan hati yang pilu. Uang dan juga Tahta tidak bisa mengembalikan istri putranya itu pada mereka semoga, Tuhan memberikan keajaibannya pada keluarga ini.


“Ma, ayo kita menjauh nanti, kakak bisa mendengarkan tangisan, Mama,” pinta Park sembari memeluk tubuh mamanya. Ia tidak mau Lee mendengarkan Isak tangis sang Mama karena itu akan membuat kakaknya semakin sedih saja.


“Iya, kamu benar, Sayang,” jawab Una yang setuju dengan perkataan Park. Pun langsung mengikuti langkah putrinya menjauh dari ruangan sang kakak.


“Kenapa kalian berdua bersedih seperti itu? Apa yang terjadi?”


tanya Jhong yang mulai penasaran ketika melihat kedua pipi wanita yang sangat ia sayangi itu di basahi oleh cairan bening.


hatinya ia ikut hancur bersama dengan kesedihan sang putra. Jhong ingin sekali bisa sembuh tapi Tuhan masih belum mengabulkan doakan semoga saja semuanya lekas membaik agar dia dan juga Emilia bisa keluar dari ruangan ini bersama-sama.


Negara B.


Jim dan juga Narra baru saja sampai di rumah mereka. Narra melangkah mendekati laci yang ada di ruang tengah rumah ini, ia mengambil


foto-foto Emilia saat masih kecil sampai dewasa, Jim langsung mendudukkan tubuhnya di samping sang istri. Ia tidak akan pernah meninggalkan istrinya dalam keadaan


seperti ini.


“Pa, lihatlah ini, Emil sangat cantik sekali ini adalah pertama kalinya ia memenangkan lomba menyanyi di sekolah dasar,” jelas Narra dengan deraian air mata, ia memeluk foto itu seakan itu adalah sang putri.


“Ma, aku mohon jangan menangisi, Emil. Ia masih hidup hanya sedang tertidur saja lebih baik kita mendoakannya agar segera bangun dan kembali pada kita, Emilia akan sedih jika melihat wanita yang sangat ia sayangi ternyata tidak bisa melanjutkan kehidupannya seperti sebelumnya.” Jim memberikan pengertian pada istrinya.

__ADS_1


Ia mendekap tubuh istrinya dengan erat seolah memberitahukan pada wanita itu jika ia tidak sendirian karena Jim akan selalu berada di


sampingnya untuk menenangkannya.


“Iya, Papa benar. Emil hanya sedang tertidur saja,” sahut Narra disela-sela tangis sesenggukan.


_ _ _


“Park, apakah aku boleh mengunjungi Emil di rumah sakit?” tanya Alan.


“Tentu saja, Emil pasti akan sagat senang sekali,” sahut Park dengan melangkah bersisian dengannya.


“Kalau begitu cepat hubungi, Kakak kamu yang arogan itu jika ia tidak usah menjemput kamu karena aku akan menjenguk kakak ipar kamu, aku


takut nanti dia akan membunuhku,” ucap Alan yang tentu saja bercanda.


“Kak Lee, bukan tipe pria seperti itu,” sahut Park yang tidak terima jika, Alan menjelek-jelekkan kakak kandungnya itu.


Menaruh tanahnya di bahu Park, “Aku hanya bercanda saja,” ucap Alan cepat.


Hubungan antara Alan dan juga Park semakin dekat saja. Bahkan semua orang mengira jika Park dan juga Alan adalah sepasang kekasih. Alan


masih belum bisa melupakan sosok Emilia namun ia mencoba untuk memberikan kesempatan untuk dirinya sendiri agar bisa move on dari pujaan hatinya itu.


Di sisi lain, Park yang berniat untuk melupakan Alan malah kini semakin dalam mencintai pemuda itu, karena sikap Alan yang selalu baik dan juga begitu perduli padanya. Apa yang terjadi nanti biarlah menjadi rahasia


Park hanya bisa menikmati waktunya bersama dengan Alan saat ini, Itu sudah membuatnya sangat bahagia sekali.


                         

__ADS_1


__ADS_2