Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Akhirnya Masuk Sarang Juga


__ADS_3

Emil mengigit bibir bagian bawahnya karena sikap suaminya yang tidak sabaran itu, tunggu makan malam selesai saja ia seakan tidak sanggup.


sungguh membuat Emil benar-benar merasa kesal sekali dengan ulah suaminya itu. Emil tersenyum tipis lalu menginjak kaki Lee dari bawah meja sedikit lebih kencang, Lee segera menutup mulutnya rapat agar ia tidak berteriak karena sikap


istrinya itu. Sedangkan Emil sendiri hanya tersenyum puas melihat suaminya membenarkan posisi duduknya seperti sekarang.


“Emil, setelah ini temani aku nonton film drakor, mau apa tidak?” tanya Park. Ia ingin mengganggu malam pertama kakak kandungnya itu suruh siapa bermesraan di dekatnya. Diam-diam Park memperhatikan mereka berdua tadi.


“Tentu ….” Belum selesai Emil melanjutkan kata-katanya Lee


sudah memotong ucapannya itu.


“Kau menonton saja bersama dengan, Mama,” ucap Lee yang langsung menatap kearah sang Mama.


“Kita nonton bertiga bersama dengan, Papa,” sahut Una. Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh putranya itu dengan sang istri lagi pula dia


dan juga Jhong ingin cepat-cepat memiliki cucu.


“Park, ingin nonton bersama dengan Emilia saja, Ma,” sahut Park.


“Apa kamu tidak ingin mempunyai keponakan yang lucu dan juga


mengemaskan?” tanya Jhong pada Park dan hal itu berhasil membuat kening putrinya tersebut berkerut seperti orang yang sedang berpikir.


“Tentu saja aku ingin punya keponakan yang lucu,” sahut Park


dengan ekspresi wajahnya yang sumringah seolah ia sudah bisa membayangkan jika dirinya akan mempunyai keponakan yang cantik dan juga tampan begitu pikirnya.


Emil menundukkan kepalanya semburat merah terlihat jelas di


kedua pipinya, Una gemas sekali melihat wajah malu-malu Emilia itu, ingin sekali mencubit kedua pipi merah tersebut namun tentu saja ia tahan.


“Lee, akan buatkan yang banyak,” ucap Lee yang langsung mendapatkan hadiah pukulan dari Emilia karena merasa malu. “Sayang, sakit,” ucap Lee yang tentu saja bercanda ia sengaja menggoda istrinya hingga Emil tidak berani mengangkat kepalanya.


“Lee, jangan kau goda istri kamu seperti itu, lihatlah wajahnya sudah memerah sekali,” ucap Jim.

__ADS_1


“Jika kembali menggoda aku, lihat saja nanti malam kamu akan tidur di ruang tamu.” Ancam Emil dengan nada suara pelan namun begitu menohok di telinga suaminya itu.


“Gawat, jika sampai dia marah aku akan kehilangan jatah makan malam ku dan ular cobra ku ini akan gagal lagi masuk kedalam sarangnya,” batin Lee menempati sikapnya sendiri yang terus saja menggoda istrinya itu.


Semua orang kembali melanjutkan aktifitas makan mereka. Lee masih menyuapi istrinya sampai makanan di dalam piring itu tandas, setelah makanan itu habis Emil dan juga Lee berpamitan pada kedua orangtuanya itu masuk kedalam kamar terlebih dahulu. Sedangkan Park dan juga kedua orangtuanya menonton film


drakor di ruang tengah rumah ini.


Lee mengetuk pintu kamar mandi, tidak butuh waktu lama pintu kamar mandi itu segera di buka oleh Emilia, Lee memberikan baju lingerie berwarna hitam pada istrinya, pada awalnya Emil menolak untuk memakai baju kekurangan bahan yang terlihat menggelikan sekali itu namun ketika ia teringat dengan kata-katanya waktu masih berada di rumah sakit 'dia akan melakukan


kewajibannya sebagai seorang istri’ akhirnya Emil mau memakai baju itu walaupun terpaksa namun demi membahagiakan suaminya ia akan melakukan hal itu.


“Dia sudah hampir 30 menit di dalam kamar mandi, tapi kenapa belum keluar juga? Aku hanya memintanya untuk mengunakan baju itu bukan untuk menjahit ulang,” batin Lee yang sudah tidak sabar menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.


“Aku selalu saja malu mengunakan baju ini, apa lagi ketika aku mengingat tatapan matanya yang begitu ingin menelanku hidup-hidup, itu sungguh membuat aku ingin berlari menjauh darinya,” batin Emil. Tentu saja ia


merasa canggung dan juga takut apa lagi sudah tiga tahun lamanya Emil koma dan tidak melakukan hal intim itu.


Tok … tok … tok!


“Aku sudah mengunakannya,” sahut Emil dari dalam kamar mandi.


“Kalau begitu kenapa kamu masih tetap berada didalam sana? Apakah kamu ingin melihat tubuh indah kamu itu sendirian, tanpa menunjukkannya


padaku?” tanya Lee dengan menghembuskan nafas pelan. Jujur saja jantungnya berdebar dengan begitu kencang sekarang.


“Aku akan keluar sekarang.” Setelah bicara terdengar suara knop pintu yang di putar dari dalam kamar mandi itu. Lee menatap kearah pintu dengan mata yang penuh rasa penasaran.


Emil menundukkan kepalanya, sedangkan Lee tidak berkerdip


sedikitpun melihat bentuk tubuh indah makhluk ciptaan tuhan yang biasa di sebut-wanita.  Lee mengendong tubuh istrinya membawanya menuju ranjang, setelah sampai di atas ranjang, Lee segera membaringkan tubuh istrinya perlahan.


“Sayang, matikan lampunya,” pinta Emil yang merasa malu karena suaminya terus menatap setiap inci tubuhnya yang hanya di balut dengan


kain tipis ini.

__ADS_1


“Aku ingin melakukannya dengan lampu menyala.”


Lee mengecup puncak kepala istrinya, Emil hendak protes kembali meminta lampu kamar ini di matikan saja namun sebelum hal itu terlontar


dari bibirnya, Lee langsung mengecup bibir istrinya lembut, Emil mengurungkan niat awalnya untuk membuka mulutnya dan malah mengikuti pungutan suaminya yang


semakin lama semakin memabukkan itu.


Kedua tangan Lee tidak mau tinggal diam, kedua tangan itu dengan lincah langsung memainkan gunung kembar Emilia. Adegan Author skip ya


sayangku, kalian bisa membayangkannya sendiri ehehehe.


Selang beberapa waktu terdengar decitan ranjang memecahkan


ruangan kamar yang terlihat sunyi.


Pagi hari Emil membuka matanya, ia merasakan tubuhnya sakit semua seakan baru saja jatuh dari anak tangga. Bagaimana mungkin ia tidak


merasa lelah karena semalaman ia meladeni buasnya suaminya itu. Emil hendak turun dari ranjang namun kakinya terasa gemetar sekali, jika terus seperti ini ia tidak akan bisa panjang umur begitu pikirnya. Sedangkan Lee masih terlelap


dalam tidurnya, tentu saja dia tertidur nyenyak sekali setelah ular cobra


miliknya keluar masuk kedalam sarang beberapa kali dalam semalam.


“Aku ingin sekali berbaring tapi ingin ke kamar mandi,” gumam Emil lirih.


Lee langsung membuka matanya saat samar-samar suara istrinya


terdengar masuk kedalam gendang telinganya karena posisi mereka yang saling berdekatan.


“Ayo aku gendong,” ucap Lee pada suaminya. Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Lee langsung melakukan ucapannya itu.


“Tidak perlu aku bisa sendiri,” sahut Emil kemudian.


Namun Lee tidak perduli dengan perkataan istrinya itu. Ia segera beranjak bangkit dari posisi tidurnya kemudian mengendong sang istri

__ADS_1


masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai Lee kembali membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.


__ADS_2