Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Aku Bukan Hantu.


__ADS_3

 


London Inggris.


Setelah makan malam Lee yang tadinya mau balik ke Seoul segera di cegah oleh kedua orangtua Emil, mereka meminta agar Lee menginap satu malam di rumah mereka awalnya Lee menolak namun sesaat kemudian dengan berat hati pria itu mengiyakan apa yang di ucapkan oleh calon mertuanya karena mengingat di masa lalu mereka sangat baik kepada kedua orangtuanya. Lee tidur di kamar atas persis di samping kamar Emilia sedangkan Jim dan juga Narra tidur di kamar bawah.


Lee menatap setiap sudut kamar itu yang terlihat sangat rapi karena perabotan di dalamnya tertata dengan sangat rapi dan kamar itu juga sangat bersih karena sebelum Lee tempati kamar itu lebih dulu di bersihkan oleh pelayan rumah Jim, agar Lee bisa nyaman tidur di dalam kamar itu malam ini karena rencananya besok Lee akan kembali ke Seoul.


Malam hari di kamar Lee.


Pria itu masih diam mematung di atas ranjangnya dengan menatap ke arah langit\-langit kamarnya yang bercatkan putih polos tanpa sebuah cela sedikitpun. Lee masih menatap tanpa bergeming sedikitpun sehingga sebuah ketukan pintu di tengah malam yang sunyi itu mulai terdengar. Lee mulai menatap ke arah jam dinding yang masih menunjukkan tengah malam. Lee perlahan mulai beranjak berdiri dari posisi tidurnya dan dia lebih dulu menyalakan sakral lampu kamar yang berada di samping pintu.


 


Cklek! Lampu kamar itu sudah menyala dan seketika suasana suram akhibat gelapnya kamar itu mulai sirna saat lampu mulai menyala.


 


Lee perlahan mulai membuka pintu kamar itu dengan perlahan, "Huaaaaa. ." Pria itu sangat kaget saat melihat sosok hantu yang berada di hadapannya bahkan Lee langsung menutup kembali pintu itu dengan keras.


Wajah Lee kelihatan pucat pias dan pria itu masih bersandar di belakang pintu dengan tangannya memegangi jantungnya yang sekarang berdetak semakin kencang seakan meronta-ronta mau keluar dari tubuhnya.


 


Sedangkan di luar ruangan itu Emil sedang tertawa terpingkal-pingkal saat mengingat wajah kaget yang terlihat jelas di mimik wajah calon suaminya itu.



. Visual Emil saat bahagia rencana menakuti calon suaminya itu berhasil.


 


 


"Buka pintunya, hei pria penakut!" ledek Emil dari balik pintu itu dengan masih tertawa terpingkal-pingkal. Jelas saja Lee sangat kaget, karena ini tepat tengah malam dan dia melihat seseorang berwajah menyeramkan seperti itu. Emil dengan sengaja berdandan seperti seorang hantu lengkap dengan long dress warna putih polos dan juga banyak darah di seluruh baju itu atau paling tepatnya chat berwarna merah darah yang tadi sengaja Emil tuang di baju tersebut hingga terlihat seperti darah.


"Brensekk! Aku di takut oleh bocah ingusan seperti dirinya ini sungguh menjengkelkan," gerutu Lee dengan mulai mengepalkan jari-jari tangannya dengan kuat sampai buku-buku tangannya putih pucat.


 

__ADS_1


Brak! Lee membuka pintu itu dengan kasar dan langsung melotot ke arah Emil, dan saat melihat Lee melotot seperti itu Emil langsung menggaruk tenggorokannya yang tidak terasa gatal. Sekarang tengah malam dan semua pelayan rumah itu pasti sedang tidur sehingga rumah itu terlihat sunyi sepi sepertinya hanya ada Lee dan juga Emil saja yang berada di sana.


"Hooaa. ." gadis itu pura\-pura menguap padahal sebenarnya dia sedang ketakutan dengan tatapan pria itu terhadapnya. "Kak, aku ngantuk tidur dulu ya,"


ucap Emil dengan berbalik arah dan hendak berjalan menjauhi Lee. Namun yang tidak di sangka ialah Lee malah menarik tangannya masuk ke dalam kamarnya. Setelah dia dan Emil berada di dalam kamar itu Lee bergegas menutup pintu kamar tersebut dan melotot pada gadis kecil yang tadi hampir saja membuat dirinya jantungan.


"Lepaskan aku, Kak Lee," rengek Emil dengan mengerut kesal. Setelah menutup pintu kamar itu Lee segera melepaskan Emilia.


"Berani sekali kau membuatku hampir saja terkena serangan jantung!" Pria itu bicara dengan terus berjalan mendekati Emilia.


 


Mundur menjauhi Lee, "A. . aku hanya bercanda karena aku ingin tau saja apakah aku bisa menakuti mu,"


 


"Gadis ini imut juga jika sedang ketakutan seperti ini," gumam Lee dalam hati dengan mengamati wajah cantik Emilia dari dekat.


 


Emilia tersenyum saat mengetahui Lee sedang mengamatinya, dan saat pria itu sedang terpesona dengan kecantikannya Emil segera berlari keluar dari kamar itu dengan menggerutu kesal.


 


"Bocah kau mau ke mana?" tanya Lee dengan menarik salah satu senyumannya. Saat melihat wajah Emil sekarang berubah menjadi jutek.


Pagi Hari.


Seperti biasanya Narra dan juga Emil sedang memasak di dapur. Emil sedang ingin makan banyak sayuran sehingga Narra hanya membuat salad buah dan juga salad sayur.


"Bi Narra sedang apa?" tanya Lee dengan berjalan memasuki dapur. Emil langsung membuang pandangannya saat melihat Lee sedang mendudukkan tubuhnya di kursi kosong samping Narra yang sedang membersihkan sayuran yang akan di jadikan salad.


"Eh, Nak Lee kenapa jam segini sudah bangun? Ini Emil sedang ingin makan salad," balas Narra dengan menatap ke arah Lee.


"Saya sudah terbiasa bangun jam segini setiap harinya," Lee menimpali. Emil masih berpura\-pura sibuk dengan buah apel dan juga anggun merah yang sedang di bersihkan.


 


"Di mana Paman Jim?" imbuh Lee dengan melirik ke arah Emil yang masih sibuk dengan apa yang di kerjakan karena gadis itu sangat malas jika harus bertatap muka dengan pria dingin seperti dirinya.

__ADS_1


"Emil kau jangan cemberut di pagi hari yang cerah ini nantik kau bisa cepat tua," ledek Lee dengan berdiri dari posisi duduknya.


Emil langsung menjulurkan lidahnya di hadapan Lee saat pria itu sedang menatapnya. Narra hanya tersenyum tipis melihat tingkah keduanya Walaupun mereka saling ngeledek satu sama lain tapi bisa di bilang itu juga sebuah awal yang bagus untuk hubungan mereka kedepannya.


 


Para pelayan yang ada di dalam rumah itu sedang memperhatikan betapa tampan dan juga calon menantu dari majikan mereka. Lee sangat tampan walaupun pria itu sedang memakai baju santai saja di pagi hari.


 


Jim sedang lari pagi di halaman rumahnya, setiap pagi pria itu selalu bangun lebih bagi untuk berolahraga ringan terlebih dahulu untuk selalu menjaga tubuhnya agar terlihat awet muda dan terhindar dari berbagai penyakit. Pantas saja di usianya sekarang Jim masih terlihat tampan dan juga selalu sehat.


 


Lee berjalan ke depan teras rumah Emilia. Dan terlihat Jim sedang berlari kecil di sana Lee segera mengikuti Jim berlari kecil di samping calon mertuanya itu. Jim menoleh menatap siapa yang sedang berada di sampingnya saat ini karena setiap hari Jim selalu lari pagi sendiri karena para wanita rumah itu jika pagi hari sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.


Senja masih menghiasi langit di pagi yang cerah itu dan udara pagi hari itu terasa sepoi\-sepoi manja dan terlihat bunga yang tubuh di taman mini yang ada di halaman rumah itu seakan sedang bergoyang kesana kemari saat tertiup hembusan angin di pagi yang cerah itu.



Lee sangat menyukai tempat tinggal Emil karena rumah itu tidak terlalu jauh dari laut jadi udaranya pun bisa di bilang sangat sejuk apa lagi di pagi seperti ini.



"Pagi Paman," sapa Lee dengan berlari kecil di samping Jim.



"Pagi Nak, kau mau lari bersama?" tanya Jim dengan masih berlari kecil di samping Lee.



"Siapa takut!" Jawab Lee.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2