
"Sungguh aku bertemu dengan temanku, aku sengaja tidak bercerita pada Kak Lee karena takut jika Kakak akan marah,” jawab Emilia dengan menundukkan kepalanya takut.
“Inikah yang kau sebut dengan teman.” Pria itu bicara dengan wajah datar namun mata elangnya mampu membuat kaki Emilia terasa kehilangan penopang karena terkejut.
Emilia merasakan lemas di bagian kakinya setelah mengetahui fotonya bersama dengan Alan terpampang nyata di hadapannya saat ini. Emilia berusaha mengajak semua otaknya untuk berpikir mengalihkan perhatian lelaki berwajah buas yang saat ini melihatnya dengan tatapan membunuh. Emilia mulai menghela nafas lega saat dia mengetahui alasan lolos dari masalah ini dengan sangat mudah.
"Kak Lee. Aku tahu kamu pasti cemburu berat pada Alan, tapi percayalah kami hanya berteman saja kamu bisa percaya padaku," ucap Emilia dengan memasang wajah polos bahkan mata wanita itu juga berkaca-kaca saat melihat kearah Lee.
Emilia pandai sekali dalam hal menarik simpati orang lain contohnya seperti sekarang ini, lihat itu wajah Lee yang tadinya berwarna kemerahan dengan perlahan mulai redup saat melihat wajah memelas istri kecilnya ini.
"Aku tidak cemburu! Jangan berpikir bodoh, kita menikah karena perjodohan jadi jangan bersikap menyebalkan seolah kita menikah karena cinta," hardik Lee yang merasa tidak tahan saat istri kecilnya ini mengatakan "Cemburu,"
Mana mungin dia merasa cemburu pada anak ingusan seperti ini, Melihat Emilia sama saja dengan melihat Park adik kesayangannya. Tapi tidak dapat di pungkiri jika Lee juga merasa kurang nyaman saat mengetahui istri kecilnya ini bersama dengan pemuda lain, walaupun dirinya sendiri tahu jika pria itu adalah sahabat baik Emilia. Tapi tetap saja Lee sedikit tidak menyukainya.
"Kalau kamu tidak merasa cemburu, jadi kenapa menatap aku dengan mata elang begitu?" tanya Emilia dengan wajah penuh selidik.
"Apa yang kamu tahu? Awas saja jika berani keluar dengan pria lain tanpa sepengetahuan aku!" ancam Lee dengan menunjuk satu jarinya pada istri kecilnya tersebut.
__ADS_1
"Berani kamu menunjuk aku pakai jari," senyuman evil mulai terlihat dari dibibir manis gadis itu. Entah apa yang sedang dia rencanakan saat ini tapi jika di lihat dari senyumannya pasilah bukan hal yang bagus.
"Auuchh. . ." Lee langsung mengadu kesakitan saat jari tangannya di gigit dengan keras oleh istri kecilnya tersebut. Lee langsung mengibas-ngibaskan tangannya di udara sembari mengigit bibir bagian bawahnya mencoba menahan rasa nyeri sekaligus panas pada jarinya.
"Kenapa kamu berteriak, Kak?" tanya Emilia dengan wajah polos tanpa dosa. Emilia sudah tidak takut lagi pada Lee, bukan karena pria itu baik padanya, tapi Emilia mulai sadar jika pria di hadapannya saat ini tidak akan pernah menyakitinya.
"Apakah kamu ini keturunan anjing, kenapa mengigit jari tanganku seperti ini!" teriak Lee dengan nada suara lantang.
Berjalan satu langkah mendekati suaminya kemudian mendekatkan bibirnya yang mungil tersebut pada telinga sang suami sembari berbicara, "Karena kamu cemburu tidak mau mengaku." Emilia langsung berlari setelah dia mengatakan hal tersebut, di kejauhan gadis itu sempat menatap kearah Lee dengan menjulurkan lidahnya mengejek.
_ _ _
"Apakah tadi dia benar cemburu? Entahlah tadi aku hanya asal bicara saja." Emilia mulai melepaskan baju yang dia kenakan kemudian melemparnya ke atas ranjang begitu saja. Dia mungkin lupa jika dirinya tinggal didalam kamar ini tidak sendirian.
Lee baru saja masuk kedalam kamar, ia melihat istri kecilnya baru saja melepas pengait bra yang dia kenakan, sebagai pria normal mana mungkin Lee tidak tergoda melihat kemolekan tubuh sang istri. Tapi dia masih berusaha mengendalikan juniornya yang sudah mulai bangkit di bawah sana.
"Kamu mau menggodaku?" ucap Lee dengan masih menatap kearah Emilia yang langsung membuka matanya lebar-lebar ketika dia mengenal suara siapa yang barusan menyelinap kedalam telinganya.
__ADS_1
Buru-buru meraih bajunya yang ada di atas ranjang untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang, "Ka. . . kamu ngapain di sini?" taya Emilia dengan wajah terlihat emosi.
"Apa kamu lupa, ini adalah kamarku. Tapi jika kamu sudah siap untuk melakukan hal tersebut_" Lee menghentikan ucapannya saat dia melihat wajah Emilia yag kelihatan ketakutan. Entah sejak kapan dia mulai suka menggoda Emilia, hingga tanpa di sadari senyman tipis mulai terukir di bibirnya saat melihat istriya ketakutan dan marah seperti saat ini.
"Sith! Kenapa aku bisa lupa jika pria mesum ini ada di sini," umpat Emil dalam hati mengutuk kebodohannya sendiri. "Kamu jangan macam-macam, aku tidak suka pada om-om yang sudah bau tanah seperti dirimu," selesai berbicara Emilia langsung berjalan mundur kebelakang. Dan setelah dia berada di dekat kamar mandi, dirinya langsung masuk kedalam kamar mandi tersebut kemudian menutup pintunya cepat.
"Akan aku habisi kau jika sampai keluar dari kamar mandi! Berani sekali mengatakan aku tua," ucap Lee dengan mengedor-ngedor pintu kamar mandi tersebut.
Andai saja dirinya tidak ingat dengan jasa-jasa baik yang pernah di lakukan oleh Papa Emilia, mungkin ia tidak akan sanggup begitu sabar dalam menghadapi sikap konyol istrinya ini. Lee berjalan menjauh dari kamar mandi dengan perasaan emosi, baru saja dia berjalan beberapa langkah suara Emilia mulai terdengar lagi di telingannya.
"Om tua, bau tanah," ucap Emilia sembari membuka sedikit pintu kamar mandi tersebut.
"Akan aku habisi ka_" ucapan Lee terhenti saat ia melihat pintu kamar mandi itu tertutup kembali.
YANG MAU MASUK KE GRUP SILAHKAN BERIKAN TULISAN. "NISTY LOVERS 123," JIKA TIDAK MENGUNAKAN KATA TERSEBUT ADMIN TIDAK AKAN TAHU PERBEDAAN PEMBACA DAN JUGA ORANG ISENG.
JANGAN LUPA KOMENTAR DAN VOTE AGAR NISA SEMAKIN SEMANGAT LAGI UNTUK UPDATE TERATUR.
__ADS_1