
"Apakah nanti kita akan jadi latihan?" tanya Alan kemudian membubarkan suasana canggung di antara mereka.
"Tentu saja," sahut Emil cepat. "Kita harus mendapatkan juara pertama," imbuh Emil dengan wajah penuh tekat.
"Tentu saja, jika kita sudah bersama siapa yang bisa menghalanginya," ucapan Alan barusan begitu ambigu tapi Emil masih tidak menyadarinya.
_ _ _
"Park, bagaimana jika malam ini kita tidur bersama saja, pasti seru sekali karena kita bisa berbicara semalaman karena besok adalah hari libur." Emil melingkarkan tangannya pada lengan Park.
"Apakah kamu tidak tahu, jika hari ini, kak Lee akan mengajak kamu untuk ikut dengannya?" tanya Park.
Menolek kearah Park dengan air muka terkejut, "Memangnya dia akan mengajak aku kemana?" tanya Emil. Ia tidak membuka ponselnya sejak dari tadi jadi tidak tahu jika ada pesan masuk.
"Kamu harus ikut suami kamu untuk urusan bisnis selama tiga hari." Mama Narra keluar dari dalam rumah dengan membawa koper di tangannya. Emil mengertukan keningnya merasa tidak asing dengan koper berwarna pick itu, ya benar itu adalah koper miliknya.
"Mama dan juga Papa sedang berada di sini, mana mungkin Emil meninggalkan kalian," sahu Emil cepat.
"Kamu harus ikut dengan suami kamu dan hal itu sudah kewajiban, di sana nanti akan banyak wanita yang berniat merebut perhatian suami kamu," menatap ke arah putrinya. "Apakah kamu rela melihat suami kamu di rebut oleh wanita lain?" tanya Papa Jim sembari megerdipkan matanya pada Lee yang berdiri di sampingnya.
"Kalau begitu aku harus ikut," menjawab dengan cepat. "Mama dan juga Papa tidak akan kesepian, karena ada, Park yang akan menggantikan aku di dalam rumah ini," imbuh Emil lagi.
_ __
"Kak Lee, kita mau pergi kemana?" tanya Emil sembari menenglengkan kepalanya.
Melirik sekilas, "Nanti kamu juga akan tahu," sahut Lee dengan tersenyum tipis.
Mengerutkan keningnya merasa curiga, "Kak Lee, tidak berniat jahat untuk meningggalkan aku di tengah hutan karena cemburu dengan Alan kan?" tanya Emil polos.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Lee tersedak minumannya. Bagaimana mungkin istri kecilnya ini memiliki imajinasi liar seperti itu pikirnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu." Sembur Lee sembari mengusap sisa air di sudut bibirnya.
"Ehehehe, aku hanya bercanda saja. Jangan menatapku seperti itu, sungguh menakutkan sekali," ucapnya dengan mengerdikkan kedua bahunya.
"Apakah kamu lapar?" tanya Lee kemudian.
"Tidak, aku sudah makan siang tadi," satu Emil dengan menutup mulutnya karena kini ia mulai mengantuk.
Mengusap pelan kepala istrinya sembari berkata, "Kamu tidurlah, nanti jika sudah sampai maka akan aku bangunkan," ucap Lee dengan penuh pengertian.
"Baiklah," sahut Emil.
3 jam kemudian.
Emil mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, ia menatap keluar jendela ternyata langit sudah gelap, ia mengarakan pandangannya mengamati sekitar ruangan ini. Ruangan ini sangat besar dan hampir mirip seperti kamarnya. Bercat putih tulang dengan perabotan berwana coklat tua, lantai kamar ini terbuat dari kayu yang di cat senada dengan perabotan di dalamnya.
"Di mana, Kak Lee?" tanya Emil pada dirinya sendiri kemudian ia mulai menurunkan kakinya ke lantai kayu ini.
Ia membuka jendela kamarnya lebar, aroma pantai dan juga hawa dingin langsung menjamah tubuhnya tanpa ampun, ia tersenyum bahagia setelah mengetahui jika sekarang ia berada di villa yang ada di pinggir pantai. Ia melihat suaminya yang sedang berbicara dengan seorang pria bertubuh kekar, seperinya pria itu orang yang akan menjaga villa ini begitu pikir Emil. Lee melambaikan tangannya pada sang istri yang masih menatapnya dari jendela kamar.
Tok ... tok ... tok!
"Sayang mandi yang bersih ya," bicara dengan tersenyum tipis. "Aku akan menyuruh koki menyiapkan makan malam untuk kamu."
"Baiklah," sahut Emil dari dalam kamar mandi.
Beberapa waktu kemudian.
Emil sudah mengunakan mantel tebal di tubuhnya dengan celana panjang agar tidak terkena dinginnya angin pantai di malam begini, Lee melingkarkan satu tangannya di bahu istrinya dengan posesif, sepertinya ia takut jika sampai gadis kecil ini direbut oleh orang lain.
"Kak Lee, katanya kamu ada pertemuan bisnis?" tanya Emil sembari mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.
__ADS_1
Tempat makan ini berada di lantai atas villa dan langsung mengarah ke pantai, Permandangan yang sungguh indah sekali. Rambut panjang Emil bergerak mengikuti nafas angin laut membawanya menari kesana-kemari. Lee mengedarkan pandangan ke sekitarnya, setelah menemukan apa yang ia cari, dia langsung mengambilnya kemudian mengikat pita tersebut di rambut panjang istrinya walaupun pada awalnya ia kesulitan tapi akhirnya ia bisa melakukannya walaupun tidak sempurna.
"Besok aku akan melakukan pertemuan bisnis di mall yang tidak jauh dari Villa ini," sahut Lee.
"Aku ikut. Aku tidak mau di tinggal sendirian di Villa," sahut Emil cepat.
"Emil," mengusap tangan gadis itu lembut dengan ibu jarinya. "Kamu sudah selesai itu kan, bukankah sekarang sudah hari ke delapan semenjak kau menyuruh aku membeli pembalut." Lee benar-benar sudah tidak tahan bahkan setiap detik itu membuatnya tersiksa. Semenjak ia mengetahui kalau Emil juga memiliki perasaan yang sama dengannya, ia tidak bisa menahan dirinya lagi.
Tubuhnya menegang seketika, sentuhan suaminya seakan menyalurkan listrik bertegangan tinggi yang membuat jantung Emil berdetak cepat dengan darah yang s ludah berdesir bagaikan ombak di tengah lautan yang sudah siap menerjang karang.
"Iya," sahut Emil singkat. Tapi berhasil membuat Lee tersenyum manis. Di dalam hati pria itu sedang mengalunkan lagu romantis dengan ekspresi wajah datar, jika Lee menunjukkan kebahagian yang berlebihan nanti istri kecilnya ini malah mengira kalau ia sedang kerasukan roh jahat.
Emil makan dengan sangat lahap. Dia akan siap bertempur dengan suaminya untuk mengurangi rasa grogi dirinya harus makan dengan sangat banyak sekali. Ia hanya bisa menelan ludahnya sendiri melihat selera makan istrinya naik tiga kali lipat. Bakan Emil juga memesan makanan baru pada koki, sampai sang koki pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya hampir tidak percaya gadis kecil sepertinya bisa makan sebanyak ini.
_ _ _
Emil sudah berada di dalam kamar mandi hampir 30 menit. Tapi wanita itu masih juga belum keluar dari sana. Lee yang merasa khawatir langsung melangkah menuju pintu kamar mandi kemudian mengertuk pintu tersebut.
"Emil, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Lee yang cemas.
"Ak-aku baik-baik saja," sahut Emil.
"Apakah kau sudah memakai baju itu?" tanya Lee lagi.
"Sudah, tapi aku malu," sahut Emil dari dalam kamar mandi.
"Aku adalah suami kamu, kenapa kamu harus malu jika tidak kau tunjukkan kepadaku. Lalu mau kau tunjukkan pada siapa?" tanya Lee dengan kesabaran menembus langit.
"Tentu saja hanya pada Kak Lee saja akan aku tunjukkan," sahut Emil cepat dengan jantung yang berdetak kencang seperti genderang yang mau perang.
"Kalau begitu buka pintunya sekarang."
__ADS_1
Cklek!
Bagaimana ya ekspresi wajah Lee saat ini. ayo komentar yang banyak biar di kasih tambahan episode hari ini.