Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
hhh


__ADS_3

Kampus.


    Emilia baru saja turun dari taxi online yang dia pesan setelah ia membayar ongkos taxi tersebut, Emil


langsung memasuki gerbang kampus yang menjulang tinggi. Mata Emil menyapu halaman depan kampus tersebut, kampus ini termasuk kampus termegah sekaligus


paling besar di kota A dan tentunya hanya keluarga yang menengah keatas saja yang bisa kuliah di sini, tiang penyanggah yang sangat kokoh seakan menunjukkan begitu elit kampus ini.


     “Wow, ini kampus bagus sekali dan aku menyukainya,” ucap Emil dengan wajah berseri-seri. Keluar dari rumah membuatnya merasa lebih tenang dan perasaan marah yang sejak tadi


malam masih berkecamuk didalam hatinya kini dengan perlahan mulai hilang entah kemana.


     “Hei! Kamu sudah tiba duluan,” ucap Park yang langsung menepuk bahu Emil dan hal itu membuat Emil yang sedang melamun langsung terjingkat kaget.


     “Kamu ini seperti hantu saja, tiba-tiba berada di sampingku,” gerutu Emil dengan mengusap dadanya


pelan karena kaget.


     “Hehehe! Sejak dari tadi aku sudah memanggil-manggil nama kamu, tapi kamu hanya diam saja,” sahut Park.


     “Oh, Seperti itu,” balas Emil datar.


     Mereka berdua berjalan masuk kedalam kampus, Park yang memang dari kecil tinggal di negara ini, langsung menjelaskan pada Emilia tentang keunggulan di kampus mereka ini, Emil begitu antusias untuk mendengarkannya hingga mereka mulai tiba di kelasnya. Emil dan juga Park ternyata satu kelas di kampus ini mungkin secara kebetulan mereka mengambil jurusan yang sama.


_ _ _


     “Emilia, ayo kita ke kantin aku sudah lapar sekali,” ajak Park sembari membereskan peralatan menulisnya yang masih ada di atas meja.


      “Ayo, aku juga sudah sangat lapar sekali,” jawab Emilia dengan berdiri dari posisi duduknya.


      Semua pria menatap kearah Emilia yang memang kelihatan cantik sekali bahkan ketika dia tersenyum, senyumannya kelihatan sangat manis dan tidak ada satu pria pun yang


bisa menolak pesonanya. Tapi Emilia tidak perduli dengan tatapan para pria yang kelihatan memuja dirinya sedangkan Park langsungn mengandeng Emilia keluar dari


ruangan ini karena ia tidak mau jika sampai kakak iparnya ini di goda oleh pria lain lebih lagi Emilia tidak ingin jika pernikahannya dengan Lee di ketahui oleh teman kampus lainnya. Karena Emil masih ingin menikmati masa remajanya. Sebenarnya Emilia tidak sepenuhnya salah karena gadis seusianya memang masih suka bermain dengan teman sebaya lainnya apa lagi Emil menikah karena


perjodohan.


    Park dan juga Emilia berjalan menuju meja yang masih kosong, mereka berdua membawa nampan di


tangan masing-masing yang berisikan makanan yang telah mereka pesan sebelumnya.

__ADS_1


    “Emil kalau makan pelan-pelan dong, jangan rakus seperti itu apa kamu tidak malu di lihat oleh


pria di kantin ini,” celetuk Park mencoba mengingatkan Emilia.


    Menatap ke sekelilingnya dengan memutar bola matanya malas, “Aku tidak menyuruh mereka untuk melihatku,” jawab Emilia acuh.


    “Apakah Kak Lee tahu mengenai selera makan kamu ini,” ucap Emil dengan bergidik geli melihat Kakak iparnya ini.


     Emil menghentikan selera makannya karena ia merasa kenyang setelah ia mendengarkan ucapan Park barusan, memori internal otaknya langsung berputar tanpa di minta ke kejadian di malam itu di mana Lee sedang menciumnya. Emil yang sedang melamun dengan


menundukkan kepalanya langsung tersentak kaget saat ia merasakan tangan seseorang sedang menutup kedua matanya.


     “Tidak mungkinkan ini orang yang sedang aku bicarakan,” batin Emilia namun sesaat kemudian dia mulai mencium bau parfum seorang pria yang tidak asing di indra penciumannya.


     “Alan! Lepaskan,”


gerutu Emilia dengan memegangi tangan Alan.


    “Tidak seru, kamu bisa menebak ini aku dengan sangat muda,” ucap Alan sembari mendudukkan tubuhnya di kursi kosong samping Emilia.


     Park melihat Alan dengan tatapan yang sulit untuk bisa di baca, “Hai kenapa kamu ada di sini?” tanya Park pada Alan yang sedang menatap Emilia.


ucap Alan dengan mengerdipkan matanya kearah Park.


      Pipi park langsung berwarna merah seperti tomat yang sudah hampir busuk, “Kamu bisa


saja,” balas Park dengan tidak berani menatap Alan.


      “Kenapa kamu mengikuti aku sih? Aku tidak suka melihatmu,” gerutu Emil dengan menaruh kedua tangannya di perut.


    Melingkarkan tangannya di pundak Emil, “Kamu jangan begitu, jika kamu tidak ada maka duniaku ini akan hancur,” goda Alan dengan mencubit pipi Emilia gemas.


     Park tersenyum melihat sikap keduanya, bukan hanya Park saja bahkan beberapa orang lainnya yang sedang sibuk makan di kantin juga melihat keduanya dengan rasa iri.


    “Mereka berdua sangat cocok sekali, yang cewek cantik dan cowoknya tampan,” ucap para wanita


yang masih melihat keduanya.


     “Kamu benar, hatiku yang jomblo ini tidak tahan jika sedang melihatnya,” sahut wanita lainnya


yang merupakan senior mereka.

__ADS_1


    “Lihatlah mereka semua sedang mengira jika kalian berdua adalah sepasang kekasih,” ucap Emil.


     “Doain ya,” balas Alan dengan wajah memohon.


     Menepuk bahu Alan keras, “Gue udah meni_” Emil langsung menutup mulutnya ketika ia hendak


mengatakan jika ia telah menikah.


     “Kamu udah Meni, apa?” tanya Alan.


     “Meninggi, ya benar meninggi ucap Emil asal.” Emilia menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal.


      “Kamu ini aneh sekali sih kalau berbicara, baru tidak bertemu sebentar saja kamu sudah salah


tingkah,” ucap Alan dengan mengusap pelan puncak rambut Emilia.


     Menepis tangan Alan dengan wajah cemberut, “Jangan kebiasaan kamu memainkan rambutku yang


sudah aku sisir rapi,” balas Emil dengan wajah memberanggut.


      Setelah bercanda mereka bertiga berjalan keluar dari kantin karena mata kuliah hari ini telah selesai. Emilia hendak mengajak Park untuk ke café terlebih dahulu sebelum


mereka pulang. Namun Park tidak bisa karena ia ada urusan dan diapun pamit pulang terlebih dahulu. Mobil yang di tumpangi oleh Park sudah keluar dari gerbang kampus ini meninggalkan Alan dan juga Emilia yang masih berada di halaman kampus ini.


     “Jangan sedih Baby, kamu ke café sama aku saja,” ajak Alan dengan mencubit gemas pipi Emilia.


Mendengar Alan memanggilnya dengan sebutan Baby, Emilia langsung berpura-pura seperti orang yang mau muntah dan Alan yang melihat hal itu hanya bisa terkekeh geli dibuatnya.


     “Apa kamu tidak sibuk?” tanya Emil. Dia sangat malas sekali pulang kerumah walaupun hari sudah sore.


     “Aku selalu ada waktu untuk kamu, lagi pula kau tinggal di apartermen sendirian,” sahut Alan. Demi Emilia Alan rela berjauhan dengan keluarganya dan melanjutkan kuliah di negara ini, Emilia mengetahui hal tersebut tapi dia hanya diam saja.


     “Baiklah ayo kita per_” ucapan Emil terhenti saat dia berbalik arah dan menabrak seseorang yang ada di hadapannya.


     Emilia mengandeng tangan Alan dan pria yang Emil tabrak melihatnya dengan tatapan membunuh siapa


lagi jika bukan suaminya yang arogan dan juga berwajah tampan itu.


Visual Lee ketika melihat istri kecilnya mengandeng tangan pria lain.


__ADS_1


__ADS_2