Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Manis tapi Pahit.


__ADS_3

“Kalau makanan ini rasanya enak, di makan dong, jangan di lihatin saja! Harganya juga sangat mahal," ucap Emil sembari mengerdipkan satu matanya pada Sena. "pasti jika tidak dengan pacarku ini, kau tidak akan bisa makan seperti ini kan. Tante,” Emilia bicara dengan nada suara sangat lembut bahkan wanita itu juga tersenyum manis di akhir kalimatnya yang semakin membakar tubuh Sena saat ini.



Ya tuhan mulutnya begitu manis sekali tapi makna dari ucapannya sangatlah pahit, dan kata-katanya itu seakan sedang di ucapkan untuk membakar diriku. Gerutu Sena dalam hati sembari memaksakan senyuman di wajahnya yang kelihatan tawar.



“Sudah ayo makan,” ucap Lee sembari memasukkan satu sendok


steak daging yang di bakar dengan tingkat kematangan medium sehingga di tengah daging itu masih berwarna kemerahan.


Sena terpaksa makan steak  yang ada di hadapannya, Melihat Emilia tadi


masuk melewati pintu utama restoran itu membuat selera makannya menghilang


seketika. Steak daging dan juga semua makanan di restoran ini terkenal sangat


lezat dan juga nikmat entah mengapa pada hari  ini terasa hambar baginya. Demi menghormati Lee, Sena terpaksa memakan potongan daging berukuran kecil yang sudah dia potong tadi.


Emilia masih belum makan karena dia masih menunggu makannya datang, setelah makanan yang dia pesan terhidang di depan meja. Emilia merengek pada presdir Lee agar mau menyuapinya.



Sebelum meminta presdir Lee menyuapinya tentu saja Emilia mengirim pesan WHATSAPP bernada ancaman dulu di ponsel presdir Lee, agar pria itu tidak menolak keinginannya karena jika sampai hal itu terjadi, maka Emilia akan mengadu pada kedua orangtuanya presdir Lee, jika Emilia malah di tinggal sendirian di dalam kantor dan presdir Lee makan dengan wanita lain.



Pantas saja saat Emilia bilang minta di suapi Presdir Lee tidak menolaknya, bahkan Sena sampai tersedak melihat hal itu, dia sudah berteman dengan presdir Lee sangat lama namun dia tidak pernah melihat pria itu bersikap hangat pada seorang wanita apa lagi ini sampai dia menyuapi wanita di


hadapannya sendiri. Sena semakin bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita ini


karena sekalipun dia tidak pernah melihat wanita ini berada di rumah Lee ataupun datang berkunjung ke kantor.


Sena mulai percaya jika wanita ini adalah kekasihnya presdir Lee, namun baginya tidak masalah hanya kekasih saja Sena bisa menyingkirkannya dengan sangat muda. Baginya Emilia bukanlah saingan yang sepadan dengannya.



Makan siang itu telah selesai, sesuai janjinya presdir lee tidak kembali ke kantor lagi. Dengan memasanga wajah baik-baik saja Sena kembali ke kantor sembari mendengus kesal setelah dia masuk ke dalam mobilnya. Terlihat beberpa kali Sena memukulkan tangannya sendiri ke setir mobil dengan kasar sampai buku-buku tangannya itu berubah memerah.



Di dalam mobil Lee.

__ADS_1


.


“Kau mau pergi ke mana?” tanya Lee sembari mulai menyalakan mesin mobilnya keluar dari halaman parkir restoran itu.



“Pergi ke rumah sakit saja,” sahut Emilia dengan tersenyum manis.



Sontak presdir Lee langsung menoleh dengan kasar saat mendengarkan jawaban dari Emilia barusan. Namun Emil mengucapkan jika dia mau menjenguk kedua orangtuanya saja di sana dari pada harus pergi ke mall, Lee hanya bisa mengiyakan keinginan wanita yang ada di sampingnya itu sebab dia juga ingin melihat perkembangan Papanya di sana.



Rumah Sakit.


Emilia dan juga presdir Lee sudah berada di dalam ruangan Jhong di rawat, mereka berbincang-bincang sembari di selingi canda tawa renyah yang terdengar hangat dari dalam ruangan itu. Terbersitlah pikiran jika Emilia harus menanyakan asal muasal rumah yang telah dia tempati saat ini sebab dia


merasa ragu dengan apa yang di ucapkan oleh sauminya saat lampu padam tadi


malam.


Park sangat bahagia dia mengira jika kado darinya sudah di buka oleh Emilia, padahal Emil belum membukanya sama sekali, Ketika Park bertanya langsung pada Emilia dan wanita itu menjawab dengan jujur, Park langsung terkejut sekaligus kecewa sebab Emilia tidak membuka kado darinya.


Akhirnya Park menyuruh Emilia berjanji agar  dia memuka kado itu di depan Kakaknya. Tanpa berpikir panjang Emil mengiyakan keinginan Park itu untuk menebus kesalannya karena telat membuka kado darinya



Semua orang yang ada di dalam ruangan meeting itu melihat ke arah Presdir Lee dari layar lebar yang ada di tengah-tengah ruangan mereka berada.



Ruangan Jhong berada.



Emilia berdiri dari posisi duduknya dan dia mendekati Una yang sedang duduk di kursi samping ranjang Jhong berada.



“Ma, bolehkan aku bertanya?” ucap Emilia sembari mengkentikan langkahnya di samping Una duduk.


__ADS_1


“Ada masalah apa? Bicaralah tidak perlu kau sungkan sayang,” sambung Una sembari berdiri dari posisi duduknya dan ganti menyuruh Emilia duduk di kursi yang sempat dia duduki tadi.



“Ma, apakah benar jika rumah yang aku tempati dan juga Kak Lee itu, dulunya adalah bekas pemakaman yang sudah sangat tua usianya?” tanya Emilia dengan tatapan penuh selidik.



“Hahaha! Siapa yang telah bilang padamu semua itu, Emil?” tanya Una dengan tawa terpingkal dari bibirnya.



“Pasti putramu itu Ma, yang telah menakuti menantu kesayangan kita ini,” Jhong menimpali ucapan istrinya tadi dengan ikut tertawa meliat ke polosan Emila yang begitu saja mempercayai ucapan presdir Lee.



“Emilia, kau ternyata sangat polos ya. Bahkan di bohongi begitu saja kau sudah langsung percaya tanpa mencerna apa yang diucapkan oleh kakak kesayangan ku itu,” sambung Park dengan ikut tertawa sembari menarik tubuhnya dari sofa dan berjalan mendekati ranjang ayahnya berada.



Brensekk! Pria itu berbohong padaku. Dan karena rasa takutku yang berlebihan pada kegelapan membuatku tidak bisa mencerna apa yang dia ucapkan dan membuatku begitu saja percaya ucapanya itu. Gerutu Emilia dalam hati sembari mengigit bibir bawahnya dengan kesal.



“Kak Lee, bilang seperti itu mangkanya aku sangat takut tinggal di sana,” ucap Emilia dengan wajah memelas.



“Sudah-sudah kau jangan takut lagi, itu adalah rumah baru yang tidak di bangun di atas pemakaman seperti yang suamimu bilang, Jadi kamu tidak perlu takut lagi mulai sekarang. Tapi ingat jangan takut berlebihan


nantik mereka malah datang,” ucap Una memperingatkan.


Karean makhluk tak kasat mata jika di takuti malah akan semakin menjadi-njadi. setelah merasa puas dengan jawaban yang di berikan oleh mertuanya itu. Emilia ijin masuk ke dalam kamar di mana Presdir Lee berada.



Emilia kini sudah membuka handle pintu perlahan dan langsung membulatkan matanya dengan sempurna menatap kearah Lee yang sedang memusatkan perhatiannya di dalam laptop. Emil tidak mengetahui jika pria itu sedang melakukan rapat di dalam laptopnya saat ini.



“Hei kau, berani sekali berbohong padaku. Mulai nantik malam jangan tidur denganku lagi kau dengar,” maki Emilia sembari berdiri di samping presdir Lee dengan menaruh kedua tangannya di pingang.


__ADS_1


Presdir Lee langsung kaget saat melihat Emilia sudah berada di hadapannya, dan semua orang yang sedang melakukan meeting dari sebrang sana sontak melotot kaget setelah mereka melihat permandangan yang ada di hadapannya.


BAGAIMANA DENGAN KELANJUTANNYA YA. . SIMAK TERUS CERITANYA.


__ADS_2