Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Emil Merajuk


__ADS_3

"Kamu duduk saja di sini, biar aku yang mencuci piringnya." pinta Lee dengan nada memerintahkan dan Emilia hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.


Emil menatap punggung suaminya, sepertinya pria itu sudah terbiasa melakukan hal ini karena gerakannya terlihat begitu lihai sekali ketika mencuci piring.


_ _ _


Emil sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur sedangkan Lee sibuk memusatkan perhatiannya pada layar laptop yang berada di pangkuannya. Ruangan kamar ini terlihat sepi sekali karena kedua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka tidak merasa terganggu dengan kesunyian yang ada.


Pekatnya malam membuat susana mencekam tercipta dari ruangan kamar ini, terdengar suara nyanyian burung hantu membuat Emil bergidik takut. Ia menaruh bukunya di atas meja kemudian mengeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan suaminya. Lee yang sedang sibuk membaca setiap tulisan yang tertera di laptop mulai terganggu dan menatap istrinya sembari berkata.


"Apa kau sudah siap berkenalan dengan juniorku?" tanyanya dengan menarik salah satu alisnya.


Emil yang sedang memasang wajah takut langsung cemberut menatap suaminya, "Kak Lee, ini mesum sekali. Tidak pernah aku sangka, aku menikahi pria hidung belang," gerutu Emil tanpa berpikir.


mengerutkan satu alisnya, "Siapa yang mesum? Kamu dulu yang dekat-dekat denganku, suami kamu ini seorang pria jadi wajar jika berpikir seperti itu," sahutnya tidak mau di salahkan.


"Pria hidung belang," gerutu Emil.


"Pria hidung belang itu, jika aku menggoda wanita lain," jelas Lee. "kamu istriku, jadi sah-sah saja." Emil hanya bisa mencebikkan bibirnya kalah.


Keduanya saling diam, Lee kembali sibuk memusatkan perhatiannya pada layar laptopnya, Emil masih enggan menjauhkan tubuhnya dari suaminya, suara burung hantu itu terdengar semakin keras, bulu kuduk Emil mulai meremang sekarang.


Melirik Emil dengan tersenyum devil, "Ada bayangan yang melintas di depan jende_" belum sempat Lee menyelesaikan kata-katanya Emil langsung meloncat ke atas pangkuannya sampai membuat laptop di tangannya jatuh ke lantai.


"Huaaaa ... aku takut sekali, aku takut sekali." Emil memeluk tubuh suaminya, Emil mungkin tidak sadar jika sikap spontan nya ini ternyata malah membangunkan sesuatu dari bawah sana.


"Untung saja aku tadi sudah mengirim berkas laporannya ke ponsel, kalau tidak begitu, aku harus mengulanginya dari awal," batin Lee sembari mengusap keringat di jidatnya. Melihat sikap istrinya ini membuat Lee merasa gerah sekali.


"Apakah bayangan itu masih ada di sana?" tanya Emil polos. Entah sudah berapa kali dia di bohongi oleh suaminya, tapi masih saja tetap percaya.


Lee mengigit bibir bagian bawahnya, ia harus segera mengakhiri semua ini karena hasratnya sudah memuncak bagaimana lahar yang sudah siap di muntahkan oleh gunung berapi.


"Aku hanya bercanda," ucap Lee kemudian, ia lebih baik mengaku saja dari pada harus berada didalam posisi yang menyiksa seperti ini.

__ADS_1


Melepaskan pelukannya, menoleh kearah jendela, ternyata benar suaminya hanya membohonginya saja.


"Jangan bercanda seperti itu, aku takut," gerutunya sembari duduk di samping Lee.


"Habisnya kamu menggangu aku terus," sahutnya dengan mendekap istrinya.


"Sudah jangan dekat-dekat denganku." Emil benar-benar marah sekarang. Ia langsung menarik selimut yang ada di bawah kakinya dan memejamkan matanya dengan menjaga jarak.


"Laptopku rusak, bagaimana ini dengan berkas laporannya," bohong Lee, mencoba menarik simpati istrinya.


"Itu yang namanya hukum karma," ucap Emil dari dalam selimutnya.


"Kenapa aku yang salah?" tanya Lee dengan membenarkan posisi tidurnya menghadapi Emil yang masih tidur dengan posisi membelakanginya.


"Tanya saja pada tembok."


_ _ _


Mobil.


"Emil, nanti pulang dari kampus apalah kamu jadi latihan menyanyi bersamanya?" tanya Lee. Malas sekali jika ia harus menyebutkan nama pria itu. Begitu pikirnya.


"Hem," sahut Emil tanpa mengalihkan perhatiannya kearah jalanan.


"Apakah kamu punya uang saku?" tanya Lee lagi. Emil tidak menjawab namun dia langsung menadahkan tangannya di samping suaminya.


Tersenyum tipis, "Kalau minta uang saku, lihat orangnya jangan lihat ke luar jendela," ucap Lee.


"Ya sudah kalau tidak mau ngasih, nanti aku akan minta belikan, Alan makanan," ancam Emil sembari melirik kearah suaminya mengunakan sudut matanya.


Mengerutkan keningnya emosi ketika nama Alan disebut, "Jangan dekat-dekat dengannya," ucap Lee dengan air muka kelihatan serius.


"Kenapa?" tanya Emil.

__ADS_1


"Dia suka dengan kamu," sahut Lee cepat dengan mengalihkan pandangannya kearah jalanan.


"Aku tidak suka padanya," sahut Emil cepat.


"Jauhi dia, kamu tidak boleh terlalu dekat dengannya. Aku tidak suka," ucap Lee.


"Mana mungkin aku bisa jauh darinya, kita berdua akan duet bersama di atas panggung," jelas Emil.


Andai saja Lee tidak mengingat jika menyanyi adalah hobi istrinya, sudah bisa di pastikan Lee akan melarang Emil untuk mengikuti lomba menyanyi di kampus.


"Jaga jarak dengan pria lain, kau harus ingat jika kamu sudah menikah." Lee menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di kampus Emilia.


"Aku tahu suatu batasan," sahut Emil dengan wajah datar. "mana uang sakunya," imbuhnya lagi.


Lee mengambil dompet kulit berwarna hitam dari saku celananya, ia mengambil separuh uang dari dompetnya tanpa di hitung dan langsung memberikan pada Emilia.


Emil yang sedang merajuk langsung hijau matanya setelah melihat uang banyak yang diberikan oleh suaminya barusan. Emosi yang sempat mengelayuti hatinya langsung sirna tergantikan dengan perasaan bahagia ketika ia membayangkan akan membeli banyak hal dari uang sakunya hari ini.


Menatap kearah Lee, "Terima kasih, Kak Lee aku sangat senang sekali," ucapanya dengan mengecup pipi suaminya.


Jika aku tahu bahwa ia begitu suka dengan uang, aku tidak perlu repot-repot merayunya. Hanya perlu berikan banyak uang saja.


"Selesai latihan langsung saja pulang ke rumah," ucap Lee.


"Baiklah," sahutnya dengan cengegesan. Uang sungguh bisa membuat sikap semua orang berubah menjadi baik. Emilia yang tadi menekuk mukanya kini mulai tersenyum secerah sinar mentari pagi.


_ _ _


"Park, tunggu aku," panggil Emil dengan nada suara lantang sampai semua wanita yang berada di sampingnya mengumpat karena kaget, Emil hanya mengucapkan kata maaf tanpa mengeluarkan suara.


"Hem,. beginilah jika memiliki istri yang masih belum sepenuhnya dewasa, terkadang aku berpikir, apakah kedua orangtuaku memilih gadis itu untuk aku nikahi atau untuk aku jadikan adik," batin Lee.


Lee berpikir seperti itu ada benarnya juga, karena sikap Emil masih sama dengan Park adiknya, tapi itu juga wajar jika mengingat usia mereka sama.

__ADS_1


Sabar ya Lee, nanti juga kalau Emil sudah dewasa kamu akan semakin mencintainya, bersabarlah lebih lama lagi hal itu pasti akan tiba juga nanti.


__ADS_2