Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Mulai Posesif


__ADS_3

"Sepertinya kamu sangat mencintai Emil?" tanya Park dengan mengigit bibir bagian bawahnya.


"Sangat mencintainya, bahkan aku tidak bisa hidup tanpanya, mungkin," balas Alan dengan tersenyum kecil saat bayangan Emil yang sedang merajuk berputar di otaknya tanpa ia minta. Seperti kaset yang sedang berputar perlahan, Emil sungguh manis dan juga cantik, Alan tidak pernah bosan membayangkan wajahnya dan setiap ekspresi spontan yang gadis pujaan hatinya itu tunjukkan.


Park tiba-tiba merasa sesak nafas sekarang, oksigen di dalam lingkup paru-parunya seakan tersedot habis oleh kata-kata yang baru dikatakan oleh Alan. Air mata sudah menganak sungai di pelupuk mata gadis itu. Apakah selamanya Alan akan tetap mencintai kakak iparnya? Tidak bisakah pemuda itu melihat keberadaanya sekarang? Ataukan mungkin karena Alan masih belum mengetahui kalau gadis yang ia sukai ternyata sudah menikah, jika Alan mengetahuinya akankah pemuda itu melepaskan cinta pertamanya dan berpaling padanya. Semua pemikiran itu sungguh membuat mood Park berantakan sekarang.


"Hei, kau kenapa diam saja?" tanya Alan sembari mengacak-acak rambut Park yang kini sedang menundukkan kepalanya.


Mengusap satu tetes air matanya yang lolos tanpa ia minta, kemudian ia mengangkat kepalanya melihat ke arah Alan sembari berkata, "Tidak papa," sahutnya dengan memaksakan senyuman di bibirnya.


Mendekatkan wajahnya pada Emil sembari berkata, "Kau cantik juga," puji Alan dengan mengerdipkan satu matanya menggoda Park.


Park merasakan ada kupu-kupu yang sedang berterbangan di perutnya setelah ia mendengarkan ucapan Alan barusan, pemuda ini sangat pandai sekali membolak-balikkan isi hatinya. Lihat saja itu semburat merah sekarang mulai terlihat dari kedua pipinya.


"Kau cantik jika sedang tersenyum seperti ini," pujinya lagi. Park sebisa mungkin menahan perasaan bahagianya agar tidak terlalu terlihat oleh pemuda tampan yang beberapa waktu ini sudah mengisi relung hatinya.


"Hai, kalian sudah menunggu aku sejak dari tadi?" tanya Emil dengan melangkah gontai mendekati keduanya.


"Kamu lama sekali datangnya," ucap Park. Ia tidak mungkin membenci Emilia karena pemuda yang ia sukai malah menyukai kakak iparnya sendiri.


"Aku tadi macet," ucapnya berbohong dan kebohongan yang ia katakan tentu saja ketahuan dengan sangat jelas.


Menyentil kening Emil sembari berkata, "Kalau mau berbohong itu yang pintar sedikit, anak kecil saja sudah tahu jika di negara ini jarang sekali terjadi kemacetan," ucap Alan sembari melipat kedua tangannya di dada. Alan mengelengkan kepalanya sedangkan Emil memberikan senyuman kuda padanya.


"Ehehehe," Emil hanya bisa terkekeh saja. Tidak mungkin dia berkata pada kedua temannya kalau tadi ia lama masuk ke kampus karena berciuman dulu dengan suaminya. Kalau Park pasti sudah tidak kaget lagi, tapi Emil takut jika Alan akan pingsan jika mengetahui hal ini. Belum waktunya bagi, Alan mengetahui semua kebenaran ini karena pernikahan mereka juga masih seumuran jagung tapi Emil sudah memantapkan hatinya, dia akan mencintai suaminya saja.

__ADS_1


_ _ _


Alan, Emil dan juga Park kini sedang menikmati makan siang mereka di kantin, mereka bertiga sibuk mengahabiskan makanan yang ada di dalam piringnya. Terdengar samar-samar suara para wanita yang sedang membicarakan Emil dan juga Alan, tapi mereka berdua tidak merasa tergangggu sedikitpun karena sudah biasa bagi mereka, menjadi bahan perbincangan seperti sekarang ini.


"Apakah kau dengar, Alan dan juga Emil akan ikut dalam lomba menyanyi yang akan di adakan oleh kampus kita ini," ucap seorang wanita cantik dengan rambut berwarna pirang seperti daun yang sudah mengering, wanita ini bernama Lotie.


"Jika mereka ikut, itu akan menjadi saingan terbesar bagi kamu," sahut Banu sembari melirik ke arah Helena yang kini sedang sibuk memakan kentang goreng.


Menaruh begitu saja satu potong kentang goreng yang sudah ia gigit setengahnya, "Apakah kalian berdua meragukan kemampuan bernyanyiku?" tanya Helen dengan nada suara terdengar penuh penekanan tanda jika ia sangat terganggu dengan kata-kata sahabatnya itu. Helen adalah yang terbaik di kampus ini dan selamanya akan tetap seperti itu, batinnya dengan penuh percaya diri dalam hati.


"Tentu saja kami tidak meragukan kemampuan kamu," ucap Banu dengan gugup. "Aku dengar-dengar kedua orang itu sering sekali memenangkan piala di kampusnya dahulu sebelum mereka pindah ke negara ini," imbuh Banu lagi menjelaskan kehawatirannya pada Helena.


"Namun, aku percaya jika kamu akan bisa melwatinya dengan sangat mudah, mereka berdua bukan tandingan kamu." Lotie menimpali kata-kata Banu barusan.


Banu dan juga Lotie, adalah teman Helen tapi mereka berdua juga bisa disebut sebagai pelayan Helen, karena keduanya akan selalu menjilat Helen supaya temannya itu membelikan mereka makan, maklum lah sebenarnya Banu dan juga Lotie berasal dari keluarga yang sederhana mereka bisa masuk ke kampus ini karena mengunakan jalur beasiswa. Tapi semua orang tidak ada yang mengetahui akan hal ini termasuk Helen sekali pun, yang mereka semua ketahui adalah Banu dan juga Lotie anak orang kaya sama seperti mereka semua.


"Emil, apakah kamu sudah memilih lagu yang tepat untuk kita nyanyikan?" tanya Alan dengan menatap Emil.


Mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu sedang berpikir, "Aku masih belum bisa memikirkannya," jawab Emil dengan meminum milk shake di hadapannya.


"Kamu saja yang pilih, lagu apa saja aku bisa," jawab Alan menyombongkan diri.


"Kalian ini bagaimana sih, kenapa masih belum memilih juga lagunya sedangkan nanti kalian sudah melakukan latihan sepulang dari kampus," jelas Park dengan mengelengkan kepalanya melihat sikap kedua sahabatnya ini.


"Kamu benar juga," sahut Katie.

__ADS_1


"Pokoknya kamu yang harus pilih lagunya, saran, aku bagaimana jika pilih lagu penyanyi solo nanti kita kolaborasikan sendiri," ucap Alan.


"Ide yang sangat bagus sekali," sahut Emil dengan memebrikan kedua jempolnya pada Alan. Ini akan membuat berbeda penampilan mereka di pentas kaki ini sebab biasanya keduanya selalu menyanyi lagu Duwet saja.


"Aku setuju jawab, Park mantap."


_ _ _


Lee sedang sibuk dengan setumpuk berkas di hadapannya, sudah beberapa kali ia mencoba untuk fokus pada pekerjaanya, tapi tetap saja tidak bisa.


"Sith! Kenapa bayangan pemuda itu yang menatap istriku dengan penuh damba malah melintas di dalam piikiranku seperti ini," gerutu Lee sembari menaruh pulpennya begitu saja, ia menyandarkan punggungnya ke kuris dengan satu tangan mengusap wajahnya frustasi.


Gadis itu sudah membuatnya gila, ia bahkan tidak bisa melepaskan bayangan istri kecilnya dari pikirannya sepanjang hari ini. Luka lama telah menghilang kini hatinya mulai merindu, takut kehilangan dan ingin selalu berada di samping istri kecilnya itu. Kenapa ia bisa seperti ini? Sebenarnya mantra apa yang gadis itu miliki sampai membuatnya tidak tenang seperti sekarang.


Meraih ponsel yang ada di jangkauannya lalu segera menghubungi seseorang.


"Datang kemari sekarang," pinta Lee setelah telepon itu tersambung. Lalu satu detik kemudian ia langsung mematikan panggilan teleponnya secara sepihak.


Kira-kira siapa ya, yang barusan di telepon oleh Lee?


di bawah ini adalah contoh hody lambang dari Nisty Lovers. jika kalian mau pesan bisa japri nomor wa author yang ada di bawah gambar ini. sekedar tanya-tanya juga boleh ya, lagi open PO. untuk pembaca ada nama kalian nanti di bagian depan.



kalian bisa japri Khairin Nisa di Wa 08993487562 / Follow IG Khairin_junior.

__ADS_1


__ADS_2