
Emil mencoba untuk terus merayu suaminya itu, salah satunya dengan cara seperti ini, ia mencoba menggodanya seperti wanita dewasa.
Lee mulai menghembuskan nafas kasar beberapa kali itu pertanda jika pria itu mulai kesulitan untuk mengendalikan gairah di dalam dirinya. Emil tersenyum tipis ia tahu jika lelaki itu tidak akan betah mendiamkannya lebih lama lagi.
Tapi ternyata apa yang Emil pikirkan tidak terjadi, Lee masih tidak menggubrisnya padahal Emil sudah mulai memainkan senjata suaminya yang sudah keras bagaikan pemukul bisbol. Emil masih tidak mau menyerah sampai Lee harus mengigit bibir bagian bawahnya agar tidak terpancing dengan permainan istrinya.
“Sayang, kamu jangan marah lagi. Kelak aku tidak akan
dekat-dekat lagi dengan, Alan.” Ucap Emilia dengan wajah cemberutnya, ia juga memasang wajah memelas sekali namun di mata Lee hal tiu malah membuatnya semakin gemas saja pada sang istri kecil.
“Jangan berjanji jika tidak bisa menempatinya.” Lee sudah
bisa menebak jika apa yang dikatakan oleh Istrinya ini akan sulit ia tepati jika mengingat Alan yang terus-terusan selalu ingin dekat dengan istrinya setiap hari.
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku akan berusaha.”
Emil berbicara dengan menatap suaminya berharap jika pria itu akan percaya dengan apa yang dia katakan.
“Baiklah,” sahut Lee kemudian. Ia percaya pada istrinya.
Mendudukkan tubuhnya di pangkuan Lee sembari berkata, “Sayang,
kenapa kedua orangtuanya Helena tadi takut pada kamu?” tanya Emil yang merasa penasaran.
Melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya posesif, “karena
aku adalah satu-satunya orang yang berinvestasi sangat banyak di perusahaan itu.” Lee menatap istrinya. Di negara ini tidak ada yang berani melawan keluarga Back jika mereka masih ingin tetap aman berada di posisinya masing-masing.
“Pantas saja, mereka semua langsung ketakutan saat melihat
kamu,” imbuhnya lagi dengan menganggukkan kepala mengerti.
Lee merebahkan tubuh Emil dan dengan sekejap istrinya itu sudah berada di bawahnya. Emil hendak membuka mulutnya untuk meminta dilepaskan namun Lee langsung membungkam bibir istrinya dengan ciuman yang memabukkan. Ia
mendekatkan bibirnya pada telinga Emil hembusan nafas pria itu membuat seluruh bulu halus di tubuhnya merenung sempurna.
“Suruh siapa kau sudah membangunkan juniorku, sekarang kau harus menidurkannya lebih dahulu.” Usai berbicara Lee langsung mengajak lidahnya menelusuri leher jenjang istrinya. Kedua tangannya tidak mau diam begitu saja ia meremas kedua bongkahan kenyal di balik bra yang masih di kenakan oleh istrinya itu dengan gerakan gesit Lee sudah bisa melepaskan pengait bra istrinya tangannya sudah terlatih melakukan semua ini sejak ia menikah dengan Emilia.
Selang beberapa waktu terdengar decitan ranjang memecahkan
kesunyian di dalam ruangan kamar. Kedua pingsan tuhan itu sedang mencari kenikmatan surga dunia yang sering orang lain bicarakan.
_ _ _
__ADS_1
Emil dan juga Lee sedang duduk di meja makan, keduanya
sedang menikmati roti bakar yang sudah mereka buat sebelumnya, tidak ada perbincangan diantara keduanya selang beberapa saat kemudian akhirnya Lee membuka mulutnya juga untuk berbicara.
“Sebaiknya kamu mengatakan pada teman pria kamu tentang
kenyataan jika kamu sudah menikah,” ucap Lee. Ia merasa jika suatu saat Alan akan membuat hubungannya dengan emil merenggang. Ia tidak mau kehilangan wanita yang paling ia cintai untuk kali kedua. Begitu pikirnya.
“Aku takut dia kecewa, aku tidak bisa melakukannya.” Emil benar-benar tidak ingin melukai pria sebaik Alan dan tanpa ia ketahui jika Alan
memang sudah mengetahui semuanya namun pemuda itu tetap diam menyimpan semuanya dibalik mulutnya yang terkatup rapat.
“Sampai kapan kamu akan menyembunyikan semua ini?” tanya Lee dengan serius. Ia menyudahi sarapan paginya kemudian meneguk satu gelas air mineral.
“Apa kamu tahu, Park menyukai Alan. Aku ingin mereka bersama, Alan adalah pemuda yang baik dan aku mengenalnya.” Emil berbicara
mantap. Ia melihat sendiri beberapa kali kalau Alan terus saja memperhatikan Park. Tanpa sepengetahuan Park juga Emil memperhatikan gerak-gerik Park yang
diam-diam memperhatikan Alan. Keduanya sepetinya memiliki ketertarikan satu sama lain dan Emil ingin membantu keduanya.
“Aku tidak setuju, jika Park mendapatkan pemuda seperti itu.”
Tegas Lee dengan mantap.
dari pada dia bersamaku,” dengan iseng Emil mengatakan hal itu dan iapun mendapatkan hadiah tatapan tajam dari suaminya.
“Bicara sekali lagi jika kau mau kehilangan lidah kamu itu,” kecam Lee dengan wajah datarnya.
“Tidak.” Emil langsung menjawab cepat sembari menutupi
mulutnya dengan tangan.
“Aku akan menyelidiki semua tentang latar belakang pemuda itu, barulah aku akan memutuskan ia pantas atau tidak dengan adik kesayanganku
itu.” Lee menegaskan pada Emilia. Park tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain dan sebagai seorang kakak sangat wajah jika Lee takut kalau sampai ada orang yang menyakiti hari adik kesayangannya itu.
“Aku menikah dengan kamu tapi tidak mengetahui semua tentang masa lalu atau pun siapa saja yang pernah berkencan denganmu, Sayang,” sahut
Emil cepat.
“Karena aku berbeda.”
“Ya, kau sangat istimewa,” cibir Emil sembari membawa dua
__ADS_1
piring kotor yang ada di meja menuju ke wastafel untuk ia cuci.
Kampus.
“Kau tidak usah merasa khawatir lagi karena aku sudah menyingkirkan musuh kamu itu.” Lee berbicara sebelum Emil turun dari dalam
mobil.
“Apa maksud kamu itu?” tanya Emil tidak mengerti kemana arah pembicaraan suaminya ini.
“Turunlah, Park sudah menunggu kamu dari tadi,” sahut Lee
dengan tersenyum kecil.
“Baiklah, hati-hati di jalan dan semoga hari kamu lancar,
Sayang.” Emil memberikan hadiah kecupan di bibir suaminya sebentar dan dengan iseng dia mengigit bibir bagian bawah suaminya gemas kemudian segera turun cepat dari dalam mobil.
“Gadis nakal ini,” ucap Lee sembari mengusap bekas gigitan istrinya itu dengan ibu jari.
Mobil Lee segera meninggalkan halaman kampus ini. Sedangkan
Emilia berlari menghampiri Park yang sedang duduk di bangku panjang yang berada di taman kampus. Langkahnya terhenti ketika Lotie dan juga Banu menghadang langkahnya tiba-tiba. Emil hampir saja menabrak keduanya, tapi untung saja ia
bisa menghentikan langkah kakinya tepat waktu.
“Kenapa kalian berhenti tepat di depanku?” tanya Emilia dengan memutar bola matanya malas.
“Kau pasti merasa bahagia sekali setelah tahu kalau Helena tidak melanjutkan kuliah di kampus ini lagi.” Tuduh Banu sembari mendorong tubuh Emilia kebelakang dan beruntung sekali Alan datang tepat waktu kemudian menangkap Emilia hingga gadis itu tidak sampai terjatuh ke halaman kampus ini.
“Kenapa kalian sudah mencari gara-gara sepagi ini?” tanya
Alan dengan tatapan tajam.
“Kau licik sekali, selalu saja berdiri di balik pria-pria yang kau jadikan pengawal,” sindir Lotie telak yang langsung menghunus ke jantung Katie bagaikan pisau tajam.
“Alan, aku mohon kamu pergilah, aku tidak ingin di kira takut pada orang seperti mereka,” tersenyum miring dengan emosi yang sudah tertata apik di pikirannya.
“Aku tidak bisa,” sahut Alan.
“Aku mohon padamu, apakah kau tidak percaya dengan kemampuanku?” tanya Emil dengan air muka terlihat kecewa.
“Aku percaya padamu, aku akan pergi kamu harus baik-baik saja.”
__ADS_1
“Sekarang kita sudah bertiga, aku tunjukkan pada kalian walaupun tanpa seorang pria aku bisa membela diriku sendiri." Kilatan penuh kebencian sempat terkobar dari manik mata Emil hal itu sempat membuat Banu mundur satu langkah karena takut namun Lotie segera menahan sahabatnya agar tidak takut pada wanita seperti Emilia.