
Narra dan juga Una sedang duduk di teras rumah. Keduanya menikmati angin di sore hari yang cerah ini, terlihat pohon-pohon besar yang
menjulang tinggi bergoyang kesana-kemari mengikuti nafas angin membawanya dengan begitu lembut membimbing daun mereka meliak-liuk dengan begitu indah.
Ketenangan itu seketika sirna saat keduanya mengingat kembali jika wanita yang selama ini ingin mereka singkirkan jauh-jauh dari benak Lee justru kembali saat pria itu sudah menemukan kebahagiannya. Emilia sangat baik perempuan itu tidak
pantas mendapatkan kesedihan walaupun sedikit saja.
“Narra, bagaimana jika perasaan cinta Lee tumbuh kembali setelah ia melihat Park kembali lagi?” tanya Una dengan perasaan gelisah. Ia tahu jika Natalie tidak benar-benar mencintai putranya itu karena ia hanya ingin
membalas dendam atas kesedihan yang dialami oleh Yera.
“Aku percaya jika Lee tidak akan pernah setegah itu pada putriku, aku sangat yakin jika lee benar-benar mencintai Emilia apa lagi jika
mengingat kalau ia menjaga Emil waktu masih koma, perasaan Lee sangat tulus dan aku yakin itu,” ujar Narra panjang lebar. Sebenarnya ia juga memiliki perasaan takut jika sampai Lee meninggalkan putrinya karena cinta masa lalunya telah kembali lagi. Tapi Narra lebih memilih untuk berpikir positif saja.
“Aku tetap saja merasa takut dan tidak tenang, bagaimana jika kita menemui Year dan menyuruh putrinya untuk menjauh dari kehidupan kita
semua, aku sangat yakin jika Natalie hanya ingin menghancurkan kebahagiaan kita karena dia juga ingin kita merasakan apa yang Yera rasakan di masa lalu.” Una kembali berbicara panjang lebar ia mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya.
“Mama-mama cantik, kalian sedang berbicara tentang apa kok serius sekali?” tanya Emil yang tiba-tiba berada di belakang Narra dan juga Una dengan tersenyum manis.
Una dan juga Narra saling menatap satu sama lain, mereka bingung mau menjawab apa keduanya takut jika sampai Emil mendengarkan perbincangan mereka berdua tadi. Emil masih dalam masa pemulihan akhibat komanya dan dokter juga mengatakan jika ia tidak boleh stres ataupun merasa tertekan karena itu akan menghambat penyembuhannya.
“Kenapa kalian hanya diam saja?” tanya Emil lagi.
__ADS_1
“Se-sejak kapan kamu di sini sayang?” tanya Narra tergagap.
“Baru saja, memangnya kenapa?” tanya Emil dengan wajah polosnya.
“Apakah kamu baru saja mendengarkan sesuatu?” tanya Una yang juga merasa panik, ia mencoba tetap tenang dengan menunjukkan senyuman manis yang bisa ia lakukan agar anak menantunya ini tidak merasa curiga.
Emil mengelengkan kepalannya pelan sembari berkata, “Aku tidak mendengarkan apapun. Memangnya apa kalian sembunyikan dari, Emilia?”
tanya Emil dengan menaruh kedua tangannya di dada sorot matanya seakan menyelidik kearah Narra dan juga Una.
“Hahahaha! Kami tidak membicarakan apapun, sudah lupakan saja,” sahut Narra kemudian.
Hembusan nafas lega terdengar lolos dari bibir Narra dan juga Una. Mereka berdua sangat beruntung karena semesta dengan berpihak pada
keduanya. Ketiga perempuan itu berbincang-bincang bersama sesekali terdengar canda tawa renyah dari bibir keduanya.
berlangsung dua hari kedepan, Lee dan juga Emil terlihat mendengarkan dengan sangat jeli apa yang kedua orangtuanya itu katakan. Setelah beberapa waktu semuanya memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing untuk
beristirahat, tapi Park memanggil Lee dan mengatakan kalau ia ingin berbincang-berdua dengan kakaknya itu akhirnya semua orang meninggalkan mereka berdua di ruang tengah begitu juga dengan Emil. Ia menaiki anak tangga rumah ini menuju ke ruangan kamarnya.
Park meminta pelayan untuk membawakan dirinya dua cangkir
kopi. Selang beberapa waktu pelayan datang sembari membawa kopi pesanannya, di ruangan tengah ini terlihat sepi karena keduanya sedang diam menikmati kopi hangat yang baru saja di buatkan oleh pelayan tersebut.
Park menaruh cangkir tersebut di atas meja, ia menatap kearah Lee yang masih menyesap kopinya dengan begitu kidmat. “Kak Lee, aku
__ADS_1
ingin berbicara padamu mengenai perempuan dalam masa lalu kamu itu,” ujar Park to the poin. Ia tidak mau kalau sampai Emil terluka karena sebab itu lebih baik mencegah hal buruk itu terjadi.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Lee sembari menaruh cangkir kopi tersebut pelan di atas meja kemudian ia menyandarkan punggungnya melihat kearah adiknya yang sekarang sedang melihatnya dengan wajah serius.
Park menceritakan tentang apa saja yang ia dengar saat berada di kantor Alan. Lee tentu saja langsung percaya dengan apa yang di katakan oleh adiknya ini sebab ia tahu kalau adiknya tidak pernah berbicara
bohong selama ini.
“Kamu tenang saja cinta antara dia dan aku di masa lalu sudah lama usai, aku tidak akan pernah kembali padanya karena menurutku Natalie
tidak lebih dari sepenggal kisah masa lalu yang harus aku luapkan. Emilia sekarang adalah satu-satunya wanita yang sangat aku cintai dan juga sayangi saat ini sampai nanti, dia adalah masa depanku yang akan mendampingiku sampai Tuhan mengambil nyawaku,” ucap Lee panjang lebar pada Park. Ia juga tidak mau jika masalah Natalie akan membuat istrinya salah paham.
“Aku senang sekali jika seperti itu asalkan, Kak Lee tahu Natalie dari awal mendekati kakak karena ingin membalas dendam akan semua yang terjadi di masa lalu pada mamanya.” Ujar Park. Selama ini tidak ada yang mengatakan tentang kebenaran siapa Natalie pada Lee, tapi sekarang Park mengatakannya agar Lee tidak terperdaya dengan tipu muslihat mantan kekasihnya itu. Park bukannya tidak percaya dengan kakak kandungnya hanya saja ia perlu memperjelas semuanya jadi dengan begitu sekeras apapun Natalie mencoba untuk meluluhkan hati Lee,
perempuan licik itu tidak akan bisa melakukannya.
“Apakah kamu berbicara yang sebenarnya?” tanya Lee pada Park
dengan kedua mata yang sudah merah menyala kedua tangannya terkepal dengan begitu kuat seakan menunjukkan jika lelaki itu siap menghancurkan siapa saja musuh dihadapannya tanpa perduli wanita ataupun pria.
“Kakak bisa minta tolong orang lain untuk menyelidiki akan hal ini jika tidak percaya pada Park,” pinta Park dengan wajah kelihatan serius sekali.
Lee menatap kearah Park sembari berkata, "Kakak sangat percaya padamu," ujarnya menatap dan hal itu berhasil membuat senyuman di bibir Park terbit sebelumnya ia tidak pernah tau jika Lee percaya padanya sebesar ini.
di bawah ini adalah sedikit kisah dari novel "Hallo Musuh." akan segera Open PO jika kalian ingin pesan atau tanya-tanya bisa wa ke no 08993487562 atau bisa juga DM ke khairin_junior ya....
__ADS_1