Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Menjaga Istri Kecilnya


__ADS_3

'“CEO Lee, Nona Park tadi mengatakan jika, Anda tidak perlu


menjemputnya, sebab ia akan langsung ke rumah sakit dengan temannya yang bernama, Alan,” jelas


Asisten Luwis dengan detail. Ia menceritakan semua perbincangannya dengan adik dari Tuannya itu.


“Biarkan saja, pemuda itu tidak akan menyakiti adikku,” sahut Lee. “tetap suruh para pengawal untuk memantau apa saja yang mereka


lakukan dari kejauhan,” imbuh Lee lagi. Sebagai seorang kakak sudah sewajarnya ia bersikap posesif seperti sekarang ini.


“Baik, CEO Lee,” sahut asisten Luwis.


Alan dan juga Park sudah sampai di rumah sakit setelah menempuh beberapa menit perjalanan. Alan menyapa kedua orangtua Park sebelum masuk kedalam ruangan Emilia berada. Alan tersenyum getir melihat kondisi gadis pujaan hatinya masih tergeletak di atas ranjang.


“Berikan motifasi untuknya, kata dokter, Emil masih bisa mendengarkan apa yang kita ucapkan namun ia tidak bisa membuka matanya,” bisik Park sebelum mereka berdua melangkah mendekati Emilia.


“Ya, aku tahu,” sahut Alan dengan nada suara terdengar bergetar.


“Lebih baik kau tenangkan diri kamu dahulu, baru bicara jangan sampai Emil mengetahui kesedihan kamu.” Park hendak melangkah keluar setelah mengucapkan kata tersebut pada Alan, namun Alan segera menggenggam tangannya ingin jika Park tetap menemaninya di dalam ruangan ini. Park pun mengiyakannya dengan senang hati.


“Ahem … ahem, Emil kau pasti sudah tahu jika ini adalah aku, kau sudah bisa merasakan kehadiranku dari jarak 2 meter. Bukankah kau sangat


suka dengan aroma parfumku ini, tapi sekarang aku merasa kamu tidak menyukai aroma parfum ini lagi karena kau hanya diam saja ketika menyadari kehadiranku. Emil bangunlah, apa kau tidak merasa lelah terus berbaring di tempat ini?” ucap Alan dengan suara gembira namun air mukanya menunjukkan hal yang sebaliknya. Ia bahkan beberapa kali mengigit bibir bagian bawahnya untuk menahan agar bibirnya tidak gemetar saat berbicara.


"Emil, bangunlah. Lihat ini, Alan datang menjenguk kamu, dia bilang kalau kau bangun maka ia akan mengajak kita melihat film romantis," imbuh Park mencoba menyemangati kakak iparnya itu.


Tapi percuma saja karena gadis itu masih betah bermain di dalam alam mimpi, keheningan mulai merayapi ruangan ini. Hanya terdengar alat deteksi jantung yang membuktikan jika Emil masih hidup.


“Emil, ayo bangunlah. Lotie dan juga Banu sekarang sudah tidak ada di kampus lagi, karena pihak kampus mengeluarkan mereka, sekarang

__ADS_1


tidak akan ada lagi orang yang mengganggu kamu di kampus, kau harus bangun, ya kami semua menunggu kamu.” Park membuka mulutnya lagi agar suasana tidak sunyi.


Alan tidak kuat menahan kesedihannya, ia mengenal Emilia dengan sangat dekat. Gadis itu selalu riang dan dan tersenyum jarang sekali Alan melihat Emil bersedih. Tapi sekarang Emil tidur tanpa bergerak dengan wajahnya yang pucat bagaikan tidak ada aliran darah di sana.


Di sisi lain, Lee mengawasi apa yang adiknya dan juga Alan lakukan di dalam ruangan istrinya dari kamera pengawal yang berada di ruangan


tersebut. Lee ikut bersedih melihatnya.


Tiga bulan setelah Emil koma.


Lee sedang membacakan novel untuk sang istri sebelum tidur seperti biasanya. Lee terus membacakan novel dengan genre romantis, agar sang istri bisa merasakan perhatiannya melalui cerita yang ia bacakan. Lee bahkan menyuruh istrinya itu untuk membayangkan jika toko utama dalam novel itu adalah mereka berdua. Lee ingin sang istri merasa bahagia di dalam tidur


panjangnya. Lee sudah menguap beberapa kali, ia segera menutup buku tersebut kemudian menaruhnya di atas nakas dalam jangkauannya.


“Maafkan aku, Sayang, aku sudah mengantuk, aku janji besok akan melanjutkan ceritanya lagi,” ucap Lee sembari mengecup kening sang istri.


Lee segera membaringkan tubuhnya, ia tidak pernah mematikan lampu kamarnya sejak sang istri sakit, karena Lee ingin jika Emil terbangun


Emil kembali meneteskan cairan bening dari sudut matanya,


ingin sekali ia bangun dan memeluk suaminya namun itu tidak bisa ia lakukan.


Lee sudah terbangun dari tidurnya, ia langsung menyeka tubuh istrinya di pagi hari, kemudian mengantikan bajunya. Lee tidak mengijinkan


siapapun untuk melakukan hal itu pada istrinya. Setelah tubuh Emilia terlihat bersih Lee keluar dari ruangan ini untuk menemui mamanya.


“Ma, bisakah Lee minta tolong?” tanya Lee setelah berdiri di samping wanita yang telah melahirkannya itu.


“Ada apa, Sayang bicara saja,” sahut Una sembari berdiri dari posisi duduknya.

__ADS_1


“Tolong, make up wajah Emil agar tidak terlihat pucat, aku ingin ia tetap terlihat cantik, Ma. Lee takut ia terbangun sewaktu-waktu,” jelas Lee dengan tersenyum manis.


Una menatap kearah suaminya sesaat pria itu menganggukkan kepalanya menyuruh sang istri untuk melakukan apa yang putranya minta. Una sudah merasakan sesak di bagian dadanya, permintaan Lee seakan menyerap oksigen dalam paru-parunya.


“Lee, apakah kamu tidak pergi ke kantor hari ini?” tanya Jhong sebelum Lee berbalik arah.


“Hari ini tidak ada meeting penting, aku ingin menemani istriku saja. Aku akan bekerja disini hari ini,” sahut Lee.


“Ayo kita temui istri kamu,” ucap Una dengan nada suara gemetar.


“Ma, jangan sedih. Lee baik-baik saja aku percaya Emil itu kuat dia akan segera bangun,” ucap Lee dengan keyakinan tingkat dewa.


“Ya, Tuhan tolong dengarkan permintaan putraku. Dia tidak


akan sanggup kehilangan perempuan yang ia cintai untuk kali kedua,” batin Una dengan tersenyum pada Lee.


Una mengambil lipstik dengan warna bibir kemudian mengaplikasikan lisptik itu di bibir pucat Emilia, ia memberikan sedikit pelembab dan juga pewarna pipi pada wajah Emilia. Kini gadis itu seperti orang yang tidak sedang koma namun seperti sedang tertidur. Setelah menyelesaikan tugasnya Una melangkah keluar dari ruangan ini, langkahnya terhenti saat suara putranya membuat kakinya seakan terpaku di lantai marmer ruangan ini.


“Sayang, aku akan memotret kamu dan akan aku tunjukkan padamu ketika kau bangun nanti, bahwa kau sangat cantik sekali walaupun sedang tidur seperti sekarang ini,” jelas Lee dengan mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Terlihat beberapa kali ia memotret istrinya dari sudut yang menurutnya bagus.


Una langsung berlari keluar dengan menutup tangannya di mulut.


“Ma, kenapa kamu menangis?” tanya Jhong.


“Mama, tidak tega melihat Lee seperti itu, Pa.” Ucapnya dengan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


“Mama, harus percaya jika anak menantu kita sangat kuat, ia akan berjuang untuk sembur. Emil juga sangat mencintai Lee kekuatan cinta akan membuatnya kembali pada kita,” ucap Jhong mencoba untuk menenangkan hati istrinya.


“Semoga saja hari itu lekas datang,” jawab Una dengan penuh permohonan pada Tuhan.

__ADS_1


Bagaimana episode nya, apakah kalian masih sanggup dengan cerita mengandung bawang ini. berikan komentar juga, apakah kalian bisa masuk kedalam cerita yang sedang coba author sampaikan ini?


Jangan lupa ikuti akun mangatoon Khairin Nisa dan juga follow Ig Khairin_junior ya.


__ADS_2