Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Merayu.


__ADS_3

 Emilia langsung


memasang wajah cemberut saat dia menyadari jika Lee tidak mengajaknya pergi


makan siang bersama, Perut Emilia sudah mulai lapar lagi. Sena pergi meninggalkan


ruangan Presdir Lee sembari melirik tajam pada Emilia, namun dengan gaya remaja


wanita itu hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya sampai membuat Sena


mengigit bibir bagian bawahnya merasa jengkel melihat tingkah gadis kecil itu.


Di ruangan itu hanya ada Emilia dan juga Lee yang saling diam, Emilia mengotak atik hpnya dan melihat ada pesan dari Alan sahabatnya yang ada di kota lain, Alan bilang jika dia akan berkunjung ke kota di mana


Emilia berada selama beberapa hari saja dan Alan juga menyuruh Emilia menyalakan JPS dalam ponselnya agar pria itu bisa dengan muda menemukanya.


Saat membaca pesan tersebut Emilia senyum-senyum sendiri dengan menatap ke layar ponselnya dia sangat dekat dengan Alan dan juga sikapnya itu sangat ramah tidak seperti suaminya yang selalu saja menunjukkan air muka datar lebih lagi Alan adalah teman duwet yang paling cocok bagi Emila.



Kenapa gadis ingusan ini senyum-senyum sendiri sebenarnya


siapa yang sedang chat dengannya. Gumam Lee dalam hati sembari ikut melihat


ponselnya dan dia membuka aplikasi WHATSAPP di dalam ponsel pribadi miliknya, dia melihat tulisan online di nomor emilia.


Ingin sekali Lee bertanya siapa yang sedang chat dengan istrinya namun jika mengingat gengsi yang begitu besar itu rasanya pria itu tidak akan mau merendahkan harga dirinya


dengan memikirkan hal tersebut. Niat Lee untuk membuat Emilia merasa cemburu

__ADS_1


gagal total malah membuatnya terjebak makan siang berdua dengan Sena.


"Aku akan pergi makan siang dengan Sena," ucap Lee pada Emilia sembari berharap jika wanita itu mau ikut dengannya kira-kira seperti itu yang sedang di pikirkan oleh Presdir Lee barusan.


"Ya, sana pergi saja." Sahut wanita itu dengan enteng namun sorot matanya seakan sedang merencanakan sesuatu.


"Baiklah aku akan pergi sekarang," ayo ikutlah denganku kenapa kamu masih saja tidak mau bergeming dari ponsel ku itu. gumam Lee dalam hati.


"Ya, sana pergilah bicara saja dari tadi. Mau pergi ya pergi saja," ucap Emilia geram.


"Awas saja jika kau mengeluh kelaparan nantik! Aku tidak akan perduli," ancam Presdir Lee sembari berjalan mendekati pintu.


Restoran.


Sena sejak tadi berbicara dengan Lee, sebenarnya Lee sangat malas berbicara dengan wanita cerewet yang sedang mencoba mencari perhatiannya itu namun mengingat jika dia sendiri yang tadi telah mengajak Sena jadi pria itu tetap menjawab apa saja yang di tanyakan Sena padanya dengan jutek.


baterai.


“Akhirnya aku bisa berdua juga denganmu tanpa ada setan kecil pengganggu itu,” gumam Sena dalam hati sembari melihat dada bidang Lee yang membuatnya berpikir nakal, atau mungkin semua orang dewasa selalu memikirkan hal tersebut ataukah hanya sena saja yang terlalu terobsesi dengan


presdir muda dan juga sangat tampan itu.


Semua pengunjung restoran wanita melihat kearah Lee yang duduk dengan begitu arogan namun siapa sangka jika ciri khas itu malah membuat semua wanita tergila-gila dengannya. Beberapa pelayan datang membawa nampan di tangannya yang berisikan pesanan Lee dan juga Sena.


“Silahkan di makan Tuan,” ucap seorang pelayan dengan senyuman terbit dari bibirnya. Pelayan itu pasti sedang terpesona melihat kulit putih dan juga wajah presdir Lee yang hampir mirip seperti boneka begitu


sempurna.


“Mbak aku mau semua makanan yang sepesial di dalam restoran ini,” ucap Emilia sembari menghentikan langkahnya di belakang presdir Lee.

__ADS_1


Sontak Lee langsung melotot kaget dia tidak pernah menyangka jika Emilia akan datang dan makan siang dengannya, Pelayan itu mengarahkan pandanganya melihat kearah presdir Lee setelah melihat anggukan kepala pria itu seorang pelayan yang tadi tersenyum pada presdir Lee segera kembali ke dapur


dan membuatkan pesanan Emilia.


Sena mengepalkan jari-jari tangannya sampai kuku-kuku panjangnya menancap sempurna di telapak tangannya dan memberikan bekas di sana, dia pasti sangat terganggu melihat Emilia ikut makan siang bersama mereka apa


lagi saat ini Emilia sengaja mengerdipkan sebelah matanya pada Sena seolah sedang


menunjuukkan jika dia bahagia di atas penderitaan yang di rasakan oleh sena


saat ini.


Hahaha lihat itu tante wajahmu yang tadi menghina aku dengan senyuman kemenangan di dalam kantor Presdir, saat ini perlahan mulai memudar, kau bisa cepat


tua jika seperti itu lihat ini aku akan membuat matamu itu lepas dari tempatnya saat melihat ku memeluk orang yang sudah kau incar sejak lama. Gerutu Emilia dalam hati sembari senyuman evil tersungging dari bibirnya.


“Kak Lee ngak usah balik kerja ya, bedak aku habis apa boleh jalan ke mall setelah ini?” Emilia sangat pintar merayu dia bicara dengan memeluk tubuh Lee dari belakang. "jika Kak Lee berani menolak maka aku akan mengadu pada ibu dan juga ayah mertua jika kau meninggalkanku di kantor dan makah makan dengan wanita lain." ancam Emil sembari berbisik di dekat telinga Lee.


Jantung pria itu seakan hendak loncat dari tubuhnya saat Emilia merayunya seperti ini, Lee hanya bisa mengangukkan kepalanya dengan rasa bucin yang semakin lama semakin bertahta di dalam hatinya wanita ini sudah menjadi candu baginya, apapun kata-kata rayuan yang di ucapkan oleh Emilia


padanya mampu membuat sikap dingin Presdir Lee mencair seketika bagaikan balok


es yang terkena panasya sinar matahari.


Siall wanita ini cerdik juga dia bahkan melakukan trik licik seperti itu untuk menggoda presdir Lee. Tapi aneh, kenapa Presdir Lee diam saja saat di sentuh oleh wanita itu biasanya dia tidak suka dekat dengan wanita lain selain aku, bahkan ketika duduk di sampingku saja Presdir masih menjaga jarak. Namun dengan wanita ini dia bahkan tidak menjaga jarak sedikitpun. Gumam Sena dalam hati dengan perasaan kalut melihat Emilia kembali mengerdipkan salah satu maatanya kearah dengan tatapan puas.


“Tante, kau kenapa cemberut apakah makanan ini rasanya tidak enak?” tanya Emilia sembari mendudukkan tubuhnya di ruang kosong samping Lee.


“Tidak, ini merupakan restoran favorit aku dan juga Presdir Lee,” ucap Sena dengan memaksakan senyuman di bibirnya melihat kearah Emilia. Karena tidak mungkin jika dia sampai marah di hadapan Presdir Lee saat ini.

__ADS_1


__ADS_2