
Emil yang melihat akan hal itu langsung membulatkan matanya dengan begitu sempurna. Ia menutupi wajah suaminya dengan kedua tangan agar lelaki itu tidak menatap wanita kecentilan yang ada di hadapan mereka.
"Awas saja jika berani menatapnya." Ancam Emil tanpa berpikir.
Lee mencoba menjauhkan tangan istrinya yang menutupi wajahnya, tapi Emil tidak membiarkan hal itu begitu saja, Lee yang merasa kesal
langsung menangkap kedua tangan istrinya. Semua orang yang melihat akan hal itu membulatkan mata tidak percaya bahkan seorang wanita paruh baya langsung tersedak minuman mereka. Gadis kecil itu sangat berani begitu pikir semua orang yang melihatnya sekarang. Di negara ini tidak ada satupun orang yang berani menatap wajah CEO Lee, tapi gadis remaja itu dengan berani memegang wajahnya dan tidak hanya itu saja, ia juga berani memaki pria tersebut. Semua orang langsung mengeluarkan ponselnya berniat mengabadikan hal langka tersebut, tapi semua orang segera mengurungkan niat awalnya tersebut ketika ingat masalah yang akan mereka dapatkan saat Vidio tersebut tersebar ke publik.
“Diam lah lebih dulu,” ucap Lee dengan menatap wajah istrinya
yang kini sedang emosi.
“Membela wanita genit itu,” ucap Emil dengan mengerucutkan
bibirnya, Lee menghembuskan nafas pelan melihat hal itu.
Menatap nyalang kearah wanita yang tadi membuat istrinya emosi, “Batalkan semua pesanan kami tadi.” Setelah berbicara Lee langsung
mengandeng tangan istrinya melangkah keluar dari ruangan ini.
Emil menjulurkan lidahnya pada wanita yang tadi sudah berani
menggoda suaminya. Emil bisa tersenyum lega sekarang karena suaminya berbeda dengan pria lain yang dengan begitu mudah mengagumi wanita cantik di luar sana. Sedangkan wanita genit yang tadi menggoda Lee di marahi oleh atasannya karena ia telah menggoda pria yang salah. Mana mungkin CEO dari perusahaan besar seperti itu tertarik pada wanita genit seperti pegawainya ini.
“Maaf, karena kamu tidak bisa membeli sepatu yang kau inginkan, tapi aku janji nanti akan aku pesankan semua model terbaru di bulan ini,” ucap Lee sembari melingkarkan tangannya posesif di pundak istrinya.
“Tidak perlu repot, aku bisa membeli online jika mau,” sahut Emil cepat. Tidak masalah walaupun ia tidak mendapatkan sepatu yang terpenting
suaminya tidak tergoda dengan wanita itu.
_ _ _
Alan dan juga Park sedang berjalan-jalan di taman malam hari
ini. Mereka berdua duduk di bangku taman sembari menikmati semilir angin yang sesekali lewat menjamah tubuh mereka. Sebenarnya tadi Alan hendak mengajak Emilia untuk berjalan-jalan, namun nomor gadis pujaannya itu sedang berada di
luar jangkauan akhirnya Alan mengajak Park jalan-jalan dengan harapan Emilia akan ikut datang bersama dengannya. Tapi apa yang ia inginkan tidak sesuai dengan kenyataan.
__ADS_1
“Park, Emil baik-baik saja kan? Kenapa nomornya tidak bisa
aku hubungi?” tanya Alan dengan tatapan penuh selidik.
“Dia dan juga kedua orangtuanya sedang pergi berlibur,” bohong Park dengan memaksakan senyuman natural di wajahnya.
“Mungkin di sana tidak ada sinyal,” sahut Alan berpikir positif.
Keheningan kembali terjadi diantara mereka berdua, Park melihat sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau bersama, ia begitu senang sekali melihatnya andaikan saja ia dan juga Alan bisa seperti mereka, pasti akan begitu membahagiakan sekali. Park segera menggoyangkan pelan kepalanya
untuk mengusir semua pikiran itu, hal tersebut mana mungkin terjadi sedangkan pemuda yang berada disampingnya ini mencintai kakak iparnya sendiri.
“Gadis cantik kau sendirian,” sapa seorang pemuda yang kini
sudah berdiri dihadapan Park.
“Aku bersama dengan …,” ucapan Park langsung terhenti ketika ia melihat Alan sudah tidak ada disampingnya. Sejak kapan temannya itu pergi? Apakah Alan tega meninggalkannya sendiri di taman ini. Park mulai kebingungan, ia tidak pernah berada di luar rumah sendirian tanpa pengawal. Lee selalu melarangnya untuk keluar rumah sendirian dan karena itulah Park merasakan ketakutan yang berlebihan.
“Saya, sedang menunggu kekasih, saya,” bohong Park. Ia sudah
mengedarkan pandangannya ke sekitar, tapi Alan tidak ada di manapun.
kekasih kamu,” pemuda asing itu berbicara dengan menggenggam tangan Park. “kamu jangan takut, cantik kita akan menghabiskan malam ini bersama.”
Park hendak memprotes tindakan pemuda kurang ajar itu. Tapi
Alan datang dan langsung menarik kerah baju pemuda itu dengan kasar hingga pemuda itu tersungkur ke tanah. Semua orang yang sedang berada di taman ini melihat kejadian itu seperti sebuah tontonan live yang begitu menghibur.
“Berani sekali kau menyentuhnya.” Teriak Alan dan langsung
memukul wajah pemuda itu dengan gerakan gesit.
“Maaf, saya kira gadis itu sendirian,” ucap Pemuda tersebut
sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia bukan tandingan Alan jadi pemuda tersebut lebih memilih untuk mengalah dan meminta maaf saja supaya
masalah ini cepat selesai.
__ADS_1
“Maaf, kau sudah menyentuhnya bahkan kau sudah membuatnya
ketakutan seperti itu. Enak sekali kau bilang maaf,” teriak Alan dengan kembali memukuli pemuda itu.
Emil yang tidak tega dengan pemuda tersebut langsung menarik tangan Alan dan memeluknya sembari berkata, “Sudah, biarkan dia pergi. Aku sudah tidak ketakutan lagi karena kau sudah ada di sampingku,” ucap Park. Jantungnya berdetak dengan begitu kuat karena kini diantara dia dan juga Alan tidak ada jarak.
“Lihat apa kalian semua.” Sembur Alan pada semua orang yang
mengamati mereka. Semua orang itu pergi dengan berbisik-bisik.
Park hendak melepaskan pelukannya ketika ia merasakan jika Alan
sudah jauh lebih tenang seperti sebelumnya. Tapi yang tidak disangka Alan malah
memeluk tubuhnya kemudian mendekapnya dengan sangat erat.
Aku tidak tahu, apa yang terjadi padaku, tapi yang aku tahu
aku tidak suka ada pria lain yang dekat dengan kamu. Alan merasa gelisah dan juga marah saat ia tahu pemuda itu tadi menggenggam tangan Park.
_ _ _
Emil sedang berjalan-jalan di pantai bersama dengan Lee. Mereka berdua tidak lupa selalu berpegangan tangan. Semilir angin pantai membuat Emil mendekat kearah suaminya, ia sudah mengunakan mantel tapi hawa
dingin masih saja merayapi tubuhnya. Lee mendekap istrinya lebih erat untuk membuatnya lebih hangat dan hal itu berhasil. Emil melangkah dengan menatap indahnya bintang yang sedang berkerdap-kedip seolah main mata dengannya bahkan
cahaya bulan juga seakan bersinar jauh lebih terang dari hari sebelumnya, seakan semesta sedang mendukung perjalanan honeymoon mereka berdua.
“Sayang, apakah kamu pernah menyukai wanita lain selain
diriku?” tanya Emil. Entah mengapa ia merasa penasaran sekali dengan kehidupan lelaki itu sebelum menikah dengannya. Dulu Emil akan ketakutan berada di jarak dekat dengan suaminya, namun sekarang ia suka sekali berada dekat dengan lelaki
ini. Sangat nyaman.
Melirik kearah Emil sembari mengerutkan keningnya, “Kenapa
kamu bertanya seperti itu?” tanya Lee.
__ADS_1
“Aku hanya ingin tahu saja,” sahut Emil cepat.
“Masa lalu tidak perlu dikenang lagi, yang terpenting bagiku sekarang kamu adalah masa depanku.”