Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Dia Harus Datang.


__ADS_3

       London-Inggris.


      Malam hari itu Emilia langsung masuk ke dalam kamarnya setelah tiba di dalam kamar Emilia langsung melompat kasar ke atas tempat tidurnya wanita itu langsung membenamkan wajahnya di atas bantal dengan berteriak sekuat tenaganya. Teriakan tersebut seakan menunjukkan batapa dia menolak pernikahan itu. Emilia juga mengerutu kesal karena dia harus menikah di usia yang sangat muda lebih lagi sikap Lee


padanya tidak pernah baik karna pria itu selalu saja mengabaikannya selama


berkunjung ke kota Seoul korea.  Belum


selesai Emilia meratapi nasibnya itu Narra masuk ke dalam kamarnya dan segera


mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur itu.


      “Sayang, kemarilah,” ucap Narra dengan membelai lembut kepala akan gadisnya itu.


     Emilia segera menaruh kepalanya ke dalam pangkuan Narra dan air mata Emilia masih mengalir di pipinya seakan air mata itu menjadi saksi betapa dia menolak pernikahan yang tidak pernah dia inginkan sebelumnya. Narra mengetahui bagaimana isi hati


putrinya saat ini namun Narra juga percaya jika perjodohan ini akan terjadi dengan lancar walaupun waniat itu tau akan sangat sulit bagi putrinya itu menerima perjodohan ini tapi hal itu harus tetap di lakukan. Narra dan Jim


berpikir cinta akan datang dengan seiring barjalannya waktu tapi yang tidak di ketahui oleh Narra dan juga Jim ialah jika Lee sudah jatuh hati kepada wanita lain.


      “Ma, bisakah aku tidak menikah dengan pria yang tidak aku sukai bahkan engkau tau sendiri kan jika Kak Lee tak pernah menyukaiku,” gerutu Emilia dengan mendudukkan tubuhnya di samping Narra.


     “Mama tau sayang, tapi cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, kau akan bisa melanjutkan kuliah di kota Seoul dan Park akan satu kampus denganmu. Kau masih


mengingatnya kan?” Tanya Narra balik mencoba merayu akan gadisnya itu.


    “Ya, aku masih ingat dia sangat baik padaku,” sahut Emilia mencoba mengingat-ingat kebersamaanya dengan Park saat di seoul Korea.


     “Dia akan menjadi teman baik mu di sana, apakah kau tega jika melihat Paman Jhong meninggal jika dia mengetahui kalau kau menolak pernikahan ini,” ucap Narra dengan air mata jatuh di pipinya melihat hal tersebut Emilia merasa sangat sedih dan dia segera


mengusap air mata itu.


      Melihat Narra bersedih seperti itu Emilia mulai bimbang di sisi lain dia tak pernah


menginginkan pernikahan ini namuan melihan Narra bersedih Emilia tidak sanggup

__ADS_1


membiarkannya. Batin Emilia semakin binggung dia merasa bimbang hingga beberapa saat dia menundukkan pandangannya mencoba berpikir dengan jernih.


      “Apa yang harus aku lakukan tuhan, aku akan menikah dengan pria yang dingin seperti itu tapi jika aku menolak pernikaah ini maka Mama akan sedih dan lebih menakutkan lagi Paman Jhong bisa saja meninggal aku sangat bingung,” gumam Emilia dalam hati dengan mengerutkan keningnya.


      “Baiklah aku akan menikah dengannya tapi ada satu syarat."


      “Apa itu sayang?” Tanya Narra dengan memeluk tubuh anak gadisnya itu.


    “Sebelum menikah aku mau bertamu dengan Kak Lee,” Tanpa menjawab Narra langsung mengiyakan syarat yang di berikan oleh putrinya itu.


           Seoul-Korea.


       Pagi hari itu Una pulang ke rumahnya dia melihat Park dan juga Lee sedang sarapan pagi di meja makan, Park langsung berlari berhamburan ke arah Una saat melihat ibunya


itu. Sedangkan Lee masih tetap melanjutkan makananya.


     “Ma, tumben kau datang sepagi ini bagaimana dengan kondisi Papa?” Tanya Park dengan mengikuti langkah Una mendekati meja makan.


    “Papa, yang menyuruh Mama menyampaikan pesan ke pada Kak Lee jika hari ini dia akan pergi ke


inggris untuk menemui Emilia.”


    “Tadi malam Bi Narra memberikan kabar jika Emilia mau menikah denganmu dengan satu syarat, Emilia menyuruhmu datang ke inggris untuk menemuinya di sana sebelum acara pernikahan,” ujar Una dengan mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan itu.


     “Ma, bolehkan aku iku bertemu dengan Emilia?” Tanya Park dengan wajah kelihatn sumringah gadis itu pasti berharap di ijinkan untuk ikut bertemu dengan sahabat lamanya itu karena sudah lama mereka tidak saling memberikan kabar.


     “Sayang, biarkan Kak Lee pergi sendiri ya. Karena kurang dari satu minggu kau akan bertemu dengan sahabat mu itu,” mendengar apa yang di ucapkan oleh Una, Park


menganggukkan pelan kepalanya dengan bibir mengerucut.


     “Apakah aku harus?” Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis terlihat di bibirnya yang berwarna merah seperti buah ceri.


      _ _ _ _ _


      Siang hari Lee langsung terbang ke inggris dengan mengunakan jet pribadi keluarganya dia datang ke rumah Jim, kini pria itu sedang masuk melalui gerbang utama rumah itu, mendengar Lee sudah masuk di gerbang utama Jim dan juga Narra segera menyambut calon menatu mereka itu dengan bahagia sedangkan Park masih di dalam kamarnya. Emil melihat Lee turun dari dalam mobil dari jendela yang ada di dalam kamarnya itu, Emil segera menyambar tas ranselnya dan dia segera keluar dari kamarnya menuruni anak tangga rumah itu.

__ADS_1


    “Apa kabar Paman, Bibi.” Sapa pria itu dengan wajah datar.


    “kabar kami baik, bagaimana dengan kabarmu? Kau semakin dewasa saja dan kau juga sangat tampan persis seperti Papamu,” ucap Jim menimpali.


     “Ayo masuk, Emil pasti sedang menunggu mu,” Ketika mereka bertiga hendak berbalik arah untuk masuk ke dalam rumah namun Emil segera muncul.


    “Pa, Ma. Emil mau mengajak Kak Lee jalan keliling kota ini apa boleh?” Tanya Emil dengan wajah memohon.


     “Tapi dia baru datang sayang, bisakah nantik saja jalan-jalannya,” sahut Narra dengan menatap ke arah putrinya itu.


    “Tidaj masalah Bi, karna Emilia memang mau bertemu dengan dengan Lee. Dan karena sebab itu Lee datang ke kota ini,” Lee menimpali kata-kata gadis itu.


    “Tukan Ma, Pa. Kak Lee aja setuju dengan permintaan Emil,” imbuh Emil dengan tersenyum manja.


    “Baiklah, kalian bisa pakai mobil pribadi keluarga kita,” Jim memberikan kunci mobilya di depan Lee dan pria itu segera menerimanya.


   “Paman, Bibi. Lee pamit pergi dulu,” ucap Lee dengan membungkukkan badanya dengan hormat di hadapan calon mertuanya itu.


    Emilia segera mengecup pipi kedua orang tuanya itu bergantian dan segera masuk ke dalam mobil Jim.


   “Pa, Lee sangat sopan aku menyukainya walaupun sikapnya itu sangat dingin mirip sepeti jhong,” ucap Narra dengan melihat ke arah mobil yang di kemudikan oleh Lee mulai keluar dari gerbang utama.


    “Mereka akan segera jatuh cinta, kau jangan khawatir hanya Lee saja yang pantas untuk mendampingi putri kita,” Jim menimpali ucapan istrinya itu.


     Di dalam mobil.


       “Kau cepat juga sampai di kota ini,” celetuk Emil dengan melirik ke arah Lee yang sedang sibuk mengemudi.


    “Kau yang memintaku datangkan.” Pria itu bicara dengan tak menatap Emil.


    “Ya.” Menjawab singkat.


    “Kita mau ke mana?” Tanya Lee dengan mulai melirik ke arah calon istrinya itu.


    “Pergi ke neraka bersama,” menjawab asal namun saat Lee mulai menatapnya dengan wajah sinis Emil bergidik ngeri.  “jangan menatapku seperti itu! Kita akan pergi untuk berbicara di taman kota.”

__ADS_1


     “Dia sangat menakutkan bagaiman nasibku jika harus menikah dengannya nanti,” gumam Emil dalam hati dengan menatap ke arah jalanan. kota Inggris yang terlihat longer tanpa ada banyak mobil yang menghambat perjalanan mereka.


JANGAN LUPA VOTE YA DAN NOVEL INI AKAN SAYA USAHAKAN UPDATE RUTIN SETIAP HARINYA.


__ADS_2