
Jhong tak ingin buang waktu lama dia langsung membawa Una masuk kedalam kamar yang Una tunjuk tadi, Jhong memandang kearah ranjang yang bersprai berwarna biru warna senada dengan selimut yang terpasang di ranjang tersebut. Jhong menaruh Una perlahan di atas ranjang tersebut,Una segera mendudukan tubuhnya dari posisi tidurnya dia menatap kearah Jhong yang sedang berjalan menuju pintu kamar tersebut setelah Jhong sampai di pintu itu dia segera mengunci pintu itu agar tidak ada yang bisa masuk kedalam sana untuk menganggu mereka malam ini. Begitu kira-kira yang sedang ada dalam benak pria itu. ''Hei ini adalah kamar ku apa yang akan kau lakukan di sini cepatlah keluar kau malah mengunci pintunya.'' Jhong tak mengubris sedikitpun ucapan Una tadi. Hasratnya sangat menggebu-nggebu dia ingin melepaskan rasa rindu yang sejak lama sudah dia tahan dan kini tiba juga saat nya pria itu melepaskan ke rinduanya pada istrinya itu. Jhong mulai membuka kancing kemeja yang sedang dia kenakan saat itu dia lalu melepas kemeja itu dengan kasar samapai semua kanci kemejanya jatuh kasar kelantai. Una mulai membuang wajahnya karna tak mau melihat kearah Jhong yang kini sudah bertelanjang dada dan berjalan ke arahnya. Una mulai memundurkan tubuhnya sampai di punggung ranjang. Tubuh Jhong kelihatan putih seperti susu tak ada sedikitpun noda dalam tubuhnya di tambah lagi wajahnya yang sangatlah tampan dengan bola mata yang indah dan hidungnya yang mancung seperti pinokio itu semakin menambah karismanya. Jhong langsung naik keatas ranjang dan kini pria itu sudah berada di hadapan Una yang masih membuang mukanya Una merasa gemetaran karna sudah lama dia tak berada satu kamar dengan pria lain ya walaupun yang kini sedang ada di hadapanya saat ininadalah suaminya sendiri namun tetep saja itu tak menghilangkan kegugupan yang saat sedang dia alami. Jhong mulai mengecup lembut kening istrinya itu dan satu tangan pria itu memegangi leher istrinya, hal itu membuat Una merinding seketika sengatan listrik seakan menjalar keseluruh tubuhnya dari sentuhan suaminya itu. ''Sayang aku adalah suamimu dan kau juga masih istriku masih sama dengan tujuh tahun yang lalu, semua masih sama rasa sayang dan cintaku yang sangat besar untukmu semuanya masih sama tak ada yang berubah.'' ''Tapi aku dan jimmi sedang menjalani hubungan bagaimana mungkin aku bisa menkhianatinya seperti ini setelah apa yang dia lakukan pada ku dan putraku selama ini?'' Una bicara sembari menundukkan pandanganya terlihat ada rasa bersalah dan juga sedih akan kenyataan yang saat ini sedang menimpa di hidupnya. ''Percayalah padak sayang,'' Una tak menjawab ucapan suaminya itu namun dia hnya menganggukkan kepalanya tanda jika dia percaya dengan ucapan suaminy itu. Terlihat senyuman tipis dibibir manis Jhong back malam itu. Jhong langsung mengulum lembut bibir istrinya itu dengan lembut dan tanganya langsung bergerak aktif membuka piyama tidur yang sedang Una kenakan malam hari itu. ciuman maut itu berlangsung cukup lama mereka saling mengecup satu sama lain dan kini nafas mereka terlihat sangat memburu. Saat sebagian warga bumi sedang tidur lelap namun kedua orang yang kini sedang di mabuk cinta itu sedang menikmati madu cinta yang sudah sejak lama mereka simpan jauh dalam lubuk hatinya. Cinta yang dulu hampir layu itu kini mulai bersemi kembali dan mereka bagaikan bunga yang baru mekar dalam musim panas. Jhong kini sudah mendapatkan haknya sebagai seorang suami, ruangan yang sepi itu mulai telihata berisik karna terdengar decitan ranjang yang menambah suasana romantis dan juga panas dalam kamar tersebut.