Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Apakah Kamu Anjing


__ADS_3

Emilia bersandar dibelakang pintu kamar mandi dengan tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Kak Lee yang begitu emosi namun tidak bisa melakukan apapun padanya. Hingga dengan perlahan tawa Emil mulai terhenti saat ia menyadari apa yang akan terjadi setelah ia keluar dari dalam kamar mandi ini nanti.


"Apakah aku keterlaluan tadi? Dan bagaimana nasibku setelah keluar dari dalam kamar mandi ini." Emil mulai berjalan menuju shower setelah ia melepaskan bajunya kemudian segera membersihkan tubuhnya mencoba menjernihkan pikiranya.


Emil sudah selesai mandi, ia segera membuka pintu kamar mandi itu perlahan dan mulai melongokkan kepalanya keluar dari pintu kamar mandi sembari berkata.


"Beruntung sekali aku singa jantan itu sudah tidak ada di sini," ucap Emil dengan mengusap dadanya dengan senyum merekah di bibirnya.


Emil berjalan santai keluar dari kamar mandi, matanya terus menyapu seisi kamar ini tapi dia tidak menemukan beberadaan suaminya dan helaan nafas lega mulai terdengar kembali.


"Tadinya aku mengira Kak Lee akan marah, tapi tidak ternyata, pesona aku ini mampu membuat singa jantan itu tunduk pada seekor kelinci imut seperti aku ini." Emil berbicara sendiri dengan membalikkan badannya namun tubuhnya langsung kaku setelah melihat mata tajam yang siap menekamnya kapan saja.


"Kamu bilang apa tadi? Cepat ulangi!" perintah Lee dengan menaruh kedua tangannya di perut, mata pria itu tidak bekerdip sedikitpun saat melihat kearah Emilia.


"Aku bisa mati jika sampai berani mengulanginya," batin Emil dengan mundur beberapa kebelakang.


"Kenapa kamu tidak berani mengulanginya?" tanya Lee dengan melangkah maju mendekati Emil.

__ADS_1


"Kaburrr. . ." teriak Emil dengan di iringi langkah kakinya yang sudah siap menghilang dari hadapan Lee, tapi nasihnya sangat tidak beruntug karena pria itu kini sudah memegangi lengan tangannya dengan kuat.


"Kamu mau kabur? Jangan harap bisa melakukannya sekali lagi!" ancam Lee dengan membawa Emil ke dalam pelukannya.


"Jangan sentuh aku, aku tidak mau di peluk oleh sembarang pria," ucap Emilia tanpa sadar, dia pasti lupa kalau Lee adalah suaminya.


"Aku suami kamu, bahkan aku bisa melakukan lebih dari ini," ucap Lee sembari mengajak lidahnya untuk bermain di leher jenjang Emil.


Emil merasakan sensasi yang berbeda di tubuhnya, tubuhnya seakan baru saja terkena sengatan listrik 100 Watt. Emil meronta-ronta hendak melepaskan tubuhnya dari Lee namun pria itu justru mendekapnya semakin erat hingga membuat tenaga Emilia tidak berfungsi sedikitpun.


"Baiklah jika kamu sendiri yang minta," ucap Emil dengan menyungingkan senyuman evil nya.


"Lepaskan! Apakah kamu sudah gila? Kenapa mengigit pundak aku?" Tanya lee dengan menahan rasa sakit di bagian pundaknya.


"Jika aku lepaskan, berjanjilah jangan mengganggu aku," pinta Emil.


"Baiklah," sahut Lee terpaksa.

__ADS_1


menjauh dari tubuh Lee dengan menjulurkan lidahnya. Lee mengeram kesal karena bisa-bisanya dia dibuat tidak berkutik oleh gadis ingusan di hadapannya ini. Lee memegang pundaknya dengan satu tangan merasakan nyeri di sana. Sedangkan Emilia dengan santai mendudukkan tubuhnya di sofa sembari bermain ponsel.


Wajah Emilia terlihat bahagia sekali karena pria dingin yang dulu sangat dia takuti kini bisa dia taklukkan, mungkin saja Emil saat ini sedang beruntung saja tapi coba kita lihat kejadian berikutnya hehehe.


Lee menatap kearah Emilia dengan rahang mengeras, satu hari sudah dua kali dia di gigit oleh istri kecilnya itu, Lee kelimpungan menghadapi sikap bar-bar istrinya ini.


Lee hendak keluar dari dalam ruangan kamarnya dengan wajah merah padam, karena dia sosok pria yang tidak akan pernah mengingkari janjinya. Tadi dia sudah berjanji untuk tidak menyentuh Emil walaupun sebenarnya ia begitu ingin mengerjai istri kecilnya tersebut.


"Kamu mau kemana Kak?" tanya Emil sembari berjalan di belakang suaminya.


"Bukan urusan kamu!" hardik Lee tanpa menoleh.


"Jelas urusan aku, akukan istri kamu," ucap Emil dengan menarik turunkan kedua alisnya. Emil sengaja menirukan ucapan Lee tadi.


Menatap Emil tajam, "Kamu mau apa?" tanya Lee yang sudah paham dengan gelagat Emil, karena Park adiknya juga bersikap seperti ini jika sedang menginginkan sesuatu darinya.


"Aku lapar," rengek Emil sembari memegangi perutnya yang mulai keroncongan itu.

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah makan tadi?" tanya Lee dengan mengusap wajahnya kasar.


__ADS_2