
Emil meneguk salivahnya sendiri dengan jantung yang berdetak semakin kencang dia tidak siap dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Lee kembali mengulum bibir istrinya dengan gerakan lembut namun semakin lama tubuh pria itu terasa semakin panas membuatnya menginginkan hal yang lebih.
Lee mulai memasukkan tangannya kedalam baju Emilia dan seketika itu juga Emil mulai membulatkan matanya dengan begitu sempurna dia mulai tersadar dengan apa yang di lakukan oleh suaminya saat ini dan dengan cepat Emil mendorong tubuh Lee menjauhinya.
"Jangan lakukan ini, aku mohon," ucap Emil seraya bangkit dari posisi duduknya. Emil membenarkan bajunya yang acak-acakan akhibat sikap suaminya tadi.
Lee menatap Emil dari kegelapan dengan perasaan kecewa tentunya, "Baiklah," sahut Lee parau sembari berdiri dari atas ranjang.
"Maafkan aku, aku masih_" ucapan Emil terhenti saat Lee menyela ucapannya.
"Aku sudah tahu jangan kau jelaskan lagi, sekarang tidurlah." Usai bicara Lee langsung berjalan menuju kamar mandi Emil hanya bisa menatap punggung suaminya itu dengan perasaan bersalah.
"Aku takut jika kamu akan meninggalkanku suatu hari nanti, jadi sebelum aku mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya aku tidak akan memberikan kehormatanku, mahkota yang sangat berharga bagi seorang wanita," batin Emil sembari mengusap satu tetes cairan being yang jatuh tanpa dia minta.
Sedangkan di dalam kamar mandi Lee langsung melampiaskan hasratnya sendiri, sebenarnya Lee bisa melakukan hal tersebut dengan wanita lain namun ia lebih memilih memuaskan dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Lee keluar dari kamar mandi, ia melihat Emilia sudaj tertidur pulas di atas tempat tidur. Lee ikut naik keatas ranjang dan dia langsung memeluk tubuh istrinya tersebut dengan erat, Emil membuka matanya ketika merasakan ada tangan yang sedang melingkar di pinggangnya.
"Tidurlah, aku hanya ingin memeluk kamu," bisik Lee lirih.
"Hem," sahut Emil sembari menutup matanya kembali.
_ _ _
Pagi yang sangat cerah, angin berhembus sepoi-sepoi dihalaman rumah Lee dedaunan kelihatan menari kesana-kemari mengikuti irama angin membawanya. Lee dan juga Emil tidur dengan saling berpelukan, Emilia merasa nyaman sekali ketika tidur dengan mengunakan lengan tangan suaminya. Matanya mulai mengerjap-gerjapkan dengan perlahan dan kini sudah mulai terbuka dia melihat cahaya mentari pagi sidah mulai menerobos masuk kedalam kamarnya melalui cela dari cendela. Emil mengalihkan pandangannya menatap pria tampan yang saat ini sedang tertidur pulas sembari mendekap tubuhnya.
"Tidur saja dia sangat tampan sekali," batin Emil sembari meneguk salivahnya sendiri ketika memori internal otaknya berputar tanpa dia minta kejadian dimana mereka berdua sedang berciuman dengan panas.
Emil memegang hidung mancung suaminya dengan satu jari dan dengan perlahan jari tersebut mulai turun sampai ke bibir Suaminya yang berwarna pink alami. Tanpa Emil sangka pria tersebut langsung membuka matanya dan menatap wajah cantik istrinya yang kelihatan shock.
__ADS_1
"Masih pagi dan kamu sudah menggoda aku sayang," ucap Lee dengan tersenyum devil.
Shit! Dia bangun, "Aku hanya sedang_" ucapan Emil langsung terhenti ketika Lee menarik tubuhnya semakin dekat dengannya.
"Alasan yang akan kamu ucapkan tidak di terima, sekarang ayo beri aku ciuman selamat pagi sebagai tanda minta maaf," pinta Lee dengan memanyunkan bibirnya. Entah sejak kapan Lee jadi semakin manja saja jika bersama dengan Emilia.
"Cih, aku tidak membuat kesalahan," ucap Emil dengan memutar bola matanya malas. "melihat suamiku sendiri, itu bukan dosa," imbuh Emil dengan nada suara mantap.
Tersenyum lembut, "Mulai sekarang kamu hanya boleh tersenyum dan bersikap imut seperti ini hanya dihadapan aku saja!" perintah Lee dengan mencubit gemas pipi istri kecilnya ini.
"Jangan cubit pipiku ini, nanti aku nggak doyan makan," ucap Emil dengan bibir manyunnya.
"Sana bangun buatkan aku satu cangkir kopi," ucap Lee dengan tersenyum lembut.
"Aku buatkan satu cangkir kopi, sepahit senyuman kamu," ledek Emil sembari bangun dari posisi tidurnya dengan cepat.
__ADS_1
"Dasar gadis ini," ucap Lee sembari mengeleng-ngelengkan pelan kepalanya melihat sikap Emil barusan. Lee mengacak-acak rambutnya merasa frustasi entah mengapa dia merasa bucin melihat sikap istri kecilnya itu dan sepertinya hatinya benar-benar sudah menjadi milik Emilia bukan lagi mantan kekasih yang sempat dia cintai dan membuat hatinya membeku itu.