
Lee masuk kedalam ruangan tersebut dengan jantung yang berdetak kencang, langkahnya terhenti melihat kondisi gadis yang sangat ia
cintai tergeletak tak berdaya dengan beberapa selang medis yang menancap di tubuhnya. Bibir Lee gemetar dengan pandangan mulai nanar karena tertutup oleh
cairan bening. Kini pria itu sudah berada di dekat ranjang istrinya, manik matanya menatap dari kaki sang istri sampai ke puncak kepala gadis kecil kesayangannya tersebut. Lee duduk di kursi masih tidak bergeming menatap istrinya, dadanya mulai terasa sesak seakan kesunyian di dalam ruangan ini menyerap semua oksigen dan juga tenaganya.
Menggenggam lembut tangan istrinya yang tidak tertancap infus, “Sayang, maafkan aku, andai saja tadi aku tidak lupa menjemput kamu ini semua tidak akan pernah terjadi, bangunlah aku mohon, aku tidak bisa hidup tanpa kamu.” Satu tetes cairan bening lolos dari pelupuk matanya.
Pria yang selalu terlihat arogan, sombong dan juga dingin kini tunduk di hadapan cinta, Emilia adalah hidupnya ia melihat gadis itu
terbaring koma di atas ranjang, lalu bagaimana Lee akan menjalani kehidupan tanpa wanita itu, akankah Emil bangun atau gadis itu akan menjadi putri tidur di dalam dunia nyata? Hanya dengan membayangkan hal itu saja, cairan beningnkembali lolos ke pipinya.
Mengecup lama punggung tangan istrinya, “Sayang, maafkan aku. Tapi aku mohon bangunlah, jika kau bangun, aku berjanji akan menuruti semua keinginan kamu, kau boleh dekat dengan, Alan bermain dengannya ataupun kau
ingin berduet lagi dengannya aku tidak akan melarang kamu, tapi aku mohon bangunlah.” Lee semakin tidak bisa menahan air matanya yang turun bagaikan derasnya air hujan.
Emil masih menutup matanya, namun satu tetes cairan bening jatuh dari sudut mata itu, Emil ingin membuka matanya namun tidak bisa, ia juga
sedih melihat kondisi suaminya seperti ini namun takdir berkata lain.
Berdiri dari posisi duduknya, mengecup pelan kening sang
istri, “Aku tahu, kamu mendengarkan ucapan ku, dan demi kedua orangtua kamu, demi semua orang yang menyayangi kamu, bangunlah.” Lee memejamkan matanya, cairan
bening itu jatuh ke punggung tangan sang istri. Setelah mengusap cairan bening yang jatuh dari sudut mata istrinya, Lee keluar dari ruangan ini.
Lee kembali bersikap tegar di hadapan banyak orang hanya Emil saja yang tahu kalau seorang pria arogan sepertinya bisa menitihkan air mata demi gadis yang ia sayangi.
Una dan juga Park sudah masuk kedalam ruangan tersebut sekarang giliran, Alan masuk kedalamnya.
Alan duduk di kursi dengan menggenggam tangan Emilia erat
seakan takut akan kehilangan gadis yang ia sayangi, “Emil, bangunlah jangan bercanda lagi seperti ini aku tidak suka.” Alan berusaha untuk tidak gemetar saat berbicara namun hal itu gagal ia lakukan. “lihatlah ini, kau sampai tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran ku padamu, aku tahu kamu dan juga kakaknya Park sudah menikah, namun aku hanya bisa diam berpura-pura tidak tahu. Sebenarnya
aku ingin merebut kamu dari pria angkuh yang tidak pernah aku sukai itu namun setelah melihat ketulusan hatinya padamu, aku memutuskan untuk pergi saja dari kehidupan kalian, Emil aku masih menyayangi kamu, semoga kamu bahagia bersama dengannya-suami kamu.” Alan mengusap cairan bening yang lolos dari matanya kemudian berlalu pergi dari ruangan ini.
_ _ _
Kedua orangtua Emil sampai juga, Narra langsung memeluk Una
dengan tangis yang tidak berhenti sejak dia mengetahui kabar duka ini.
__ADS_1
“Bagaimana hal ini bisa terjadi? Emil sangat baik pada semua
orang kenapa ia mendapatkan musibah sebesar ini,” Narra menangis di dalam pelukan Una.
“Aku mohon tenanglah lebih dahulu, Emil akan sedih jika mengetahui kondisi kamu seperti ini,” ucap Una.
“Apakah pelakunya sudah di temukan?” tanya Jim pada Lee.
“Kami sudah bisa menemukan siapa pelakunya, dia adalah musuh
Emil di kampus. Gadis itu tidak terima karena ia ketahuan bermain curang dalam lomba menyanyi kapan hari,” ucap Lee dengan rahang yang berkedut menandakan jika ia mencoba untuk menahan emosinya.
“Hapus nama keluarganya di dalam dunia bisnis, dan berikan sangsi pada pengusaha yang berani membantu mereka.” Jim berbicara dengan kedua
tangan yang terkepal kuat.
Sedangkan di tempat lain, kedua orangtua Helena bingung kenapa banyak sekali pengawal yang berjaga di depan rumahnya, kedua orang itu
tidak tahu apa yang di lakukan oleh anak mereka-Helena. Helena sendiri tidak ada di dalam rumah, polisi dan juga pengawal keluarga Back sedang mencari keberadaannya di segala penjuru arah. Bahkan Wajah Helena juga muncul di surat kabar, berita pencarian orang sampai di papan iklan. Ada imbalan besar untuk
orang yang bisa menemukan keberadaanya. Seluruh negara A heboh mencari keberadaan Helena.
“Benar itu Helena, apa yang terjadi sampai keluarga Back mencari keberadaanya?” tanya Banu dengan menggaruk kepalanya.
“Gadis itu benar-benar gila sekali, bagaimana mungkin dia berani mencari masalah dengan keluarga Back,” ucap seorang pria yang kebetulan duduk bersandingan dengan Lotie dan juga Banu.
“Dengar-dengar gadis gila itu dengan sengaja menabrak, Nona Emilia-pewaris utama di negara B,” sahut temannya dengan ekspresi
bersungguh-sungguh.
“Uhuk … uhuk … uhuk,” Lotie tersedak minumannya dan Banu langsung menepuk punggungnya pelan.
“Helena, benar-benar gila. Sebaiknya sekarang kita menjauhinya atau kita akan terkena masalah juga.”
Keduanya memutuskan untuk pergi dari tempat ini.
Rumah sakit.
“Sayang, bangunlah.” Narra berbicara sembari memeluk tubuh putrinya.
Hatinya hancur melihat kondisi sang putri yang sedang berjuang melawan hidupnya ini. Andai saja bisa, ia lebih memilih mengantikan posisi putri semata wayangnya itu. Senyuman ceria, wajahnya yang polos nan
__ADS_1
mengemaskan kini tidak terlihat lagi. Tangisan Narra terdengar semakin
memilukan, air matanya tidak bisa mengalir lagi seolah mengering bagaikan sungai yang tidak ada aliran airnya saat musim kemarau datang.
“Ma, jangan seperti ini, nanti Emil ikut sedih.” Jim mengikuti sang istri masuk kedalam ruangan ini.
Menatap kearah jam dinding, “kurang dari satu jam lagi adalah waktunya dia untuk bangun, jika putri kita tidak bangun maka ia sudah tidak memiliki harapan lagi.” Narra semakin sesenggukan jika mengingat ucapan
dokter.
Memeluk tubuh istrinya sembari berkata, “Percayalah, apa yang akan terjadi nanti semua itu kehendak dari, Tuhan. Dia pasti memiliki rencana lain untuk putri kita.” Jim juga merasa hancur namun ia harus tetap menguatkan istrinya.
“Emil, bangunlah dan lihat semua orang sedang menunggu kamu
membuka mata.” Manarik nafas dalam menghembuskannya pelan dari mulut. “Seumur hidup,
aku tidak pernah melihat, Kak Lee sekacau ini, tapi sekarang lihatlah itu wajahnya merah karena sedih, aku yakin kamu pasti ingin melihatnya dan karena itu, bangunlah.” Emil mencoba untuk tenang namun ia gagal karena isak tangis nya kini mulai terdengar lagi.
Sedangkan di tempat lain, Jhong meminta pada dokter untuk
membawanya keruangan Emilia, tapi kondisinya drop lagi akhir-akhir ini namun Jhong terus meminta tolong agar ia di ijinkan menemui anak menantunya itu, ia ingin melihat kondisi gadis kecilnya itu dengan mata kepalanya sendiri hingga
akhirnya Jhong lelah memohon dan ia mengancam dokter tersebut. Ancaman itu berhasil membuat dokter itu bungkam dan menuruti kata-katanya.
Semua orang yang sedang berdiri di dalam ruangan, Emil kaget melihat Jhong duduk di kursi roda.
“Dokter, kau sudah berani melawan kata-kataku.” Una begitu marah melihat suaminya keluar dari ruangannya.
“Pergilah,” pinta Jhong pada dokter tersebut. “Jangan menyalahkan orang lain, aku yang mengancamnya.” Jhong berkata jujur.
“Kondisi kamu sedang tidak sehat, ayo aku antar kembali ke ruangan kamu,” ucap Una.
“Aku ingin melihat anak menantuku.” Langkah Una terhenti membeku
di tempatnya.
“Kau tidak seharunya melakukan hal ini,” ucap Jim.
“Dia adalah putriku juga.” Jhong berbicara mantap.
Bagaimana episode ini apakah tulisan author bisa sampai ke hati kalian? Jangan lupa berikan komentar dan juga like serta vote ya, untuk mendukung karya remahan Khairin Nisa.
__ADS_1