
"Kamu cemburu?" tanya Lee sembari melirik istrinya.
"Tidak, hanya terganggu saja." Jawabnya dengan bibir mengerucut. Lee terkekeh mendengar jawaban istrinya ini.
Emil memasukkan kaki telanjangnya ke dalam pasir pantai, terasa hangat dan juga nyaman. Terlihat beberapa kali ia mencoba menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan dari mulut, segar sekali rasanya hawa di tepi pantai ini yang seakan membersihkan polusi yang ada di dalam paru-parunya karena daerah perkotaan yang dipadati oleh kendaraan beroda empat.
Emil menoleh ke arah suaminya, ia melihat pria itu sedang menikmati pemandangan menarik di depan sana, Emil melihat Lee sedang mengamati seorang wanita cantik yang sedang mengenakan bikini, bahkan Lee sampai tidak menyadari jika kini wajah Emil sudah merah padam bagaikan tomat yang hampir busuk karena merasa emosi.
Beberapa waktu kemudian.
Lee masih melihat kearah wanita cantik yang sedang menatap suaminya juga, Emil melangkah kearah suaminya sembari mengigit bibir bagian bawahnya karena merasa kesal.
Lee langsung melotot setelah melihat istrinya mengunakan baju seksi. Lee mengedarkan pandangan kesekitarnya, semua pria sedang membicarakan istrinya dengan tatapan menginginkan dan hal itu, membuat Lee geram. Ia segera bangkit cepat dari posisi duduknya lalu memeluk tubuh istrinya, posesif sembari berkata.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lee setengah membentak. kepala pria itu sudah mulai berdenyut-denyut seakan hendak meledak karena emosi yang sedang berdesir dalam darahnya.
Seorang pengawal menundukkan kepala sembari membawakan jas untuk majikannya itu, setelah jas tersebut di terima oleh, CEO Lee pria itu langsung memakaikannya cepat ke tubuh istrinya.
"Kenapa kau menutupi tubuhku?" tanya Emil dengan kedua mata yang sudah membulat dengan begitu sempurna.
"Siapa yang menyuruh kamu untuk mengunakan baju seperti itu?" tanya Lee balik dengan rahang yang mulai berkedut tanda jika dia benar-benar merasa cemburu.
"Kak Lee, sendiri yang memancing aku untuk melakukannya," sergah Emil cepat dengan kilatan emosi di matanya.
"Kenapa aku?" tanya Lee polos.
"Kak Lee, dari tadi tidak perduli padaku dan malah melihat kearah wanita seksi yang sedang memakai bikini itu." Emil menunjuk ke arah wanita yang kini sedang berbaring di atas pantai dengan posisi bertelungkup.
__ADS_1
Menepuk pelan jidatnya Sembari berkata, "Aku tidak melihat wanita itu, apakah kau melihat sepasang anak kecil sedang membuat Istana pasir di belakang wanita itu?" tanya Lee.
"Jadi, tadi Kak Lee melihat kedua anak kecil itu?" Lee mengganggukkan kepalanya. "berarti aku sudah salah sangka," imbuhnya dengan berbalik arah hendak kabur menjauh.
"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Lee sembari menarik jas hitam yang sedang Emil kenakan hingga membuat Emil terpaksa mundur beberapa langkah kebelakang.
Berbalik arah, "Tiba-tiba aku merasa lapar sekali," bohongnya yang sangat ketahuan dengan jelas oleh suaminya.
mencubit pipi Emil, "Jangan berani kau mengunakan baju seperti ini lagi." Titahnya yang langsung di sanggupi oleh Emilia tanpa berpikir panjang.
Lee sudah merentangkan tangannya hendak memeluk Emilia, tapi segera ia hentikan saat melihat seorang pria berdiri di belakang istrinya.
"Ada apa?" tanya Lee sarkartis. Emil segera berbalik arah dan kini ia berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang kira-kira berusia sama dengannya. Lee menarik Emil di sampingnya dengan posesif, dan istrinya itu hanya bisa diam pasrah saja dari pada kena omelan. Begitu pikirnya.
"Bolehkan saya berkenalan dengan gadis cantik ini, dia pasti adik kamu kan?" tanya pemuda tampan itu dengan penuh percaya diri. Ia mungkin tidak sadar jika sudah membangunkan singa jantan dari tidurnya.
Emil membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang pemuda itu bilang, usianya dengan Lee memang terpaut sangat jauh, jadi sangat wajar jika semua orang mengira kalau pria yang sedang berada disampingnya ini adalah kakaknya dan bukan suaminya.
"Aku adalah suaminya! Berani sekali kau mengatakan jika aku ini, Kakaknya." Lee berbicara dengan nada suara terdengar berat dari sela-sela giginya.
"Kak Lee, sudahlah, jangan di hiraukan sebaiknya kita pergi saja," ajak Emil yang sudah bisa mengetahui kalau saat ini suaminya sedang merasa cemburu berat.
"Jika kamu memang benar adalah suaminya, mana mungkin gadis cantik ini, memanggil kamu dengan sebutan kakak." Pemuda ini tidak mau menyerah, ia begitu memuja kecantikan gadis di hadapannya dan sebelum mendapatkan nomor teleponnya, ia bertekad tidak akan pergi.
Lee hendak melayangkan tinjunya ke wajah pemuda yang terlihat songong dan juga belagu itu, Emil yang mengetahuinya tidak tinggal diam, ia langsung menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan lalu mencium bibir itu dengan mata terpejam. Pemuda yang berada dihadapan Emil menjatuhkan rahangnya karena kaget.
Melepaskan pangutannya, "Apa sekarang kau sudah percaya." Setelah bicara Emil langsung menarik tangan suaminya untuk menjauh dari pemuda asing itu.
Lee hanya bisa menurut dengan jantung yang berdetak sangat cepat, emosi yang sempat membuat aliran darahnya berdesir cepat lenyap hanya dengan satu kerdipan mata saja. Emil benar-benar gadis pertama yang bisa membuat emosi Lee hilang tanpa bekas, bahkan kini pria itu tersenyum-senyum sendiri melihat sikap istrinya yang spontan itu.
__ADS_1
_ _ _
Melepaskan jas yang menutupi tubuhnya di atas sofa. Emil hendak melangkah namun Lee langsung melingkarkan kedua tangannya di pipi istri kecinya ini. Ia berkali-kali mengecup tengkuk sang istri dengan hembusan nafas yang terdengar berat di telinga Emil.
"Kak Lee, lepaskan aku mau mandi," ucapnya sembari membalikkan badan sehingga kini posisi mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Jangan panggil aku dengan sebutan, Kak Lee lagi." Tegasnya dengan raut wajah yang kelihatan serius. Lee tidak mau kejadian tadi terulang untuk kali kedua, sepertinya mulai sekarang ia harus lebih ekstra dalam menjaga istri kecilnya ini, karena banyak sekali pria yang sedang mengincarnya sekarang.
"Lalu harus aku panggil apa?" tanya Emil polos.
"Panggil aku, Suamiku," ucap Lee dengan nada suara terdengar mantap.
"Suamiku?" tanya Emil lagi, menyebutkan kata ini saja seluruh bulu kuduknya kini sudah mulai meremang.
"Iya. Ayo coba panggil."
"Tidak mau, itu sangat berlebihan sekali dan membuat aku geli," bantahnya cepat.
"Kalau begitu panggil aku, Sayang saja," pinta Lee lagi dengan tatapan mengintimidasi. Emil hanya bisa menghela nafas pelan panggilan ini lebih manusiawi, dari pada suamiku tadi. Begitu pikir Emil.
"Sa-sayang kak Lee," ucap Emil.
Cletak.
"Bukan seperti itu hanya, Sayang saja." Lee menata istrinya seakan ia sedang menanti mulut itu terbuka untuk menyebutnya dengan panggilan, Sayang.
Tidak aku sangka dia posesif sekali, sampai nama panggilan saja di atur langsung olehnya. "Sa-sayang," ucap Emil masih terbatah karena malu. Kini ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tidak ingin suaminya itu melihat semburat merah pada kedua pipinya.
"Karena kamu sudah memanggilku, Sayang. Jadi biarkan aku yang memandikan kamu," ucap Lee mengambil kesempatan.
__ADS_1
"Aku tidak mau," tolak Emil cepat.
"Aku tidak menerima penolakan."