Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Alan Mengenal Natalie


__ADS_3

Kediaman Jim.


Semua orang sudah selesai membersihkan dirinya setelah lari


pagi tadi, kini mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Selama sarapan pagi tidak ada satu orangpun yang berbicara sepertinya mereka semua sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Ruangan di meja makan ini terlihat sunyi hanya terdengar suara garpu yang sedang yang sedang bersentuhan.


Una menatap kearah Lee yang sedang mengaduk-aduk makanannya,


entah mengapa pertemuan dengan Natalie tadi membuatnya sedikit terusik. Ingin sekali bersikap cuek akan kehadiran wanita itu, tapi kenyataanya ia tidak bisa.


Lee malah semakin penasaran sebenarnya apa alasan Natalie kembali lagi dan apa alasan wanita itu meninggalkannya begitu saja di masa lalu. Pikiran tersebut terus menghantui benaknya hingga suara Una mulai membuyarkan lamunannya tentang wanita dalam masa lalunya tersebut.


“Lee, jangan hanya diaduk-aduk saja makanan itu, apakah kamu tidak suka dengan masakan, Mama pagi hari ini?” tanya Una. Ia sengaja


menyatakan hal itu untuk membuyarkan lamunan putranya yang tentu saja sedang tertuju pada wanita yang sangat tidak ia sukai sejak lama.


Menatap kearah Una, “Tentu saja, Lee sangat suka dengan masakan


Mama,” sahutnya sembari memasukkan satu suap makanan kedalam mulutnya kemudian


mengunyahnya perlahan.


Emil melirik kearah suaminya sesaat sebelum akhirnya kembali memusatkan perhatiannya kearah makanan yang ada di dalam piringnya itu.


Matahari sudah memanaskan bumi sejak dari tadi, Lee sudah mengunakan setelan jas yang nantinya akan ia gunakan di acara resepsi pernikahnnya. Sedangkan Emil sendiri masih di bantu oleh para pekerja butik ini untuk mengunakan gaunnya.


“Kenapa perempuan selalu lama sekali,” tanya Lee pada Una


yang kini sedang berdiri disampingnya. Sebelumnya Emil tidak pernah lama jika sedang memoles tubuhnya dengan make up. Begitu pikirnya.


“Karena wanita itu makhluk yang ingin terlihat sempurna dihadapan semua orang apa lagi dihadapan suaminya sendiri,” sahut Una kemudian.


“Menurut, Mama. Emil masih lebih cepat jika berdandan dari pada Park.” Narra ikut menimpali ucapan Una barusan. Narra memang tahu dengan sangat jelas kebiasaan Park dan juga Emilia hingga ia mengatakan hal itu.


“Ehehehe, Tante Narra sangat benar sekali mengenai hal ini dan Park tidak akan mengelaknya karena itu adalah kebenaran,” ucap Park dengan


cengegesan bahkan wajah merasa bersalah tidak Nampak di mukanya sekarang.


Park akan membutuhkan waktu paling sedikit satu jam untuk memilih baju yang akan ia ke akan dan durasi waktu itu akan bertambah jika ia hendak bertemu dengan Alan. Make up sana Park membutuhkan waktu 30 menit lamanya, sungguh membuat semua orang merasa emosi jika sudah menunggunya berdandan agar terlihat sempurna dihadapan banyak orang.


Una ingin sekali berbicara dengan Lee. Tapi ia harus menahan hal itu karena sekarang bukan waktu yang tepat.


Lee membenarkan dasinya di cermin, entah mengapa ia ingin terlihat tampan dihadapan wanita yang telah ia nikahi itu. Lee melihat pantulan wajahnya di cermin sedangkan Park tidak henti menggangunya.


Semua orang yang di sana menatap kearah Emil dengan memuja. Perempuan yang kini sedang bersiap dihadapan mereka itu terlihat sangat cantik sekali membuat mulut semua orang terbuka karena kagum. Emil jarang sekali memoles wajah dengan make up pantas saja semua orang sampai shock melihat wajah Emil yang cantik di balik balutan make up natural namun terlihat begitu menawan sekali.

__ADS_1


Lee melihat bayangan seorang


wanita cantik didalam pantulan cermin, siapa lagi jika bukan istrinya sendiri. Pun ia segera membalikkan tubuhnya menatap kearah sang istri yang kini sudah di balut gaun putih pengantin. Ekspresi wajahnya tidak jauh berbeda dengan semua orang ketika menatap istrinya sekarang.


“Dia sangat cantik sekali, mirip seperti peri dalam negri dongeng. Gaun pengantin berwarna putih polos yang membalut tubuhnya seakan


selaras dengan ketulusan hatinya,” puji Lee dengan terpesona sekali melihat kecantikan istrinya sendiri.


“Apakah aku terlihat jelek? Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?” tanya Emil yang merasa aneh dengan tatapan bengong semua orang ketika melihatnya mengunakan gaun pengantin yang di racang sendiri


oleh mama Una.


“Kamu sangat cantik,” ucap Lee cepat. Ia tidak mau jika ada


orang lain yang mengatakan hal itu mendahului dirinya.


“Benarkah?” tanya Emil dengan kedua pipi yang sudah memerah seperti tomat, entah mengapa ada perasaan hangat yang mengalir disetiap


darahnya setelah ia mendengarkan suaminya mengatakan hal itu. Ya walaupun Lee sering sekali mengatakan jika ia cantik. Tapi kata-kata itu masih saja ampuh membuat jantungnya tiba-tiba senam mendadak.


“Tentu saja benar, kamu terlihat sangat cantik sekali sungguh


mirip seperti boneka chakie,” goda Park. Entah mengapa ia ingin menggoda kakak iparnya itu sekarang lihatlah senyuman manis yang tadi sempat terukir di bibir Emil langsung lenyap terserap kata-kata yang Park katakan barusan.


"Maaf Ma," sahut Park dengan mengigit ujung lidahnya.


“Park, kamu jahat sekali. Aku tidak mau melihatnya di sini,” ujar Emil yang tentu saja bercanda.


“Hahahah, jangan marah kakak iparku sayang, tadi aku hanya bercanda saja sekarang lihatlah wajah kamu di depan cermin,” mengandeng tangan


Emil menuju cermin yang ada di dekat mereka. “Kau sangat cantik, kakakku tidak akan pernah berpikir untuk mencari wanita lain jika istrinya secantik kamu.” Sepertinya Park sengaja mengatakan hal itu, seakan ia sedang mencoba mengatakan


para Lee kalau kakaknya tersebut tidak boleh berpaling pada wanita lain


terutama Natalie orang yang ia maksud di sini.


“Kamu dan juga Lee sudah di ciptakan untuk bersama tidak akan


ada orang lain yang bisa menggangu hubungan kalian, Papa sendiri yang akan menjamin akan hal itu,” ucap Jhong sembari melirik kearah Lee dengan tatapan intimidasi.


“Terima kasih, Pa. Tapi Emil sangat percaya dengan suamiku


dia tidak akan pernah melakukan hal yang nantinya kaan membuatku terluka,” ujar Emil sembari melangkah kearah suaminya. “Benarkan apa yang aku katakan itu, Sayang?” tanya Emil pada sang suami dengan tatapan penuh tanya.


“Tentu saja,” sahut Lee dengan tersenyum.

__ADS_1


“Kamu sangat tampan sekali, Sayang.” Puji Emil dengan


terang-terangan.


“Siapa dulu, Papanya,” celetuk Jhong dengan sombongnya. Ia bahkan menaruh kedua tangannya di dada dengan perasaan bangga yang begitu ketara diwajahnya.


Menepuk bahu suaminya sembari berkata, “Kau tidak menganggap


aku sebagai istri kamu yang cantik ini.” Ucapan Una seperti sedang


mengintimidasi suaminya, seakan ia sedang mengatakan jika Lee tampan tentu saja karena wanita yang telah melahirkannya cantik. Kira-kria seperti itu.


“Tentu saja karena kamu cantik, siapa dulu suaminya.” Jhong malas sekali jika berdebat dengan sang istri hingga ia lebih memilih untuk


mengalah saja.


“Kalian berdua, lekas berganti baju saja.” Pinta Narra.


“Baik, Ma,” sahut Emil kemudian. Ia melangkah masuk kembali kedalam ruangan ganti sedangkan beberapa wanita memegangi ekor gaun panjangnya itu agar tidak membuatnya susah melangkah.


_ _ _


Park sudah berada didepan perusahaan kekasihnya, ia hendak


melangkah menuju resepsionis namun seorang pria segera menghentikan niatnya


tersebut. Pria itu bernama Jack dan dia adalah asisten Alan, Jack tentu


mengenal Park dengan sangat baik dan ia mengantarkan Park menuju ruangan kantor sang pemilik perusahaan ini.


“Apakan, Tuan muda sudah tahu jika, Anda datang?” tanya Jack


sembari melangkah di depan Park untuk menunjukkan ruangan Alan berada.


“Aku sengaja memberikan dirinya surprise,” sahut Park kemudian. Jarak antara dia dan juga ruangan kantor kekasihnya mulai terkikis. Dan hal itu membuat jantungnya berdetak cepat gugup sekali pasti.


"Anda bisa masuk sendiri, saya ada urusan lain. Apakah tidak masalah jika saya tinggal?" tanya Asisten Alan.


"Tidak masalah, Anda bisa pergi," sahut Park.


Park tidak sabar untuk melihat ekspresi wajah kekasihnya itu, pria itu pasti akan sangat kaget sekali melihat kehadirannya di sini. Jelas saja Alan nanti akan kaget karena ini untuk kali pertama Park datang ke kantor ini untuk mengunjungi kekasihnya.


Tangan Park sudah memutar knop pintu di hadapannya ini, ia dengan sengaja tidak mengetuk pintu ruangan ini terlebih dahulu. Park hendak masuk kedalam ruangan Alan berada. Tapi ia segera mengurungkan niat awalnya tersebut ketika mendengar suara ribut dari dalam ruangan ini.


"Sebaiknya kita selesaikan saja perjanjian bisnis ini, aku tidak bisa bekerja sama dengan perempuan yang berniat menghancurkan kehidupan calon kakak iparku." Suara Alan terdengar penuh penekanan. Sangat terlihat jelas jika pria itu sedang mencoba untuk menekan emosi yang kini sudah mulai menguasai hatinya itu.

__ADS_1


__ADS_2