
Emil menghembuskan nafas pelan setelah ia, Park dan juga suaminya masuk kedalam lift. Ia tidak suka di perhatikan oleh banyak orang seperti tadi, semua itu membuatnya begitu terganggu sekali. Semua orang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Park yang sedang berdiri di samping Emil mulai meliriknya setelah beberapa kali ia mendengarkan hembusan nafas pelan keluar dari bibir kakak iparnya itu.
“Kau kenapa?” tanya Park pada Emil.
“Aku tidak suka melihat tatapan mereka semua,” jawab Emil jujur.
“Mereka hanya sedang iri saja dengan kamu, apa kau tahu di dalam kantor ini begitu banyak sekali wanita yang menginginkan posisi kamu untuk menjadi istri, Kak Lee,” jelas Park dengan jujur karena memang itu
kenyataanya, jadi tidak heran jika tadi semua orang memberikan tatapan seperti itu pada Emil. Semua orang tidak berani membuka mulutnya setelah semua orang tahu status Emil yang sebenarnya.
“Sekarang kamu tahu, betapa tampan dan juga berkharisma suami kamu ini, sampai semua wanita ingin menjadi istriku,” ucap Lee dengan begitu pd nya. Ya walaupun apa yang ia katakan itu memanglah benar adanya.
“Kau, sombong sekali, Sayang.” Emil mencebikkan bibirnya entah mengapa ia tidak suka jika banyak wanita yang menginginkan suaminya.
“Kau sedang cemburu?” tanya Lee yang semakin gemas ingin menggoda istrinya itu. Entah mengapa menggoda istirnya sudah menjadi hobi baginya beberapa waktu terakhir.
“Apakah kamu tidak cemburu jika melihat banyak pria melihatku dengan tatapan memuja dan menginginkan.” Emil tidak menjawab pertanyaan suaminya itu malah dia membalikkan pertanyaan itu pada suaminya.
Lee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari berkata, “Tentu
saja kau akan merasa cemburu,” sahutnya jujur. Ia tidak berpikir jika istrinya ini sangat pintar sekali membalikkan keadaan.
“Sudah jangan berdebat, kalian membuat aku kesal saja,” gerutu Park yang merasa tersiksa karena ia jauh dari kekasihnya sedangkan kakak
kandung dan juga kakak iparnya seakan bersenang-senang di atas penderitaan yang ia rasakan.”
Pintu lift akhirnya terbuka, Park buru-buru melangkah menuju
ruangan kerjanya setelah berpamitan dengan Lee dan juga Emil terlebih dahulu. Lee mengandeng tangan Emil menuju ke ruangan kantornya. Beberapa pekerja yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka membungkukkan tubuhnya memberikan hormat.
“Sayang, kamu duduk saja di sofa, kalau kamu lapar tinggal bilang saja nanti akan aku pesankan makanan,” ucap Lee setelah mereka berdua
masuk kedalam ruangan kantornya.
“Baik,” sahut Emil yang tidak mau menggangu pekerjaan suaminya itu.
Emil duduk di sofa sembari memainkan game di dalam
__ADS_1
ponselnya. Selang beberapa waktu terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan ini, seorang pria yang tidak lain adalah Asisten Luwis, asisten Luwis membungkukkan tubuhnya di hadapan Emilia ketika ia hendak melewati Nona mudanya
itu kemudian melanjutkan tujuan awalnya untuk memberikan semua berkas ini pada atasannya itu.
“Berkas ini sudah saya cek semua, Anda hanya perlu menandatanganinya saja,” ujar Asisten Luwis.
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Lee to the poin.
“Anda ada meeting sekitar dua jam lagi,” ucap Asisten Luwis dengan cepat. Kelihatan sekali jika ia sangat professional sampai mengatakan
jadwal CEO Lee di luar kepala.
“Kau boleh pergi,” ucap CEO Lee kemudian.
Emil melihat kearah suaminya yang sekarang sedang semedi di balik tumpukan berkas yang ada di atas meja kerjanya itu. Lelaki itu terlihat
sangat tampan sekali jika sedang serius bekerja seperti sekarang ini, Emil menaruh ponsel yang ia bawa di atas meja, ia tidak perduli dengan permainan di dalam ponselnya itu lagi karena baginya melihat suaminya serius bekerja seperti ini itu membuatnya terpesona. Bisa di bilang ini kali pertama Emil melihat suaminya bekerja selama mereka menikah, jadi tidak heran jika ia begitu memuja ketampanan pria itu yang sedang serius seperti ini.
“Dia tampan sekali, aku ingin memotretnya,” batin Emil sembari meraih kembali ponsel yang tadi sempat ia taruh. Ia mengambil foto
suaminya itu dari segala sudut arah dengan bermacam gaya. Contohnya saat Lee sedang mengigit pulpen dan juga ketika pria itu mengerutkan keningnya saat membaca berkas yang ada di hadapannya. Semua ekspresi itu membuat Emil terhibur
“Sayang, apa yang kamu lakukan?” tanya Lee yang ternyata baru saja menyadari apa yang istrinya itu lakukan.
Menaruh ponselnya begitu saja di samping sofa, “Tentu saja aku tidak melakukan apapun,” ucap Emil berbohong dan Lee tahu dengan jelas akan hal itu.
“Apa kamu kira aku tidak tahu, jika tadi kamu sedang memotret aku,” ucap Lee sembari menaruh pulpennya di atas meja.
mengerutkan keningnya, “Memangnya kenapa jika kau memotret suamiku sendiri? Dari pada aku memotret pria lain.” Ucapnya asal.
Lee berdiri dari posisi duduknya dan langsung menghampiri istrinya yang kini masih duduk di sofa.
“Kenapa kamu malah kemari? Apakah pekerjaan kamu sudah selesai?” tanya Emil pada suaminya yang kini sudah duduk disampingnya.
“Belum selesai, tapi aku ingin mengerjakan kamu dulu, kau
pasti bosan bagaimana jika kita bermain sebentar,” ucap Lee dengan tatapan mesumnya itu yang membuat Emil mengigit bibir bagian bawahnya kesal. Bagaimana mungkin pria itu bisa memikirkan hal seperti ini disaat ia sedang sibuk dengan setumpuk berkas di hadapannya itu.
__ADS_1
Minggir sampai ke sisi sofa untuk menjaga jarak antara dia dan juga suaminya, “Jangan macam-macam, ini di kantor dan tadi pagi kamu
juga sudah melakukannya,” ucap Emil yang tidak habis pikir dengan gairah
suaminya kenapa pria itu seakan tidak pernah puas melakukan hal intim tersebut. Begitu pikirnya.
“Tenang saja tidak akan ada yang menganggu,” ucap Lee dengan
iseng. Ia hanya sedang menggoda istrinya saja, entah mengapa melihat wajah menggemaskan istrinya seperti sekarang itu membuatnya semangat melanjutkan pekerjaan yang begitu banyak.
“Aku tidak mau,” ucap Emil sembari mengerucutkan bibirnya lucu. Lee yang tidak tahan langsung mengacak-acak rambut istrinya tersayang itu.
“Kau mengemaskan sekali.”
“Berhentilah menggoda aku, sayang dan lekaslah selesaikan pekerjaan kamu sebentar lagi kamu ada meeting,” ucap Emil mengingatkan
suaminya.
“Iya, cerewet.” Lee memeluk istrinya kemudian mengecup puncak kepala istrinya itu dengan sayang.
“Semangat, Sayangku,” ucap Emil setelah suaminya berbalik arah hendak melangkah menuju meja kerjanya lagi.
Lee langsung berbalik menatap Emil kembali sembari berkata, “Apakah kamu sedang mecoba untuk menggodaku?” tanya Lee iseng.
“Tidak,” sahut Emil yang langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
“Dia benar-benar imut sekali,” batin Lee.
Dua jam kemudian.
“Sayang, ayo aku antar kamu ke ruangan, Park saja dari pada kamu di sini sendirian,” ucap Lee sembari berdiri di hadapan istrinya.
Dia tampan sekali, “Ya,” sahut Emil kemudian.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Lee yang sejak dari tadi di lirik oleh istirnya. Lee memang melangkah dengan tatapan lurus
kedepan namun dia sesekali melirik istrinya.
__ADS_1
“Tidak, pa-pa,” bohong Emil. Mana mungkin ia mengatakan jika
suaminya itu tampan nanti pria itu bisa besar kepala dan malah menggodanya lagi.