
Emil memberikan sikutan tepat di dada bidang pria itu dengan sedikit keras sampai Lee menjauhkan tangannya dari tubuh istrinya. Lee mengusap dadanya yang terasa nyeri dengan buku\-buku tangannya perlahan supaya rasa nyeri itu perlahan mulai hilang.
Emil menarik salah satu senyumannya puas karena bisa membalas pria itu, pria yang selalu saja mengancam dirinya setiap waktu.
"Awas kalau kau berani bicara dengan Mama," ancam Emil dengan menunjuk salah satu jarinya pada Lee.
Mengengam tangan Emilia sedikit keras, "Lalu kau mau apa? Mau aku tendang dari rumah ini biar kau tidur di jalanan."
"Sudah aku tidak mau berdebat dengan mu," Emil yang sudah kalah telak saat dia bicara dengan Lee segera menyerah.
Lee merasa puas karena Emil mau mengalah juga jika di ancam akan di adukan pada kedua orangtuanya, pria itu tak menyangka jika Emil sama persis dengan Park. Manja dan juga paling takut jika di marahi oleh orangtuanya itu semakin membuat Lee merasa nyaman pada Emil.
Wanita itu menaruh dua guling sebagai pembatas merek berdua agar tidak tidur dengan jarak yang dekat, Lee hanya diam dengan menatap istrinya yang masih sibuk memberikan jarak di antara mereka. Emil tersenyum puas saat dia selesai melakukan yang dia inginkan wanita itu tidur dengan membelakangi suaminya dia tidak akan bisa tidur jika dilihat terus oleh orang lain seperti itu walaupun lampu kamar itu telah padam tapi tetap saja masih terlihat remang\-remang dari cahaya lampu yang berada di luar kamar menerobos masuk ke dalam.
Lee membiarkan apa yang di lakukan oleh istri kecilnya dia sudah terlalu lelah lebih lagi besok pria itu harus kembali berkerja. Emil tertidur dengan pulas. Lee tidur dan tanpa sadar pria itu mengambil satu guling yang Emil buat pembatas ranjang karena Lee memang kesulitan tidur jika tidak mendekap guling kesayangannya. Sedangkan Emil juga sama melakukan apa yang Lee lakukan tadi.
Pagi hari suara burung mulai berkicau di luar rumah dan mereka terbang kesana\-kemari dengan begitu bebas, Emil mulai membuka matanya dan alangkah terkejutnya dia saat mengetahui jika dia tidur di dalam dekapan suaminya dan yang lebih membuat gadis itu merasa jengkel dia sendiri yang memeluk tubuh pria itu. Lee membuka matanya dan menatap ke arah tangan Emil yang masih melingkar di pinggangnya.
"Kau mencari\-cari kesempatan saat aku tertidur ya," ledek Lee dengan wajah datar melihat ke arah Emil yang langsung menjauhkan tangan dari tubuh suaminya.
__ADS_1
"Jangan berlebihan, aku kira kau guling jadi aku tanpa sengaja memelukmu," gerutu Emil dengan mendudukkan tubuhnya perlahan di ranjang.
"Buatkan aku kopi," ucap Lee ketika dia sudah berdiri dari ranjang dan hendak melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Kau pikir aku pelayan, kau suruh saja pelayan rumah ini yang melayanimu, Kak Lee." Wanita itu bicara dengan hendak menutup kembali tubuhnya dengan selimut karena pagi hari itu hawa terasa sangat dingin hingga Emil ingin bermalas\-malasan di atas ranjang.
Lee menghentikan langkahnya dan kembali mendekati tempat tidur, pria itu membuang selimut yang menutupi tubuh istri kecilnya ke sembarang arah. Selimut tak bersalah itu teronggok begitu saja di lantai. Lee mendudukkan tubuhnya di samping Emil dan mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri.
"Kau istriku, jadi lakukan apa yang ku perintah atau kau tanggung sendiri akhibat ya!" ancam Lee dengan meniup pelan telinga istrinya.
*Ternyata enak juga punya istri aku bisa ada yang nemenin tidak seperti biasanya hidupku datar dan begitu membosankan tapi semenjak aku bertemu dengan wanita itu hidupku terasa lebih menyenangkan*. Gumam Lee dalam hati dengan mesum ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya di pagi hari.
"Dia itu selalu saja menganggu hidupku semenjak aku bertemu dengannya hidupku berubah. Aku sudah menikah dan gagal semua bayangan indah untuk menjadi istri dari orang yang aku cintai ya walaupun aku belum mendapatkan pria itu," Emil berbicara sendiri dengan menuruni anak tangga rumahnya.
__ADS_1
Narra sejak tadi melihat anaknya itu berbicara sendiri langsung menghampirinya saat Emil sudah berada di bawah anak tangga terakhir. Jim sedang lari pagi di halaman rumah karena udara di pagi hari sangat sejuk dan tidak sedingin biasanya. Lee turun dari tangga sudah mengenakan baju santai untuk lari di pagi hari pria itu berlari kecil dan menuju halaman rumah. Dia melihat Jim sudah lebih dulu di sana Lee berlari sedikit cepat menghampirinya.
"Om, eh Pa maksudku, ku kira masih tidur," sapa Lee dengan berlari kecil di samping Jim dan berkeliling halaman rumah yang cukup besar itu.
"Lee, Papa sudah biasa lari pagi biasanya Emil juga ikut lari pagi setelah dia selesai membantu Mamanya menyiapkan sarapan di dapur," sahut Jim apa adanya.
Tak ku sangka wanita manja itu juga jago masak,. "Pa apakah masakannya enak?" tanya Lee mencoba mencari informasi tentang istrinya.
Jim menceritakan semuanya pada Lee saat Emil mulai belajar masak dan Jim juga memberitahukan jika Emil sangat suka menyanyi dan memiliki suara yang sangat merdu bahkan Jim juga menyebutkan nama Alan di dalam perbincangan mereka.
Ya di sekolah Alan dan juga Emil sering sekali berduet di atas panggung bahkan mereka di juluki pasangan serasi karena suara mereka jika di satukan bisa membuat banyak orang terkagum\-kagum bahkan Emil dan juga Alan pernah menang juara pertama di sekolah mereka saat lomba awal tahun yang lalu. Lee semakin kesal saat mendengarkan nama Alan di sebut namun pria itu hanya diam agar Jim tak mengetahui isi hatinya.
Jim mengajak Lee duduk di teras rumah yang ada kursi panjang tersebut dari kayu berwarna coklat, sepertinya Jim hendak mengatakan hal yang serius pada menantunya itu. Lee mengikutinya tanpa bertanya.
"Nak bisakah kau jaga Emil untuk ku, kau tau sendiri kan dia anak yang aku sayangi selama ini jadi sangat wajar jika Emil begitu manja dan mungkin dia mulai merepotkan mu saat ini. Tapi asal kamu ketahui Emil tipe wanita yang akan memendam semua yang dia rasakan sendirian walaupun dia merasa tersakiti," Jim bicara dengan menatap taman bunga kecil yang ada di teras rumah itu.
"Pa, kau sudah menjagaku dengan Mama sejak aku masih kecil dan percayalah padaku jika aku juga akan menjaganya dengan sepenuh hatiku," Lee bicara dengan menjabat tangan Jim seakan itu sebuah janji yang harus di tepati.
__ADS_1
.