
Emil baru saja selesai memasak, ia masuk kedalam kamarnya dan melihat suaminya itu masih tertidur dengan begitu pulas. Tentu saja Lee
merasa sangat lelah sekali karena semalam setelah Emil tidur dia kembali melanjutkan pekerjaanya yang belum selesai. Lee memang selalu memprioritaskan istrinya lebih dulu walaupun ia sangat sibuk, tapi sebisa mungkin ia mengesampingkan
pekerjaanya seperti semalam ia lebih memilih membacakan novel untuk istrinya padahal waktu itu pekerjaan Lee sangat banyak sekali.
“Sayang, sudah pagi ayo bangun kita sarapan bersama,” ucap Emil sembari mengusap pelan pipi suaminya kemudian mengecup jidat, kedua pipi dan terakhir bibir suaminya pelan.
Lee membuka mata setelah melihat sikap hangat dan juga penyayang Emil ketika membangunkannya itu, tapi Emil mungkin tidak menyangka
jika sikapnya tersebut malah membangunkan sang junior yang tadi masih tertidur lelap.
“Kamu membuat aku lapar, Sayang,” ucap Lee dengan mengucek
kedua matanya.
“Kamu mandi dulu, kemudian kita makan bersama,” ucap Emil polos.
Ia masih belum tahu apa yang suaminya itu maksud barusan.
“Aku ingin makan kamu.” Setelah bicara Lee langsung meraih
pinggang istrinya itu kemudian menjatuhkannya ke atas ranjang.
“Sayang, apa yang kamu lakukan?” tanya Emil terkejut dengan
sikap spontan suaminya itu.
“Kamu harus memberikan aku jatah, karena nanti siang aku akan kembali bekerja,” ucap Lee. Kini ia sudah berada di atas tubuh istrinya itu. Perasaan kantuk yang tadi mengelayuti matanya langsung berlarian dari tubuhnya bahkan sekujur tubuhnya yang terasa lelah juga kini mulai terlihat segar hingga semua otot-otot didalam tubuhnya itu siapa bertempur di pagi yang hangat ini.
__ADS_1
Emil hendak menolak keinginan suaminya namun lelaki itu sudah menyatuhkan kedua bibir mereka, benda kenyal itu menempel di bibir Emil dan membuat suaranya tidak bisa keluar, Lee mulai mengajak lidahnya untuk mengabsen deretan gigi istrinya yang rata dengan gerakan perlahan, niat Awal Emil untuk menolak apa yang suaminya itu lakukan seketika menguap begitu saja, ia bahkan kini menikmati apa yang lelaki itu lakukan. Lee mulai menelusuri leher jenjang istirnya sesekali ia memberikan kecupan singkat di sana namun tidak membekas sebab ia tidak ingin sang istri malu jika sampai di lihat oleh
orang lain ada bekas kemerahan di lehernya.
Emil merasakan tubuhnya semakin gerah, ia mengigit bibir bagian bawahnya itu agar tidak mengeluarkan *******. Lee membuka baju sang istri yang menurutnya sudah sangat menggangu itu, ia segera memainkan benda kenyal yang ada dihadapannya tersebut dengan gerakan pelan. Emil yang semula masih bisa menahan desahannya kini mulai tidak bisa, terdengar suara ******* yang semakin membuat Lee sangat bergairah untuk memberikan lebih pada istrinya itu.
Adegan Nisa Skip … kalian bisa membayangkannya sendiri ....
_ _ _
“Kak Lee, apakah Emil tidak di ajak ke kantor sekalian?” tanya Park.
Menatap kearah istrinya, “Apakah kamu mau ikut ke kantor?” tanya Lee pada sang istri yang masih sibuk mengunyah makanan di mulutnya itu.
“Tidak, aku akan di rumah bersama, Mama dan juga Papa saja,” sahut Emil cepat. Ia takut menggangu suaminya bekerja, jika ia ikut berangkat ke kantor. Begitu pikirnya.
“Jika kamu mau ikut ke kantor tidak masalah, kamu juga sudah lama tidak ke sana,” ucap Jhong pada anak menantunya itu.
menemaninya bekerja,” ucap Una kemudian.
Emil menatap kearah suaminya lagi setelah mendengarkan perkataan kedua mertuanya itu, “Apakah benar aku tidak menggangu kamu nanti?”
tanya Emil.
“Justru aku sangat senang jika kamu selalu berada di sampingku,” jawab Lee dengan senyuman manis.
“Baiklah aku akan ikut ke kantor,” sahut Emil kemudian.
Emil kini sudah menganti bajunya dengan baju yang lebih layak untuk di pakai ke kantor, Lee, Park dan juga Emil langsung masuk kedalam
__ADS_1
mobil setelah berpamitan dengan Jhong dan juga Una.
Selama di dalam mobil, Park dan juga Emil heboh sendiri mereka berdua duduk di belakang sedangkan Lee sibuk mengemudi dengan wajah cemberut. Bagaimana mungkin istri dan juga adiknya itu memperlakukan dirinya seperti supir begini, mereka bahkan seperti tidak menganggap keberadaan Lee sama sekali.
"Park, lihatlah pria ini tampan sekali. Dia adalah Lee Min Hop artis yang sangat aku sukai," ucap Emil sembari menunjuk foto artis yang sangat ia sukai itu di layar ponselnya.
"Dia sangat tampan sekali, bagaimana jika kamu minta pada, Papa dan juga Mama hadir di acara resepsi pernikahan kamu," imbuh Park yang ternyata juga menggilai idola para kaum hawa itu.
"Sepertinya itu adalah ide yang bagus, aku akan memeluk, menciumnya." Emil selalu lepas kendali jika sudah membayangkan idolanya itu. Ia bahkan tidak menyadari jika sekarang Lee sedang menatap nyalang kearah mereka berdua dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.
"Berani sekali dia memuji ketampanan pria lain di hadapanku, apakah mereka berdua tidak tahu jika di dalam novel ini akulah Lee Min Hoo yang sedang mereka bicarakan itu," batin Lee merasa kesal. Ia begitu marah melihat istrinya membayangkan pria lain dan bukan dirinya.
"Emil, tutup mulut kamu, apakah kau tidak lihat wajah masam yang di tunjukkan oleh kakak ku itu," bisik Park yang baru menyadari air muka masam Lee.
Menatap kearah suaminya dengan menyengir kuda, "Park, aku hanya hanya bercanda saja tadi. Kami sih mengajar aku melihat artis idola kamu yang tidak setampan suamiku." Emil dengan sengaja mengatakan hal itu untuk meredam amarah suaminya.
Menujunya wajahnya yang malang sendiri sembarang berkata, "Kenapa kamu malah mengatakan hal itu," gerutu Park yang sudah tahu apa maksud dari kakak iparnya itu barusan.
Perdebatan diantara mereka berdua selesai setelah mobil Lee berhenti di depan perusahaan Back. Asisten Luwis sudah menunggu kedatangan majikannya itu di depan halaman perusahaan, ia segera mengambil kunci mobil yang Lee lembar kearahnya. Kunci itu berhasil mendarat sempurna di genggaman tangannya.
"Sayang, aku mau," ucap Emil. Ia melihat kearah perusahaan semua orang sedang menatapnya dari dalam sana. Entah mengapa hal itu membuat Emil gugup sekali sama seperti saat ia di sorot banyak kamera waktu itu.
"Ada aku dan juga, Park tidak akan ada orang yang berani menyakiti kamu," ucap Lee sembari menggengam tangan istrinya itu.
"Emil, ayo kita masuk," ajak Park dengan tersenyum.
"Baiklah," sahut Emil kemudian dengan kepala yang tertunduk.
Semua orang membungkukkan tubuhnya saat melihat CEO Lee masuk melalui pintu utama perusahaan ini. Emil masih menundukkan kepalanya namun matanya melirik ke sekitar.
__ADS_1
Ia masih ingat jika dulu ia tidak di kenal oleh banyak orang waktu pertama kali mengunjungi perusahaan ini. Tapi sekarang semua orang akan mengenalnya sebagai istri dari pria hebat yang kini sedang mengandeng tangannya.