Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Mengerjai Suaminya


__ADS_3

Manik mata Emil langsung berkaca-kaca setelah ia melihat


kedua orang yang sangat ia sayangi itu sedang melambaikan tangan padanya, siapa lagi jika bukan Jim dan juga Narra-kedua orangtuanya. Emil dengan cepat langsung menarik tangannya dari genggaman suaminya dan berlari menghampiri wanita yang sangat ia sayangi itu. Kedua orangtuanya tersenyum hangat menyambut kedatangan Emil di negara ini lagi.


“Mama, Emil sangat rindu sekali,” ucap Emil dengan manja sekali, ia memeluk wanita yang telah melahirkannya itu erat untuk meluapkan kerinduannya.


“Mama, juga sangat merindukan kamu, Sayang,” sahut Narra balik sembari melepaskan pelukannya kemudian ia mendapatkan kecupan hangat di kening dan juga kedua pipi anak semata wayangnya itu.


“Jhong, aku senang sekali melihat kamu sehat seperti ini,” ucap Jim yang langsung memeluk Jhong dengan perasaan bahagia. Kondisi Jhong semenjak keluar dari rumah sakit semakin membaik walaupun masih harus melakukan kontrol ke rumah sakit satu bulan sekali.


“Tentu saja aku harus sembuh, karena aku ingin melihat cucu kita terlahir ke dunia ini,” ucap Jhong.


Jim yang mendengarkan hal itu langsung melepaskan pelukannya


sembari berkata, “Apakah, Putriku sedang hamil?” tanya Jim dengan perasaan bahagia hingga membuat senyuman tidak luntur dari bibirnya. Bayangan seorang bayi langsung bergentayangan liar didalam pikirannya.


“Tanyakan pada, Putraku itu kenapa dia masih belum juga bisa membuat kita menjadi, Kakek,” ucap Jhong sembari melirik Lee yang kini sudah


berdiri di dekatnya.


Kebahagiaan yang Jim rasakan langsung menguap begitu saja bagikan serpihan debu yang di bawa angin lewat, “Dasar kamu ini, aku kira kau bicara sungguhan hingga


membuatku bahagia,” gerutu Jim dengan wajah kecewa.


“Tenang saja calon cucu kalian masih aku produksi,” sahut Lee dengan santainya.


Una dan juga Park yang mendengarkan jawaban santai dari Lee langsung mengelengkan kepalanya hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Entah mengapa Lee seakan kehilangan urat malunya setelah menikah dengan Emil. Tapi walaupun begitu mereka sangat senang sekali melihat perubahan Lee yang


sekarang sudah bisa di ajak bercanda.


“Una, apa kabar?” tanya Narra yang kini langsung memeluknya.


“Kabar ku baik sekali,” sahutnya mantap sembari melepaskan


pelukannya.

__ADS_1


“Park, sepertinya kamu sangat bahagia sekali, ya,” ucapnya


kemudian. Ia bisa menebaknya dari ekspresi gadis itu yang terlihat sumringah sejak awal ia melihatnya.


“Tante Narra, sudah tahu ternyata,” jawab Park dengan ekspresi malu-malu. Bagaimana ia tidak merasa bahagia jika sekarang dirinya sudah ada satu negara dengan kekasih yang sangat ia rindukan.


“Apakah, Alan tahu jika kamu akan datang hari ini?” tanya Narra lagi.


“Tidak, Tante, Karena Park akan datang ke kantornya besok untuk memberikan ia kejutan,” sambung Park dengan tersenyum. Ia tidak


membayangkan bagaimana ekspresi kekasihnya itu jika mengetahui ia datang ke negara B. Karena semenjak mereka menjadi sepasang kekasih Park tidak pernah datang mengunjungi Alan di kantornya namun kedua orangtua Alan sudah merestui hubungan mereka berdua sejak lama.


Semua pengawal langsung membungkukkan tubuhnya hormat ketika melihat kedua keluarga besar itu hendak lewat di hadapan mereka. Semua orang yang kebetulan ada di bandara tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, mereka


mengambil foto selfie dengan menunjukkan Permandangan kedua keluarga besar itu, karena hal langka seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Begitu pikir mereka.


_ _ _


Semua pelayan sudah berjejer rapi di depan halaman rumah keluarga Jim, Mereka semua langsung membungkukkan tubuhnya saat semua orang sudah turun dari dalam mobil. Setelah semua majikan masuk kedalam rumah para pengawal


memberitahukan para pengawal untuk membawa koper-koper tersebut di ruangan yang telah ia sediakan.


“Apakah kalian ingin beristirahat?” tanya Narra pada semua orang yang baru datang.


“Kami sudah beristirahat di dalam pesawat,” sahut Una dan yang lainnya menggangukkan kepala mereka setuju dengan apa yang ia katakan


barusan.


“Kalau begitu kita duduk ruang tengah saja,” ucap Narra kemudian.


“Ya, kami setuju.”


Semua orang sudah duduk di posisi mereka masing-masing. Manik mata Emil menyapu sekitar rumahnya, rasanya ia sudah lama sekali tidak datang ke rumah ini semenjak resmi menjadi istri. Ia begitu merindukan suasana di mana dulu ia dibesarkan, Narra yang mengetahui isi hati putrinya langsung menggenggam


tangannya sembari berkata.


“Sayang, semua tidak pernah berubah. Semua yang ada di dalam

__ADS_1


rumah ini masih sama seperti dulu, waktu kamu masih menjadi putri kami,” jelas Narra dengan mengedarkan pandangan ke sekitar nya.


“Emil, tahu itu karena sudah melihatnya secara langsung,” jawab Emil sembari memeluk tubuh wanita yang baru melahirkannya itu.


“Lee, besok kamu dan juga Emil harus melakukan fitting baju pengantin di butik yang sudah kami sediakan,” ucap Jim sembari menatap kearah


anak menantunya itu.


“Iya, Pa. Kalian atur saja semuanya Lee dan juga Emil akan menuruti apapun perintah kalian,” sahut Lee.


“Park, besok kamu harus ikut dengan kami semua,” ajak Emil. Ia sudah tahu jika adik iparnya itu besok akan menemui kekasihnya. Tapi entah


mengapa ia ingin sekali jika Park besok ikut dengannya selain menjadi adik ipar, Park juga adalah teman baiknya.


“Baiklah,” sahut Park kemudian. Park ingin sekali menolak ajakan kakak iparnya itu. Tapi ketika melihat wajah memohon yang Emil tunjukkan ia merasa tidak tega untuk menolak keinginannya.


“Terima kasih, Park. Setelah menemani aku fitting baju pengantin, kamu boleh pergi menemui kekasih kamu itu. Aku tahu kamu pasti sangat merindukannya juga,” ucap Emil kemudian.


“Iya,” jawab Park setuju.


Setelah berbincang-bincang mereka semua memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing setelah melakukan makan malam terlebih dahulu tentunya. Waktu berjalan lebih cepat dari biasanya ketika kedua keluarga itu sibuk melepaskan kerinduan mereka karena sudah lama tidak bertemu. Suasana


rumah Jim yang biasanya terlihat sepi langsung ramai semenjak keluarga Back datang dan hal itu membuat Narra dan juga Jim bahagia sekali.


_ _ _


Emil baru saja keluar dari kamar mandi setelah ia berganti baju tidur, Lee melihatnya dengan tersenyum mesum. Emil yang mengetahui pikiran suaminya itu langsung menyemburkan kata-kata pedas yang kira-kira tingkat kepedasannya melebihi cabe rawit.


“Sayang, tidak ada jatah untuk malam hari ini karena aku sedang halangan,” ucap Emil kemudian. Ia mendudukkan tubuhnya di samping suaminya dengan tersenyum puas.


Meraih guling di sampingnya kemudian ia gigit karena merasa


sedih setelah mendengarkan perkataan istrinya itu, “Sayang, apakah kamu bercanda?” tanya Lee dengan air muka lucu sekali menurut Emil.


Menatap kearah suaminya sembari berkata, “Tentu saja, aku bercanda,” berbicara dengan air muka puas karena ia telah mengerjai suaminya


itu. “Hahahah,” kemudian tawa Emil langsung pecah seketika ia tidak bisa menahan tawanya itu lebih lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2