
Setelah Alan pergi, Lotie dan juga Banu tersenyum miring senyuman itu secara tidak langsung menunjukkan kalau mereka akan memenangkan
pertengkaran ini, sedangkan Emil hanya santai saja masih menaruh kedua tangannya di dada dengan wajah datar. Park yang melihat akan hal itu segera melangkah mendekati, Emil sebab ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kakak iparnya tersebut baru saja Park berjalan beberapa langkah hendak menghampiri
Emilia namun Alan segera menggenggam lengan tangannya lembut.
“Biarkan saja, mereka tidak akan bisa menyentuhnya,” ucap Alan dengan wajah terlihat penuh percaya diri dengan apa yang ia katakan barusan.
“Mana mungkin bisa menang, satu lawan dua orang.” Park tidak
percaya dengan kata-kata yang Alan katakan barusan sebab ia tahu betapa licik dan juga jahatnya kedua teman Helena tersebut.
“Jika kau salah berbicara, kau bisa mencium ku,” sahut Alan dengan iseng.
Semburat merah terlihat di kedua pipi, Park saat ia mendengarkan Alan mengatakan hal itu, Alan memang pintar sekali membolak-balikkan hatinya yang tadi gelisah kini menjadi kasmaran karena salah tingkah.
“Sekarang, Alan sudah pergi dan kalian bisa menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.” Emil membuyarkan lipatan tangan di kedua dadanya dengan tatapan sendu seolah menunjukkan jika ekspresi kedua musuhnya itu tidak membuatnya gentar walaupun sedikit saja.
“Kedua orangtua, Helena menyuruhnya untuk pindah ke kampus lain. Kami tahu semua itu karena ulah kamu.” Lotie hendak mendorong Emilia, tapi sebelum itu terjadi tangannya sudah di genggam erat oleh Emil.
Semua orang yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya, mereka semua tentu saja tidak mau lewatkan pertunjukan gratis yang sedang di mainkan oleh ketiga wanita ini.
“Lepaskan tangan sahabatku,” pinta Banu histeris.
Menghempaskan kasar tangan Lotie hingga gadis itu meringis kesakitan, “Kau sedang mengigau, teman kamu sendiri yang sudah berani lancang
hendak memegang aku.” Emil tersenyum miring dengan ekspresi wajah yang terlihat menakutkan sekali bagi, Banu dan juga Lotie.
“Ayo kita pergi saja,” ucap Banu sembari menarik tangan sahabatnya menjauh. Kedua orang itu tidak akan pernah menang melawan Emil jadi
mereka memilih untuk mengalah saja dari pada malu. Mereka berdua berasal dari keluarga sederhana akan menjadi masalah serius kalau keduanya berani menyingung Emil yang notabennya berdarah bangsawan di negara B.
“Hahaha, pergi saja sana ke planet mars agar aku tidak melihat tampang kekalahan kalian lagi di muka bumi ini.” Emil berteriak kencang sembari melambaikan tangan kearah musuhnya yang kini melangkah cepat menjauhinya.
“Lihatlah, dia begitu manis sekali. Sikapnya yang tenang saat menghadapi orang yang membencinya itu membuatku terpesona,” ucap beberapa
pria yang sedang memberikan tatapan memuja pada Emil.
__ADS_1
“Kau lihat itu,” melirik kearah Park. “Emil bukan gadis yang lemah, dia selalu tenang menghadapi musuh, tapi di dalam ketenangan itu ia
sedang menyusun siasat untuk mengalahkan lawannya.” Alan menatap Emilia.
“Kamu benar sekali, kakakku beruntung sekali karena memiliki
istri sepertinya.” Park langsung membulatkan kedua matanya dengan sempurna ketika ia menyadari apa yang baru saja ia bicarakan.
“Lihatlah ia berjalan kemari.” Alan berpura-pura tidak mendengarkan apa yang barusan Park katakan dan ia mencoba untuk mengalihkan perhatian temannya itu.
“Untung saja dia tidak mendengarkannya,” batin Park dengan menghela nafas lega.
Emil menceritakan pada Park dan juga Alan kalau Helena pindah dari kampus ini, Emil merasa bersalah sekali namun kedua sahabatnya itu
mengatakan jika ia tidak bersalah sama sekali justru Helena lah yang bersalah dan mendapatkan buah hasil kejahatannya itu. Dan Emil juga baru sadar jika ini yang di maksud oleh suaminya saat di dalam mobil tadi-musuh yang di maksud oleh Lee
adalah Helena.
_ _ _
“Aku sudah di jemput, lebih baik kamu pergi bersama dengan Park saja.”
“Baiklah jika begitu,” sahut Alan. Entah mengapa ia mulai betah berada di samping Park karena gadis itu sangat mudah sekali ia ajak bicara.
“Tidak, aku akan di jemput oleh supir,” sahut Park.
Menaruh tangannya di bahu, “Pulang bersama denganku saja. Tapi kamu harus mau menemani aku ke mall lebih dahulu karena aku akan membeli sesuatu,” ucap Alan.
“Baiklah jika begitu.” Park masuk kedalam mobil Alan.
“Apakah tidak masalah jika kami meninggalkan kamu sendirian
di sini?” tanya Park dari dalam mobil.
“Aku bukan anak kecil, yang harus kamu khawatirkan.” Emil mengerucutkan bibirnya berpura-pura tersinggung dengan ucapan Park barusan.
“Baiklah jika seperti itu.”
__ADS_1
30 menit kemudian.
Emil mencoba menghubungi suaminya, sebab pria itu masih
belum datang juga untuk menjemputnya padahal dia sendiri tadi yang meminta Emil untuk menunggunya sepulang dari kampus. Emil mencoba untuk menghubungi nomor ponsel suaminya beberapa kali, tapi masih juga tidak ada jawaban mungkin saja pria itu terlalu sibuk sampai melupakan janjinya kalau ia akan menjemputnya.
Kampus ini terlihat sepi karena para penghuninya sudah pulang, hanya tertinggal penjaga keamanan saja. Emilia mulai melangkah keluar
dari gerbang utama, ia melihat ada penjual es krim di pinggir jalan, segeralah ia menyebrang ketika kendaraan sepi. Emil merasa haus sekali sehingga ia memutuskan untuk membeli as krim itu lebih dahulu sebelum memesan taksi online.
Emilia tidak sadar jika ada seseorang yang sedang menatapnya dengan tajam dari dalam mobil. Orang tersebut adalah musuhnya-helena. Gadis itu sudah menunggunya sejak dari tadi, ia sabar menunggu sampai akhirnya Emilia keluar juga dari gerbang kampus itu. Semesta sedang berpihak padanya mungkin saja, Tuhan mendukungnya untuk balas dendam.
“Kau sudah menghancurkan reputasi ku di kampus yang sudah lama
aku impi-impikan, kau bahkan membuat kedua orangtuaku menghukum ku sehingga mereka
melarang aku untuk melanjutkan kuliah di kampus ini. Orang seperti kamu lebih pantas pergi ke neraka.” Usai bicara Helena langsung menghidupkan mesin mobilnya, ia menancap gas dengan kecepatan menggila.
Hati wanita itu sudah di buta kan dengan perasaan iri dan juga dengki ia tidak berpikir apa akhibat dari perbuatannya tersebut, yang ada di dalam hatinya sekarang hanyalah melenyapkannya wanita yang sedang melangkah di tengah jalan raya ini.
“Nona awas ada mobil,” teriak seorang satpam yang hendak
menutup gerbang kampus ini.
Emilia menoleh ke sisi kanan jalan, ia melihat sebuah mobil berwarna pink melaju kearahnya dengan kecepatan penuh, emil hendak berlari tapi semua sudah terlambat setelah mobil itu menabraknya.
“Cepat catat plat mobilnya!” perintah seorang pengawal. setelah ia melihat mobil yang dengan sengaja menabrak Emilia melaju dengan kecepatan penuh meninggalkan tempat kejadian.
Di dalam mobil, Helena tidak hentinya tertawa puas melihat tubuh mungil musuhnya terkapar di jalanan dengan bersimbah darah. Senyuman secerah mentari itu menunjukkan jika ia tidak menyesal sedikitpun melakukan hal keji ini.
“Nona, Apakah kamu tidak papa?” tanya seorang pria sembari menepuk pelan pipi Emil yang sudah tergeletak dengan bersimbah darah di bagian
kepalanya.
Emil menatap pria itu dengan pandangan lamat-lamat tanpa
bisa mengerakkan bibirnya untuk bicara, ia mengarahkan tangannya untuk memegangi kepala, darah segar terlihat mengalir tanpa henti sampai membasahi tangannya. selang beberapa waktu kemudian ia mulai kehilangan kesadaran.
__ADS_1