
Lee begitu muda bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran gadis itu karena Emil menggerutu dalam hati dengan bibir komat Kamit tanpa suara, bahkan Park sampai menahan tawa dari bibirnya saat melihat Emil baca mantra kutukan dalam hatinya dengan bibir mengerucut.
Emil hanya diam dengan masuk ke dalam mobil dia lebih memilih mengalah dari pada kehilangan lidahnya saat berhadapan dengan pria dewasa yang bisa kapan saja menelannya hidup\-hidup.
Mobil yang di kemudian oleh Lee sudah sampai di depan halaman rumah Emil, seorang pelayan paruh baya langsung menghampiri Nona mudanya itu setelah mendengar bunyi mobil berhenti di depan halaman rumah. Pelayan yang sedang memakai baju berwarna hitam lengkap dengan apron yang selalu menempel di lehernya.
Wanita itu mengucapkan jika kedua orang tua Emil sedang berada di Seoul dan mereka menyuruh Emil, Park dan juga Lee besok pagi segera terbang ke kota itu. Saat Emil bertanya apa yang sedang terjadi namun pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya pelan seolah dia sedang bicara jika dia tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Lee terus melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah mewah tersebut sedangkan para pelayan wanita yang kira\-kira usianya sama dengan Lee tak hentinya menatap ke arah pria tersebut dengan wajah terkagum\-kagum dengan ketampanan dan juga bentuk tubuh Lee yang sangat kekar. Namun Lee tak sedikitpun memperhatikan mereka.
"Park apa yang sedang terjadi kenapa kita di suruh datang ke sana besok?" tanya Emil dengan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumahnya.
"Entahlah Kak," sahut Park dengan menarik kedua pundaknya secara bersamaan.
Park mulai memangil Emil dengan sebutan Kakak karena kurang sebentar lagi sahabatnya itu akan menjadi kakak' iparnya juga setelah menikah dengan Lee yang merupakan Kakak kandungnya. Awalnya Emil sangat tidak menyukai dengan panggilan tersebut karena usia mereka sama hanya selisih beberapa bulan saja , namun Park meyakinkannya jika hal itu harus terjadi jika tidak begitu maka kedua orangtuanya akan marah kalau sampai Park tidak memangilnya dengan sebutan Kakak.
Saat sampai di kamar Emilia, Park segera menaruh satu paper bag yang berwarna navy ke dalam koper yang berwarna hitam dan kemudian menutupnya dengan sangat rapat. Park tak ingin Emil melihat isi dari paper bag tersebut.
"Emil sebaiknya kau segera memasukkan bajumu ke dalam koper karena besok pagi kita akan berangkat ke Seoul." Gadis itu bicara dengan berjalan mendekati ranjang Emil yang berada di tengah ruangan tersebut.
Banyak boneka beberapa macam jenis seperti panda, monyet dan juga gajah yang ada di atas ranjang tersebut semakin menunjukkan jika penghuni kamar itu adalah seorang wanita feminim yang sangat menyukai sesuatu yang berhubungan dengan boneka kamar itu bahkan sama dengan kamar Park yang ada di Seoul sebab banyak boneka yang berada di atas ranjang dengan sprei berwarna biru laut semakin menambah tenang suasana tersebut.
__ADS_1
SEOUL\-KOREA.
Park dan juga Emil sudah berada di kota Seoul, Emil turun dari mobil dengan mengandeng tangan Park sedangkan Lee segera masuk ke dalam rumah sakit itu mendahului mereka.
Wajah Lee dan juga Park kelihatan khawatir bahkan Emilia juga bergandengan tangan dengan berlari pelan mengikuti langkah kaki Lee dari belakang. Setelah Lee sampai di depan pintu ruangan tersebut pria itu langsung membuka kasar pintu ruangan itu.
Lee melihat Jhong dan juga Una sedang memakai baju formal dan juga Jhong masih tetap berada di atas ranjang rumah sakit itu dengan memakai selang oksigen. Pria itu terlihat lebih sehat dari sebelumnya Una juga kelihatan cantik hari ini karena dirinya merias wajahnya dengan makeup sedikit lebih tebal dari biasanya.
"Papa mu baik\-baik saja, cepat ganti baju turxedo ini dan lekas kembali," ucap Una dengan menyodorkan turxedo yang dia pegang ke tangan Lee, dengan sigap wanita itu Langsung memegang turxedo tersebut.
"Ma, untuk apa ini?" tanya Lee dengan mengerutkan keningnya terheran\-heran karena tidak biasanya Una memilihkan baju apa yang akan putranya itu kenakan.
Emil masuk ke dalam ruangan tersebut dan dia melihat Lee baru saja masuk ke dalam kamar yang ada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Emil dan Park masuk ke dalam ruangan tersebut, Narra segera memberikan gaun pengantin yang di desain secara simpel pada putrinya. Gaun pengantin yang terlihat mewah namun juga tidak terlalu glamor dengan belahan dada sedang yang tidak terlalu menonjol gunung kembar orang yang memakainya.
Una dengan sepesial mendesainnya sendiri untuk calon menantunya bahkan selama proses pembuatan gaun tersebut langsung mendapatkan perhatian khusus dari ibu mertua bahkan permata yang ada di bagian dada baju pengantin itu adalah permata pilihan dan asli yang harganya pastilah tidak murah.
Lee sudah keluar dari kamar tersebut, Narra langsung membawa putrinya masuk ke dalam ruangan yang tadi sempat Lee masuki. Emil heran melihat Lee mengenakan baju formal seperti itu namun dirinya masih belum menyadari apa yang akan terjadi karena Mereka semua tak mengetahui jika pernikahan Emil dan juga Lee di percepat beberapa hari dari tanggal perjanjian mereka.
Di dalam ruangan.
Narra langsung meminta Emil untuk duduk di meja rias yang ada di dalam ruangan tersebut, Emil langsung berontak saat Naat mulai memoles wajahnya dengan makeup.
"Ma, apa yang terjadi kenapa kau memintaku untuk memakai baju pengantin, aku malas untuk mencobanya biarkan saja nanti waktu hati di mana aku akan menikah maka akan aku kenakan," cecar Emil dengan bibir mengerucut.
"Kau akan menikah hari ini."
BAGAIMANA KEHIDUPAN EMILIA SETELAH RESMI MENJADI SUAMI LEE?!.
__ADS_1